Ternyata kecintaan rakyat Iran terhadap Jenderal Soleimani begitu besarnya, meski sudah hampir sebulan setelah dimakamkan, masih banyak yang datang berziarah ke makamnya yang begitu sederhana.
Menurut Kantor Berita ABNA, insiden serangan udara drone Amerika Serikat pada 3 Januari 2020 dini hari yang menewaskan Komandan Korps Brigade Alquds Letnan Jenderal Qassem Soleimani menuai kecaman dunia internasional. Kecaman tidak hanya datang dari rakyat Iran, tapi juga dari banyak negara lainnya, yang melakukan aksi kecaman terhadap Amerika Serikat di depan kantor-kantor kedutaan Amerika Serikat, bahkan aksi mengecam Donald Trump sebagai pihak yang paling bertanggungjawab juga dilakukan di jantung Amerika Serikat sendiri.

Di samping aksi masyarakat internasional mengecam kejahatan terbaru Amerika Serikat tersebut, hal lain yang menjadi fenomenal dan sorotan dunia adalah prosesi pemakaman Syahid Qassem Soleimani yang melibatkan jutaan manusia. Di Kerman, di kota tempat perwira senior Iran tersebut dimakamkan, prosesi pemakaman harus merenggut nyawa 50 orang lebih warga yang berdesak-desakan karena ingin memberikan penghormatan terakhir kepada sang Jenderal.
Fenomena tidak biasa tersebut, tidak luput dari pengamatan Muslim Yudha, seorang warga Indonesia yang bermukim di Tehran. Akrab disapa Angku, ia saat ini berkerja di Mahan Air Imam Khomeini Hangar setelah pensiun dari Garuda Indonesia sebagai engineer. Dalam penyampaiannya pada kontributor ABNA, ia mengatakan, begitu tertarik dengan pemberitaan kematian Qassem Soleimani oleh serangan roket Amerika Serikat. Ia mengaku terus mengikuti berita proses pemakamannya sampai akhirnya dimakamkan di Pemakaman Syuhada Kerman pada Selasa (7/1).
"Kebetulan apartemen saya dekat dengan Azadi Square yang merupakan salah satu titik terpadat oleh lautan manusia saat menyambut peti jenasah Qassem Soleimani di Tehran. Melalui jendela Apartemen, saya melihat langsung orang-orang yang bersimpatik kepada Jenderal Iran itu, dan itu membuatku begitu terharu." Ceritanya.
Warga Indonesia kelahiran Padang 68 tahun silam lebih lanjut menambahkan, "Kebetulan istri saya juga saat itu berada di Tehran. Ia selalu menonton televisi dan selalu berita mengenai kematian Soleimani yang dia ikuti. Ternyata matanya jeli, ia menyebut saya dengan Jenderal Soleimani ada kesamaan, yaitu sama-sama memiliki jari tengah kanan yang bengkok. Saya jadi makin tertarik. Setelah menyaksikan prosesi pemakaman di Kerman melalui televisi saya langsung berniat untuk suatu waktu menziarahi makam Jenderal kharismatik ini."
Niat Muslim Yudha bersama istri menziarahi makam Almarhum Soleimani akhirnya tertunai Ahad (2/2) setelah 27 hari dari tanggal dimakamkan. Angku sengaja memilih tanggal 2 Februari 2020 karena menurutnya adalah angka yang manis, yang diharapnya kelak menjadi kenangan manis untuknya bersama istri. Melalui bantuan sahabatnya, Agha Reza warga Iran pensiunan tentara yang tinggal di Rafsanjan, Angku bersama istri diantar ke makam Jenderal Soleimani.
"Ternyata kecintaan rakyat Iran terhadap Jenderal Soleimani begitu besarnya, meski sudah hampir sebulan setelah dimakamkan, masih banyak yang datang berziarah ke makamnya yang begitu sederhana. Kepada setiap orang Iran yang saya tanya mengenai sosok Soleimani, mereka semua menjelaskan dengan menggebu-gebu, betapa layaknya sang Jenderal untuk dikagumi dan dicintai. Saya akhirnya bisa menyentuh batu nisan Jenderal Soleimani setelah bersusah payah sebelumnya." Jelas warga Minang asli dari suku Chaniago yang akrab dengan mahasiswa Indonesia di Tehran tersebut.
Muslim Yudha meski bermazhab Sunni namun bisa dikatakan ia warga Indonesia pertama yang menziarahi makam Syahid Qassem Soleimani di Kerman. Sejak kedatangannya ke Iran, ia tidak pernah mempersoalkan rakyat Iran mayoritas bermazhab Syiah, sebagaimana tidak ada warga Iran yang mempersoalkan mazhabnya yang Sunni. Diakhir ceritanya ia berharap kelak masuk surga bersama orang-orang yang bertakwa.
Disebutkan, dalam sebuah insiden penyerangan drone tanpa awak yang dikontrol militer AS, Komando Korps Brigade Alquds Syahid Qassem Soleimani, wakil ketua al-Hashd al-Shaabi Abu Mahdi al-Muhandis dan sejumlah pengawal gugur pada Jumat (3/1) di dekat Bandara Internasional Baghdad Irak. Serangan udara yang diakui sendiri oleh AS tersebut menuai kecaman internasional. Iran melalui Ayatullah Sayid Ali Khamanei berjanji untuk melakukan tindakan balas dan tidak membiarkan kejahatan terbaru AS tersebut dibiarkan begitu saja.
.....
178