Sayyid Mahdi Mirdamad:

Qom Penuh Berkah atas Kehadiran Sayyidah Ma'sumah

Hadhrat Ayatullah Bahjat, Hadhrat Ayatullah Mur'isyi Najafi dan ulama-ulama besar lainnya, selalu shalat awal waktu subuh dan bermunajat di sisi makam Sayyidah Ma'sumah. Adakah karamah yang lebih besar dari ini? Bahwa ulama-ulama besar menjadikan sisi makam beliau sebagai tempat terbaik untuk bermunajat. Jadi tidak ada ucapan lain selain menyebutkan bahwa itu semua adalah karamah yang Sayyidah Ma'sumah punyai.

Menurut Kantor Berita ABNA, Sayyid Mahdi Mirdamad salah seorang penyair terkenal Iran, berkenaan dengan hari peringatan syahadah Sayyidah Fatimah Ma'sumah Salamullah 'alaiha (sa) melakukan wawancara khusus dengan wartawan ABNA yang berkaitan dengan putri mulia Imam Musa al Kadzim dan saudari kandung Imam Ali ar Ridha as tersebut. Berikut petikan wawancaranya:

ABNA: Silahkan secara ringkas saudara memperkenalkan diri anda.

Sayyid Mahdi (SM): Bismillahirrrahmanirrahim. Sekitar 34 tahun yang lalu tepatnya 1357 HQ (1979 M) saya terlahir di kota Ahwaz provinsi Khuzastan. Dan selama kurang lebih 30 tahun saya menetap di kota Qom dan menjalani profesi sebagai madahi (pembaca syair, do'a dan kidung-kidung pujian) selama 15 tahun dalam acara-acara mengenang wiladah dan kesyahidan Ahlul Bait as. Dengan profesi ini saya jadi banyak berinteraksi dengan ulama-ulama besar dan asatid ternama di kota Qom seperti Manshur Ardhi dan Ali Insani. Bahkan sampai saat inipun saya banyak mengambil ilmu dari majelis-majelis mereka.

ABNA: Apa alasan Sayyidah Ma'sumah melakukan perjalanan dan akhirnya menetap di Qom?

Sesuai dengan periwayatan yang terkenal dan mu'tabar (diterima banyak kalangan), Sayyidah Ma'sumah (sa) dalam perjalanannya hendak menemui saudaranya Imam Ridha di Khurasan mengalami banyak kesulitan. Tidak sedikit dari saudara dan pencinta yang menyertai perjalanannya menderita sakit dan akhirnya meninggal dunia. Disebut tempat, dikawasan sekitar Qom, beliau bertanya kepada pengikut-pengikutnya, tempat apa yang paling dekat dari tempat ini. Mereka menjawab, Qom. Akhirnya beliau dan para kafilah akhirnya memasuki Qom. Sebagaimana disampaikan dalam riwayat dan hadits-hadits bahwa Qom mayoritas penduduknya adalah pecinta Ahlul Bait as, sebagaimana misalnya sabda Imam Shadiq as, Qom adalah kota kami para Ahlul Bait. Dengan alasan itu, Sayyidah Ma'sumah akhirnya memutuskan untuk mengunjungi kota Qom lebih dulu, untuk kemudian akan melanjutkan perjalanan menemui saudara kandung dan sekaligus imamnya.

ABNA: Bagaimana penyambutan masyarakat Qom dengan kedatangan perempuan mulia keturunan Nabi Saw ini?

Ketika masyarakat Qom mendapat kabar akan kedatangan Sayyidah Ma'sumah, para tokoh masyarakat dan pembesar beserta masyarakat Qom dari berbagai kalangan melakukan penyambutan yang luar biasa, mereka berjalan kaki sampai beberapa kilo meter keluar dari batas kota untuk menjemput Sayyidah Ma'sumah. Begitu Sayyidah Ma'sumah memasuki Qom, beliau disambut dengan penuh penghormatan. Diceritakan beliau disambut dengan lontaran bunga, sehingga Qom saat itu seperti sedang mengalami hujan bunga. Beliaupun diberi tempat yang paling baik di jantung Qom (yang kemudian bernama Bait al Nur). Beliau mendapat pelayanan terbaik dari pembesar Qom bernama Musa ibn Khazraj yang memberikan rumahnya untuk menjadi tempat istrahat bagi Sayyidah Ma'sumah. Dan di rumah itulah, beliau tinggal selama 17 hari.

Setiap buku-buku tarikh yang menuliskan biografi Sayyidah Ma'sumah tidak akan luput untuk menuliskan penyambutan penuh penghormatan dan suka cita masyarakat Qom atas kedatangan putri keturunan Nabi tersebut di kota Qom.

ABNA: Apa penyebab meninggalnya Sayyidah Ma'sumah sa?

Dalam catatan sejarah terdapat perbedaan pendapat. Ada yang menyatakan beliau wafat, ada yang menyebut beliau syahid. Dan keduanya adalah pendapat yang mu'tabar. Namun, yang paling rasional buat diterima adalah beliau mengalami kesyahidan. Sebab sulit diterima seorang perempuan muda dengan usia baru sekitar 28 tahun namun meninggal secara alamiah tanpa menderita sakit apapun sebelumnya. Almarhum Allamah Majlisi dalam kitabnya Bihar al Anwar dan juga Alarhum Allamah Jabal Amuli dalam kitabnya "Kehidupan Politik Imam Ridha as" mengisyaratkan tentang hal itu. Bahwa sebelum memasuki kota Qom beliau diracun dan hanya sekitar 17 tahun menetap di Qom beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir dan mengalami kesyahidan.

Namun lepas dari perdebatan apa beliau wafat atau syahid, beliau tetaplah memiliki maqam yang tinggi.

ABNA: Apakah Sayyidah Ma'sumah memiliki karamah yang khusus?

Sepanjang umur saya selama berada di kota ini, saya tidak melihat sesuatupun selain karamah, dan tidak mendengar apapun selain berkisar mengenai karamah yang beliau punyai. Hadhrat Ayatullah Bahjat, Hadhrat Ayatullah Mur'isyi Najafi dan ulama-ulama besar lainnya, selalu shalat awal waktu subuh dan bermunajat di sisi makam Sayyidah Ma'sumah. Adakah karamah yang lebih besar dari ini? Bahwa ulama-ulama besar menjadikan sisi makam beliau sebagai tempat terbaik untuk bermunajat. Jadi tidak ada ucapan lain selain menyebutkan bahwa itu semua adalah karamah yang Sayyidah Ma'sumah punyai.

ABNA: Bagaimana bentuk apresiasi Sayyidah Ma'sumah mengenai wilayah sebagaimana yang dikenal dalam dunia pemikiran Syiah?

Ahlul Bait, baik laki-laki maupun perempuan, baik dewasa maupun anak-anak, menunjukkan pembelaan dan dukungannya kepada wilayah. Sebagaimana misalnya yang terjadi di Karbala. Sayyidah Zainab sa berdiri sendiri tanpa gentar membela wilayah saudaranya. Saat itu, Sayyidah Zainab sa adalah pembawa panji-panji wilayah yang berkeliling ke negeri-negeri muslim untuk menyampaikan ketegasannya dalam membela wilayah.

Perjalanan Sayyidah Ma'sumah dibeberapa kota muslim juga dalam rangka menyampaikan hal yang serupa. Perjalanan beliau untuk menemui Imam Ridha bukan sekedar perjalanan biasa yang didorong oleh rasa kerinduan seorang adik perempuan terhadap kakak laki-lakinya, namun merupakan perjalanan politik. Dalam perjalanannya menuju Iran, berita sampai ke telinga khalifah Ma'mun, "Seorang perempuan dengan kafilahnya bergerak dari Madinah menuju Iran, dan disetiap kota yang dilaluinya, dia selalu menyampaikan khutbah." Karena alasan itu pula, Ma'mun menjadi khawatir dan akhirnya memerintahkan kepada kaki tangannya untuk menghabisi nyawa Sayyidah Ma'sumah dimanapun dia ditemui.

Jadi, perjalanan Sayyidah Ma'sumah bukan sekedar perjalanan yang dilatari kepentingan pribadi namun sebuah perjalanan politik yang menjadi titik acuan kebangkitan Imam Ridha as.

ABNA: Haram (makam) Sayyidah Ma'sumah sendiri apa keutamaannya?

Sejarah telah membuktikan. Perhatikan. Peristiwa tragedi pembantaian pelajar agama di Hauzah Faidziyah Qom atas perintah rezim Syah tanggal 15 Khurdad 1342 HQ (1963 M) merupakan akar dari kebangkitan Islam di Iran. Imam Khomeini setelah kemenangan revolusi, memilih Qom sebagai tempat tinggalnya. Tidak hanya itu, para ulama marja keagamaan yang dari Najaf juga berpindah ke Qom. Ulama besar seperti Ayatullah Hairi, Ayatullah Burujerdi dan lainnya menuju kota Qom dan lebih memilih untuk membesarkan hauzah ilmiyah di Qom. Pusat pendidikan Syiah yang sebelumnya berada di Najaf akhirnya beralih di kota Qom dengan kehadiran para ulama-ulama besar tersebut.

Intinya, kehadiran Sayyidah Ma'sumah di Qom ibarat tenda tempat orang-orang mendapat perlindungan, sehingga tidak heran jika semakin banyak yang berminat tinggal dan menetap di kota ini.

ABNA: Apakah Sayyidah Ma'sumah memiliki maqam syafaat (mampu memberikan syafaat)?

Seratus persen. Sewaktu maksumin sendiri mengharap syafaat dari beliau, tentu saja ini menunjukkan beliau memiliki maqam syafaat, bahkan meskipun pada hakikatnya Maksumin sendiri tidak membutuhkan syafaat. Namun maksud dari ucapan dan do'a Maksumin adalah hendak menyampaikan maqam dan derajat tinggi dari Sayyidah Ma'sumah yang juga memiliki maqam syafaat.

Dalam penggalan do'a ziarah Fatimah Ma'sumah tidak sedikit kalimat yang menunjukkan keutamaan dan ketinggian maqam beliau. Bahkan nama beliau Fatimah dan juga mendapat gelar 'Ma'sumah' dari saudaranya Imam Ridha as. Hal ini menunjukkan betapa dekatnya beliau pada kemaksuman sebagaimana yang dimiliki para Maksumin as.

Diceritakan, Muhammad Qomi pada suatu malam dalam mimpinya bertemu dengan Mirzai Qomi dan menanyakan apakah Sayyidah Ma'sumah mampu memberi syafaat buat penduduk Qom? Mirzai Qomi menjawab, beliau bahkan mampu memberi syafa'at melalui perantaraan ulama-ulama Qom. Yaitu dengan ketinggian maqam yang beliau miliki, Sayyidah Ma'sumah mampu pada hari kiamat nanti memberi syafa'at melalui para ulama.

ABNA: Apa ada keutamaan lain yang beliau miliki?

Ya. Dalam riwayat disebutkan, "Nabi Muhammad Saw haramnya berada di Madinah. Amirul Mukminin haramnya di Najaf, dan haramnya Ahlul Bait berada di Qom." Jadi misalnya, makam Imam Husain as berada di Karbala, namun Haram beliau berada di Qom. Ini adalah keutamaan lain dari Sayyidah Ma'sumah yang menunjukkan betapa tingginya maqam yang beliau miliki.

ABNA: Menurut anda, apa bedanya memanjatkan doa dan memanjatkan syair-syair pujian di Haram Sayyidah Ma'sumah dengan di tempat lain?

Tidak ada tempat yang lebih baik dari menyampaikan do'a selain di Haram manusia-manusia suci. Kita menyampaikan salam dan munajat dari posisi yang terdekat dengan mereka. Dengan menyampaikan itu di Haram mereka, kita benar-benar merasakan kehadiran mereka. Lebih dari 10 tahun saya menyertai penyelenggaraan acara-acara mazhabi di Haram Sayyidah Ma'sumah dan saya benar-benar merasa Sayyidah Ma'sumah yang mengajak saya.

ABNA: Kalau anda diminta membacakan syair mengenai Sayyidah Ma'sumah, apa yang anda sampaikan?

Wahai yang tidak ada yang lebih mulia darimu/ yang lebih penyayang dan penuh perhatian

Tidak kutemukan tamu yang penuh cahaya selainmu/ dan tidak kudengar pintu terbuka selain untukmu

Disini sayap malaikat terkembang/ sebagaimana kasih sayangmu yang terkembang