Terapan Islam Rasional dalam Sistem Pendidikan Iran

Terapan Islam Rasional dalam Sistem Pendidikan Iran

Ayatullah Muthahari tokoh pendidikan nasional Iran yang meletakkan pondasi dasar pendidikan rasional dalam lembaga pendidikan Islam di Iran menyebut pendidikan rasional harus memanusiakan manusia.

Awal tahun 1979 dunia dikejutkan dengan kemenangan revolusi Islam di Iran yang digerakkan oleh para Mullah. Di bawah komando Imam Khomeini, jutaan rakyat Iran menggulung kekuasaan rezim despotik Pahlevi yang baru saja merayakan 2.500 tahun imperium Persia. Dengan kemenangan itu dan hasil referendum 98% lebih rakyat Iran memilih "iya", tampillah Iran sebagai negara Republik Islam yang otoritatif. Dengan berdirinya Republik Islam Iran, perubahan signifikan dengan kecepatan tinggi terjadi. Monarki kuno diubah dengan pemerintahan teokrasi yang didasarkan atas Guardianship of the Islamic Jurists atau Wilayatul Faqih.

Tidak sedikit yang ragu, republik muda yang dikendalikan ulama berumur 80 tahun itu bisa bertahan lama. Terutama dalam mengelola lembaga pendidikan sebagai tonggak landasan yang sangat penting bagi kehidupan sebuah bangsa. Mereka lupa, Iran adalah pewaris tradisi filsafat Islam. Di bawah racikan tangan dingin para Ayatullah, kurikulum pendidikan di era Pahlevi dirombak dan dibawah pemerintahan Islam semua upaya pendidikan serta pengajaran harus sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Prioritas diletakkan pada terjaminnya usaha membesarkan generasi muda menjadi muslim yang konsekuen dan punya komitmen yang tinggi terhadap agama Islam dan kemajuan negara. Lewat pendidikan, Iran mentransformasi anak didik mereka menjadi manusia dewasa yang berpengetahuan, berkepribadian, dan sarat kearifan. Hasilnya, bukan hanya bisa bertahan selama lebih dari empat dekade namun Republik Islam Iran juga tampil di panggung internasional dengan banyak kemajuan dalam berbagai bidang, terutama bidang sains dan tekhnologi.

Penerapan Islam Rasional

Secara historis, dengan terjadinya revolusi Islam Iran tahun 1979, terjadi perubahan fundamental dalam sistem pendidikan Iran. Semua upaya pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Pada tahap awal, untuk menggenjot pemberantasan buta aksara dan meningkatkan kualitas pendidikan rakyat, pemerintah Republik Islam Iran menggratiskan biaya pendidikan formal mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Pendidikan gratis akan membuka peluang sebesar-besarnya untuk rakyat mengenyam pendidikan. Hal ini dijelaskan dalam pasal 30 UUD Republik Islam Iran yang menyebut pemerintah berkewajiban menyediakan pendidikan dan pengajaran gratis bagi seluruh rakyat. Iran sadar, bahwa tanpa pendidikan,, negara tidak akan memiliki generasi yang bekualitas.

Selanjutnya adalah menyesuaikan semua upaya pendidikan dengan prinsip Islam. Sejak revolusi Iran 1979, pendidikan Islam di Republik Islam terintegrasi dalam semua mata pelajaran. Untuk mengawasi dan memastikan bahwa lembaga pendidikan tetap memberikan materi pelajaran sesuai dengan ajaran Islam, lembaga pendidikan diawasi oleh lembaga revolusi kebudayaan.  Inilah yang mencengangkan dari Republik Islam Iran. Dengan semua upaya pendidikan disesuaikan dengan prinsip Islam, Iran bisa tampil sebagai negara yang maju dalam bidang sains dan tekhnologi. Tidak sedikit di negara lain, ketika lembaga pendidikan Islam ingin komitmen pada prinsip-prinsip Islam yang dihasilkan malah output peserta didik yang gagap dengan tekhnologi.

Di balik kesuksesan itu, salah satu rahasianya adalah muslim Iran yang mayoritas bermazhab Syiah sangat menghargai rasionalitas. Karena itu mereka mampu mengembangkan kurikulum pendidikan yang bisa sinkron antara ilmu-ilmu klasik agama dengan perkembangan sains. Mereka tidak disibukkan dengan isu-isu perdebatan klasik Islam, seperti hukum qunut, hukum cadar apalagi meributkan jumlah rakaat tarawih. Tidak pula mempersoalkan perbedaan mazhab, mengingat muslim di Iran tidak hanya Syiah namun juga ada Sunni dalam jumlah yang signifikan. Mereka lebih sibuk mengekplorasi kekayaan ilmu Allah yang terbentang luas di jagat raya. Hasilnya, pelajar maupun mahasiswa Iran tidak pernah absen meraih medali penghargaan dalam olimpiade ilmiah di kancah internasional di berbagai bidang, seperti fisika, kimia, matematika, komputer, robotic dan lain-lain. Dalam bidang kedokteran dan tekhnologi kesehatan pun, kemajuan yang dicapai Iran sangat menakjubkan. Kalau sebelum revolusi Iran membutuhkan masuknya dokter asing dari negara lain, namun sekarang Iran mampu menyediakan kebutuhan dokter ahli. Cerita Dahlan Iskan tentang WNI yang sukses melakukan transplantasi hati di Iran atau berita mengenai kunjungan Menteri Kesehatan Indonesia Prof. DR. dr. Nila F. Moeloek  pada tahun 2019 lalu yang mengagumi kemajuan Iran membangun teknologi nano kesehatan, robotic-surgery dan stem-cell adalah bukti kemajuan tekhnologi kesehatan di Iran sangat diperhitungkan 

Begitupun menurut laporan International Institute of Scientific Information (ISI), jumlah artikel ilmiah yang diterbitkan oleh peneliti Iran di jurnal internasional bergengsi setiap tahunya selalu lebih dari 30 ribu artikel, yang menunjukkan kemampuan peneliti Iran bersaing dengan peneliti dari negara-negara maju. Dari tahun 2013, Iran berada dalam 20 besar negara di dunia yang pertumbuhan produksi ilmu pengetahuannya sangat pesat. Di bidang ilmu pengetahuan modern, para ilmuwan Iran telah mampu melampaui batas-batas baru pengetahuan manusia. Prestasi ilmuwan Iran di bidang sel punca, nanoteknologi, rekayasa genetika, ilmu nuklir, ilmu antariksa, pembuatan rudal dan satelit adalah diantaranya. Dibunuhnya ilmuan nuklir Iran Dr. Mohsen Fakhrizadeh dalam sebuah aksi teror, menunjukkan musuh-musuh Iran ketakutan dan khawatir akan perkembangan kemajuan tekhnologi Iran.  Padahal Iran sampai saat ini masih menghadapi embargo dari Amerika Serikat. Namun mereka tetap tidak bergeming untuk terus melesat menghasilkan capaian-capaian baru.

Kondisi Lembaga Pendidikan Islam di Iran

Khusus pada lembaga pendidikan Islam, santri Iran tidak dibatasi hanya mempelajari ilmu-ilmu klasik Islam. Santri bukan hanya dibolehkan mempelajari filsafat, bahkan filsafat menjadi kurikulum wajib di setiap lembaga pendidikan Islam disemua strata. Iran menekankan pada pendidikan Islam yang berbasis pada rasionalitas dan membuka peluang dialog yang setara pada cabang ilmu lainnya utamanya sains. Dengan pengetahuan itu, kaum santri Iranpun dituntut untuk mampu menjawab tantangan zaman.

Ayatullah Muthahari tokoh pendidikan nasional Iran yang meletakkan pondasi dasar pendidikan rasional dalam lembaga pendidikan Islam di Iran menyebut pendidikan rasional harus memanusiakan manusia. Dia menekankan bahwa Islam memiliki aliran pemikiran yang independen. Ia mendefinisikan pendidikan sebagai pengembangan bakat manusia, dan menganggap akal sebagai salah satu instrumen bakat manusia yang paling penting.

Menurutnya, akal sangat penting dalam pembangunan konsep kemandirian dan sikap kritis. Muthahari menegaskan umat Islam untuk tidak boleh terbuai oleh modernitas Barat dan menerima apa saja tanpa nalar kritis. Baginya, umat Islam bisa secara mandiri mengembangkan sistem pendididikan yang bermutu dengan tetap diselaraskan dengan prinsip-prinsip Islam tanpa harus menyingkirkan nalar kritis dan independensi dalam berpikir. Tidak heran, di lembaga pendidikan Islam di Iran kebiasaan membaca topik apa saja lalu mendiskusikannya adalah pemandangan umum yang biasa dilihat dilakukan santri-santri Iran.

Dalam pengembangan sistem pendidikannya,  seperti yang pernah diungkapkan Deputi Hubungan Internasional Hauzah Ilmiah Iran Prof. Sayid Mufid Husaini Kouhsari dalam sebuah seminar mengenai tradisi pendidikan keagamaan di negeri mullah di Jakarta pada tahun 2016 oleh UIN Jakarta, Iran memiliki roadmap (peta jalan) bagi masa depan dunia pendidikan nasionalnya. Road map tersebut diikuti oleh seluruh unsur masyarakat Iran. Uniknya Pemerintah Iran tidak menjadikan pendidikan sebagai objek politik dan sub sistem pemerintahan yang dikontrol dan dikendalikan sesuai dengan nafsu dan ambisi penguasa. Pendidikan yang dibangun di Iran adalah pendidikan yang independen, steril dari interest politik, dan progresif dengan mengikuti ritme perubahan dan kebutuhan global-kontemporer, namun tetap berada dalam koridor ideologi Islam. 

Meski pemerintah memberi izin pihak swasta untuk turut menyelenggarakan pendidikan, namun kebijakan pendidikan tetap sentralis. Kurikulum pendidikan di Iran dilaksanakan secara terpusat. Kontrol penuh pemerintah Iran di bidang pendidikan ditujukan untuk mencegah pendidikan dikooptasi oleh kepentingan sempit industrialisasi. Ketika pemerintah lepas tangan, dan membiarkan pendidikan berada dalam cengkraman mekanisme pasar, maka yang terjadi adalah pendidikan akan terampas esensi kemanusiaannya. Pendidikan akan kehilangan keholistikannya dan kemuliaannya menjadi sirna. Maka yang terjadi kemudian adalah, pendidikan akan terjebak dalam pragmatisme yang membabi-buta.

Pemerintah Iran sadar, pendidikan Islam harus dikembangkan untuk meningkatkan produktifitas, mewujudkan integritas sosial, moral dan spiritual dengan penekanan utama pada memperkuat dan mendorong keimanan terhadap Islam. Pendidikan Islam juga harus menekankan pentingnya ranah psikomotorik ketimbang kognitif. Karenanya tidak heran, keluaran lembaga pendidikan Islam Iran tidak melulu mencetak ulama-ulama kharismatik namun juga politisi-politisi yang lihai berpolitik secara elegan. Terhitung Ayatullah Ali Khamanei, Ayatullah Rafsanjani, Sayid Khatami dan Dr. Hasan Rouhani adalah deretan presiden Iran yang merupakan alumni dari lembaga pendidikan Islam, termasuk presiden Iran sekarang Sayid Ibrahim Raisi. Mereka mencapai kekuasaan politik di Iran bukan mengandalkan arogansi kelompok mayoritas apalagi menggunakan kekerasan dan pemaksaan. Mereka dipercaya rakyat karena integritas.

Keberhasilan sistem pendidikan Iran hari ini, bukan datang serta merta. Iran memiliki sejarah yang panjang dalam membangun peradaban besar, termasuk peradaban Islam sejak abad pertengahan. Tidak ada salahnya untuk bisa terus belajar dari Iran. 

Ismail Amin, MA

Mahasiswa S3 Tafsir Al-Qur'an Konsentrasi Ilmu Pendidikan Berbasis Al-Qur'an

(Tulisan ini sebelumya pernah dimuat di Majalah Syiar)


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*