?>

Tantangan Besar Biden di Tingkat Domestik AS

Tantangan Besar Biden di Tingkat Domestik AS

Joe Biden akhirnya dilantik sebagai Presiden ke-46 Amerika Serikat setelah memenangkan sebuah pemilu yang penuh gejolak.

Menurut Kantor Berita ABNA, Presiden Biden dalam pidato pelantikannya, menekankan dua masalah penting yaitu “demokrasi Amerika” dan “persatuan nasional” di antara orang-orang Amerika. Dia menyebut hasil pemilu sebagai kemenangan demokrasi di AS dan meminta semua orang dan arus politik untuk meninggalkan perselisihan mereka.

Beberapa jam setelah pidatonya, Biden dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh Gedung Putih, menyebut tanggal 20 Januari, hari pelantikan presiden sebagai Hari Persatuan Nasional.

Namun, rentetan peristiwa dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa pelemahan demokrasi dan perpecahan nasional di AS lebih parah dan lebih serius sehingga mustahil dapat diselesaikan melalui sebuah pidato presiden atau pernyataan Gedung Putih. Dapat ditebak bahwa para pejabat senior pemerintah dan politisi Amerika – kecuali mantan Presiden Donald Trump dan beberapa rekan dekatnya – akan menekankan perlunya menjaga persatuan nasional dan memperkuat fondasi demokrasi AS yang melemah pada hari pelantikan presiden baru.

Pemandangan yang terlihat pada hari Rabu (20/1/2021) di dua sudut ibukota AS yaitu Gedung Putih ketika Trump meninggalkan kekuasaan dan Capitol ketika Biden mulai berkuasa, menunjukkan betapa keretakan dan perpecahan di Amerika telah melebar.

Trump menolak menghadiri acara pelantikan penggantinya, dan Biden juga tidak menyinggung nama pendahulunya dalam pidato pelantikan. Lebih dari 25.000 tentara mengamankan proses transisi kekuasaan di Washington, dan jumlah mereka jauh melebihi dari jumlah peserta acara dan tamu.

Dalam beberapa bulan terakhir, muncul keraguan serius tentang keefektifan demokrasi Amerika dan lembaga-lembaga pelindungnya. Terlepas dari tudingan Trump tentang praktik kecurangan yang secara serius membahayakan integritas sistem pemilu AS, dominasi uang dan kekayaan atas proses pemilu dianggap sebagai salah satu faktor perusak proses demokrasi di Amerika Serikat.

Di samping itu, muncul perdebatan tentang kelemahan sistem pemilu presiden AS yang berhaluan pada suara elektoral. Banyak pihak percaya bahwa AS tidak menjalankan sistem republik demokratis, tetapi sistem oligarki kapital.

Perpecahan politik dan sosial di Amerika semakin parah sehingga kasus pembunuhan seorang pemuda kulit hitam oleh polisi kulit putih, dapat menjerumuskan negara itu ke dalam siklus kekerasan, penjarahan, dan ekstremisme selama berbulan-bulan.

Otoritas keamanan juga berulang kali memperingatkan tentang bahaya kelompok sayap kanan dan teroris domestik di AS. Jumlah anggota kelompok ini kian bertambah dan pengaruh mereka juga meningkat sehingga menyeret masyarakat Amerika ke jurang perpecahan dan radikalisme.

Dengan memperhatikan kondisi tersebut, janji Biden untuk memperkuat demokrasi Amerika dan membangun persatuan nasional akan menjadi agak mustahil atau setidaknya sangat sulit.

Yoshihiro Francis Fukuyama, ilmuwan politik dan penulis Amerika dalam wawancaranya dengan Seymour Hersh, jurnalis investigasi, mengungkapkan keprihatinan tentang perkembangan sosial-politik di Amerika Serikat dan mengatakan AS harus bersiap untuk kekerasan yang lebih besar.

342/


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

پیام رهبر انقلاب به مسلمانان جهان به مناسبت حج 1441 / 2020
We are All Zakzaky
conference-abu-talib
Tidak untuk Perjanjian Abad ini