Ayatullah Reza Ramezani:

Syahid Soleimani semua Dimensi Kehidupannya adalah Keteladanan

Syahid Soleimani semua Dimensi Kehidupannya adalah Keteladanan

"Syahid Soleimani, sambil menyeimbangkan posisinya, tidak membiarkan siapa pun kehilangan haknya diantaranya dalam masalah politik dan budaya."

Menurut Kantor Berita ABNA, Sekretaris Jendreal Forum Internasional Ahulbait as Ayatullah Reza Ramezani hadir sebagai narasumber dalam majelis duka memperingati syahadah Sayidah Fatimah az-Zahra sa pada Rabu (5/1) di pusat angkatan laut Bandar Anzali kota Rusht Republik Islam Iran. Majelis duka az-Zahra tersebut sekaligus sebagai majelis peringatan dua tahun syahidnya Letnan Jenderal Qassem Soleimani. 

Ayatullah Ramezani menyatakan bahwa keberadaan dan bakat batin manusia telah membuatnya menjadi makhluk immateri.  Ia berkata, "Di antara bakat manusia termasuk bakat intelektual dan moral, manusia juga memiliki potensi untuk meningkatkan maqam spritual sehingga derajatnya melebih makhluk immateri."

Lebih lanjut Ayatullah Ramezani menekankan bahwa spiritualisme rasional tersembunyi terdapat dalam institusi manusia. Ia berkata, "Semangat hidup manusia adalah sebanyak perhatian manusia pada dunia makna; Semakin seseorang memperhatikan dunia makna dan kebenaran, semakin besar status dan posisinya."

Ayatullah Ramezani juga menyatakan bahwa pada Hari Pembalasan, tanggung jawab duniawi tidak akan diberi tempat. "Penghakiman pada Hari Pembalasan didasarkan pada orientasi spiritual dan kedekatan dengan manusia." Ungkapnya.

Wakil rakyat Gilan dalam Majelis Ahli Rahbari ini kemudian menyatakan bahwa spiritualitas harus memenuhi seluruh ruang kehidupan manusia. Ia berkata, "Salat, sebagai bagian dari spiritualitas ini, adalah manifestasi nyata dari sujud batin kepada Pemilik Kebenaran."

“Spiritualitas tidak hanya dalam doa dan haji, tetapi seni menunjukkan spiritualitas di bidang masyarakat, keluarga dan dalam hubungan dengan teman-teman kita dan dalam bidang pendidikan dan kehidupan sehari-hari." Tambahnya.

Ayatullah Ramezani juga mengacu pada nilai kegiatan dan upaya menjaga perbatasan negeri dari ancaman serangan musuh. Ia menekankan, "Menurut riwayat, mata yang terjaga di tengah malam untuk menjaga perbatasan dan menjaga keamanan masyarakat, akan tidak menangis di hari kiamat."

Sekretaris Jenderal Forum Internasional Ahlulbait as ini lebih lanjut menunjukkan spiritualitas Islam adalah spiritualitas kesendirian dan wahyu. Ia menyebut manusia harus memperhatikan kebenaran baik secara pribadi maupun di ranah sosial. "Spiritualitas adalah dasar dari keadilan sosial." Ungkapnya. 

Merujuk pada semangat kesyahidan dan spiritualisme Syahid Qassem Soleimani, Ayatullah Ramezani mengatakan, Syahid Soleimani memiliki spiritualitas yang komprehensif di semua bidang kehidupan."

Ayatullah Ramezani berkata, "Kehebatan Haji Qasim bukan hanya untuk memerangi ISIS, tetapi dia sebagai fenomena maknawiyah yang memiliki status spiritual yang besar yang harus diperhatikan."

Sekretaris Jenderal Forum Internasional Ahlulbait as mengacu pada pandangan Syahid Soleimani terhadap kaum muda, ia menambahkan, "Mengapa kita terkadang menyalahkan kaum muda; Karena kita belum bisa memahami bahasa anak muda, sehingga terkadang kita menekan mereka. Memahami bahasa anak muda merupakan perspektif pendidikan yang penting."

Menunjukkan bahwa kita harus mempertimbangkan Syahid Soleimani sebagai sebuah bangsa dan sebuah fenomena, Ayatullah Ramezani berkata, "Dalam arti tertentu, Pemimpin Tertinggi Revolusi menyebut Syahid Soleimani sebagai orang yang paling nasionalis yang melintasi batas-batas teritorial negara."

Ayatollah Ramezani menambahkan, "Kehadiran semua kelompok dalam pemakaman Syahid Soleimani dan juga diadakannya lebih dari seribu majelis duka selama dua tahun kesyahidannya total di berbagai negara adalah contoh interpretasi Pemimpin Tertinggi Revolusi tersebut. "

Wakil warga provinsi Gilan di Majelis Ahli Rahbari ini kemudian menyatakan bahwa Syahid  Qasem Soleimani telah mendapatkan pendidikan secara akurat, mendalam dan komprehensif di Madzhab Fatimiyah. Ia berkata, "Syahid Soleimani, sambil menyeimbangkan posisinya, tidak membiarkan siapa pun kehilangan haknya dalam masalah politik dan budaya."

Ayatullah Ramezani juga menunjukkan kesulitan yang Syahid Soleimani alami untuk mempertahankan sistem Islam. "Terlepas dari semua kesulitan ini, dia menekankan dalam wasiatnya bahwa Anda hanya boleh menulis frasa "prajurit lokal" di kuburan saya." Tambahnya.

Sekretaris Jenderal Forum Internasional Ahlulbait ini juga menyatakan, "Syahid Soleimani harus dipelajari dan dianalisa tidak hanya sebagai komandan perang, tetapi juga dalam kepercayaannya bahwa pertolongan yang  dia dapatkan di medan perang ke kanan dan ke kiri melalui keterlibatan Maksumin as. Keyakinannya yang kuat pada mazhab Ahlulbait as inilah yang membuatnya memiliki kesabaran dan ketangguhan."

Ayatullah Ramezani mengatakan bahwa sisi spiritualitas Haji Qasim harus menjadi keteladanan, terutama ketaatannya pada pemimpin. Ia berkata, "Hubungan Syahid Soleimani dengan Pemimpin Tertinggi Revolusi adalah hubungan antara murid dan guru yang disertai dengan cinta dan kasih sayang."

Lebih lanjut Ayatullah Ramezani memperkenalkan Syahid Soleimani sebagai komandan perdamaian. Ia berkata, "Syahid Soleimani selalu mengatakan bahwa kami tidak mencari pembunuhan tetapi akan tegas dan keras dihadapan kubu pembunuh dan kami menyatakan perang terhadap kezaliman."

Sekretaris Jenderal Forum Internasional Ahlulbait as ini kemudian menunjukkan bahwa masyarakat kita haus akan spiritualitas yang dimiliki Haji Qasim. Ia berkata,"Salah satu karakteristik terpenting dari para pelayan dan Mujahidin adalah keyakinan mereka akan hadirnya pertolongan dari Imam Mahdi  as dan ini adalah spiritualitas yang ada di dalamnya."

Menunjukkan bahwa bidang tanggung jawab dalam sistem Islam saat ini adalah bidang persaingan dalam spiritualitas. Ayatullah Ramezani berkata, "Meningkatkan spiritualitas pada pejabat meningkatkan rasa keadilan dan transformasi mereka."

Di bagian lain sambutannya, perwakilan masyarakat Gilan di Majelis Ahli Pimpinan ini menunjuk ketidaklengkapan pembangunan masjid di Bandar Anzali dan mengatakan, "Pembangunan gedung ini harus dilakukan dengan usaha dan kemauan bersama serta keinginan para  pejabat untuk menyelesaikan."

Dia mengakui bahwa masjid adalah simbol spiritualitas kota dan provinsi. "Masjid di Bandar Anzali tetap seperti ini selama bertahun-tahun, dan saya berharap masalah ini akan ditindaklanjuti." Tegasnya. 

Menurut Ayatollah Ramezani, provinsi Gilan memiliki banyak kapasitas yang perlu tumbuh dan berkembang. 


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*