Ayatullah Ramezani:

Syahid Soleimani Figur Masa Kini yang Terbukti Bisa Meneladani Sayidah Zahra sa

Syahid Soleimani Figur Masa Kini yang Terbukti Bisa Meneladani Sayidah Zahra sa

"Sosok Jenderal Soleimani adalah teladan sejati dari seorang mukmin yang sabar dan tangguh. Ia mencatatkan dirinya sebagai individu yang meneladani Sayidah Fatimah yang telah mengalami rangkaian kesulitan dalam hidupnya dan itu semua dihadapi dengan penuh kesabaran dan sikap yang tangguh."

Menurut Kantor Berita ABNA, Sekretaris Jenderal Forum Internasional Ahlulbait as Ayatullah Reza Ramezani Gilani pada Rabu (5/1) hadir sebagai penceramah dalam majelis duka memperingati hari kesyahidan Sayidah Fatimah az-Zahra sa yang diadakan di Masjid Sorkhbandeh di kota di Rasht Republik Islam Iran mengatakan, "Sayidah Zahra sa adalah simbol kesabaran dan perlawanan."

Ayatullah Reza Ramezani lebih lanjut mengatakan, "Sayidah Fatimah az-Zahra sa memang tidak memiliki usia yang panjang, namun dengan ketinggian maqam dan ilmu yang dimilikinya, membuat pemikirannya terus mempengaruhi umat manusia lintas zaman sampai saat ini."

Mengutip sebuah hadits dari Imam Baqir as, Ayatullah Ramezani berkata, ""Ketaatan kepada Sayidah Fatimah az-Zahra sa adalah wajib atas semua orang, bahkan atas malaikat."

"Peran Sayidah Zahra sa dalam bidang pendidikan dan tarbiyah Islami sangat penting dan efektif." Tambahnya. 

Ayatullah Ramezani lebih lanjut merujuk pada tahap kehidupan putri Nabi Muhammad saw tersebut dan berkata, "Putri Nabi ini secara historis  lahir pada tahun kelima Bitsat, yang saat itu bersamaan dengan diperintahkannya dakwah Islam secara terbuka, sehingga sayidah Fatimah juga turut merasakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi umat Islam saat itu. Saat berusia 3 tahun Sayidah Fatimah turut menyertai orangtuanya yang mengalami sanksi sosial dan hidup di Syi'ib Abu Thalib. Selama 3 tahun keluarga suci Nabi tersebut mengalami embargo."

Ayatullah Ramezani menyebutkan tiga tahun hidup di Syi'ib Abu Thalib dengan mendapatkan embargo adalah hari-hari yang sangat sulit dan ditambah dengan wafatnya Sayidah Khadijah sa dan Abu Thalib pada tahun 10 Bitsat.  "Pada tahun kesepuluh Bitsat, dua bencana besar menimpa Nabi Muhammad saw yang juga turut dirasakan oleh putrinya, yaitu kematian pamannya Abu Thalib dan wafatnya Sayidah Khadijah sa, istri Rasulullah saw yang juga ibu Sayidah Fatimah. Peristiwa itu sangat membuat Rasulullah berduka, sehingga setiap nama Khadijah disebut, ia meneteskan airmata."

"Di sepanjang usianya yang penuh berkah yang disebutkan sampai 19 tahun, kita tidak mendapatkan satupun riwayat yang menyebutkan Sayidah Fatimah mengeluh dan tidak bersabar, disaat ia harus menghadapi tahun-tahun yang sedemikian sulit dan berat. Karena itu, kesabaran Sayidah Fatimah ini harus menjadi contoh dan teladan bagi umat Islam. Bahwa betapapun sulit dan beratnya peristiwa yang dihadapi, kehidupan harus tetap berjalan dengan penuh rasa sabar dan ikhlas." Lanjutnya. 

Mengacu pada momen peringatan haul dua tahun gugurnya Syahid Qassem Soleimani, Ayatullah Ramezani berkata, "Sosok Jenderal Soleimani adalah teladan sejati dari seorang mukmin yang sabar dan tangguh. Ia mencatatkan dirinya sebagai individu yang meneladani Sayidah Fatimah yang telah mengalami rangkaian kesulitan dalam hidupnya dan itu semua dihadapi dengan penuh kesabaran dan sikap yang tangguh."

Ayatullah Ramezani lebih lanjut merujuk pada sebuah hadits dari Imam Ridha as tentang tiga kebiasaan dan karakter orang beriman. Ia berkata, "Imam Ridah as mengatakan bahwa seorang mukmin tidak menjadi mukmin kecuali ada tiga karakter yang telah menjadi kebiasaannya. Yaitu, tidak mengungkapkan rahasia, mengembangkan sikap toleransi dan sabar dalam kesulitan."

Pada bagian lain penyampaiannya, Ayatullah Ramezani mengungkap bahwa kebaikan dan akhlak Rasulullah saw yang menyebabkan posisi dan pengaruhnya abadi di sepanjang sejarah umat manusia.  Ia juga menunjukkan bahwa manusia harus terlebih dahulu melatih dirinya untuk dapat mempengaruhi orang lain, mencatat bahwa ketika seseorang berada di jalan dakwah, kesulitan pasti akan mengikutinya dan dia harus membayar semua itu dengan istiqamah dan kesabaran. 

Ayatullah Ramezani menekankan bahwa Sayidah Fatimah az-Zahra sa adalah contoh yang jelas dari menanggung berat dan sulitnya mendakwahkan dan tetap berada pada jalan kebenaran. "Sayidah Fatimah sa memiliki spiritual, intelektual, kepemimpinan dan pengaruh. Yang kesemuanya itu bersumber dari pengalaman dan kerelaan menjalani kehidupan yang pahit dan sulit,"

Sekretaris Jenderal Forum Internasional Ahlulbait ini lebih lanjut merujuk pada peran Sayidah Fatimah az-Zahra sa di bidang pendidikan, berkata, "Kita semua harus mengikuti teladannya. Dalam hal ini, Syahid Qassem Soleimani telah menunjukkan dirinya sebagai pecinta sejati. 

Sardar Soleimani dapat disebut sebagai salah satu dari mereka yang secara harfiah terlatih dalam ideologi, intelektual, moral, praktis dan perlawanan Sayidah Fatimah az-Zahra sa."

Ayatullah Ramezani menyatakan bahwa kebesaran Haji Qasim tidak hanya ditemukan dalam kemenangannya melawan ISIS. "Sebagai fenomena semantik, ia memiliki posisi rasionalisme yang besar yang harus dipertimbangkan. Sardar Soleimani telah menyusup ke hati Syiah, Sunni dan bahkan agama lain dan telah menjadi pemimpin hati mereka." Katanya. 

Ayatullah Ramezani menambahkan, "Sardar Syahid Soleimani karena dia telah memberikan segalanya untuk kemanusiaan bahkan juga memberikan nyawanya, karena itu semua dimensi dirinya akan terus dikenang umat manusia, dari segi karakternya, moral, kesederhanaan, kepatuhan, kelihaiannya meracik strategi dan pantang menyerahnya sebagai seorang tentara."

Ayatullah Ramezani bagian akhir penyampaiannya menunjukkan bahwa Letnan Jenderal Qassem Soleimani harus ditemukan dalam perilaku, ibadah, penghambaan, cinta, kasih sayang dan peradaban, Ia berkata, "Masyarakat saat ini merindukan ideologi, cinta, dan keberanian Syahid Soleimani."


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*