Saat AS Akui Kegagalan Strategisnya di Afghanistan

Saat AS Akui Kegagalan Strategisnya di Afghanistan

Sekitar satu bulan dari penarikan penuh pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan, Menhan AS, Lloyd Austin dan Kepala Staf Gabungan Militer AS, Mark Milley Selasa (28/9/2021) memberi jawaban terkait pertanyaan para senator di Komite Angkatan Bersenjata di Senat mengenai penarikan memalukan pasukan negara ini dari Afghanistan.

Menurut kantor berita Ahl al-Bayt (AS) - ABNA , Pada pertemuan itu, Lloyd Austin mempertanyakan pendekatan Washington terhadap perang 20 tahun di Afghanistan dan mengakui ketidakmampuan AS untuk membangun sebuah negara di Afghanistan. Mengakui bahwa operasi untuk meninggalkan Afghanistan adalah kegagalan strategis, Jenderal Mark Milley mengatakan bahwa terbangunnya kembali al-Qaeda atau ISIS dengan keinginan untuk menyerang Amerika Serikat adalah kemungkinan yang sangat nyata. Dia mengaku telah menyarankan Biden untuk mempertahankan setidaknya 2.500 tentara AS di Afghanistan. Sikap kepala Pentagon dan militer AS ini bertentangan dengan posisi Gedung Putih. Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan bahwa jika Amerika Serikat mempertahankan 2.500 tentara di Afghanistan, itu akan mengarah pada perang dengan Taliban.

Kebingungan klaim dan pendirian, serta klaim yang saling bertentangan tentang meninggalkan Afghanistan, menunjukkan bahwa pemerintah Biden belum pulih dari pukulan berat yang disebabkan oleh insiden ini, dan pada saat yang sama ada ketidaksepakatan bahkan di tingkat tertinggi. Biden memerintahkan penarikan pasukan AS dari Afghanistan dengan dalih mengakhiri perang tanpa akhir yang telah dilakukan Amerika Serikat selama dua dekade terakhir. Pengakuan Biden atas kegagalan pembangunan bangsa di Afghanistan dan akhir dari upaya AS untuk campur tangan secara militer di negara-negara lain untuk mencapai ini menandakan erosi yang signifikan dari kekuatan nasional dan global AS.

Ismail Shabanov, pakar politik Rusia mengatakan, Amerika selama 20 tahun kehadiran militernya di Afghanistan dan dengan menganggarkan puluhan miliar dolar gagal mencapai tujuannya.

Meski demikian langkah Biden menuai banyak kritikan baik di dalam maupun di luar Amerika, serta pada dasarnya sidang dengar pendapat Komisi Angkatan Bersenjata Senat juga digelar untuk hal ini.

Mitch McConnell, senator Amerika mengatakan, Amerika menghentikan perang di Afghanistan bukan berarti bahwa teroris juga musnah. Mereka tetap di Afghanistan dan senang bahwa Amerika bertekuk lutut di Afghanistan.

Sementara di luar, Amerika juga menuai banyak kritikan oleh para rival internasional Washington, yakni Rusia dan Cina serta dari mitra Eropanya terkait keputusan Biden tersebut.

Ketergesaan Biden untuk menarik pasukan AS dari Afghanistan sangat mirip dengan apa yang terjadi ketika pasukan AS menarik diri dari Vietnam. Namun, tindakan AS ini, seperti pendudukan Afghanistan dan pendudukannya selama 20 tahun, berlangsung tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Dengan demikian, bahkan pejabat tinggi pertahanan dan militer AS kini mempertanyakan validitas keputusan Biden.

Bahkan, kekosongan keamanan yang disebabkan oleh penarikan pasukan AS, bersama dengan ketidaksiapan tentara Afghanistan, serta masalah lain seperti perselisihan politik di tingkat pemerintahan, struktur komando yang tidak efektif, kurangnya moral pasukan Afghanistan, dan lain-lain, menyebabkan runtuhnya pemerintah Afghanistan dan Taliban mengambil alih negara itu.

Masalah ini dapat disaksikan khususnya di statemen LIoyd Austin. Pastinya perilisan statemen seperti ini dan berbagai pandangan dari petinggi Pentagon dan militer Amerika semakin cepat menurunkan posisi Amerika, negara yang mengklaim sebagai kekuatan utama dunia. Dari sisi lain, masalah ini juga menurunkan tingkat kepercayaan sekutu dan mitra Washington soal pelaksanaan komitmen Amerika terhadap mereka. (MF)

342/


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*