Berita Forum Internasional Ahlulbait:

Pertemuan Ulama Suriah dengan Ayatullah Ramezani di Qom Iran

Pertemuan Ulama Suriah dengan Ayatullah Ramezani di Qom Iran

Pertemuan Ulama Suriah dengan Ayatullah Ramezani di Qom Iran

Menurut Kantor Berita ABNA, Dr. Nabil Halabavi, seorang anggota Suriah dari Dewan Tertinggi Forum Internasional Ahlulbait as dalam kunjungannya ke kota Qom Republik Islam Iran bertemu dengan Ayatullah Reza Ramezani di aula pertemuan Kantor Forum Internasional Ahlulbait as Qom Sabtu (8/1). 

Ayatullah Ramezani menyatakan dalam pertemuan tersebut, "Kehadiran Hujjatul Islam wa Muslimin Nabil Halabavi di Forum Internasional Ahlulbait as sangat berharga. Suriah penting bagi kami, dan banyak pekerjaan yang harus dilakukan di bidang ini termasuk di bidang budaya, kami perlu memperhatikan Suriah dalam segala hal."

Sekretaris Jenderal Forum Internasional Ahlulbait as menambahkan, "Pusat Pendidikan Sayidah  Ruqayyah sa di Suriah adalah pusat ilmiah dengan peserta didik yang sukses. Di Universitas Ahlulbait as selain disiplin ilmu humaniora seperti manajemen dan hukum, kami juga memiliki disiplin ilmu seperti teknik arsitektur dan rekayasa perangkat lunak, yang dapat menjadi titik balik dalam kerjasama bilateral antara dua pusat ilmiah."

Ayatullah Ramezani mengacu pada perlunya memperhatikan budaya Ahlulbait as, mengatakan, "Kita semua harus melayani Ahlulbait as dalam keadaan ini, dan merupakan suatu kehormatan bagi kita untuk mempromosikan budaya Ahlulbait as. Sekarang adalah waktu terbaik untuk menerima budaya ini, dan dunia benar-benar haus akan budaya Ahlulbait as."

Ayatullah Ramezani lebih lanjut menambahkan, "Salah satu cendekiawan Kristen dari Universitas Sorbonne mengatakan dalam pertemuan "Dialog antara Islam dan Kristen" yang pernah saya hadiri bahwa hari ini Syiah dapat menjawab semua pertanyaan mereka dengan ijtihad yang dinamis. Ilmuan Kristiani tersebut mengatakan bahwa mereka tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan dengan benar, orang Kristen tidak memiliki jawaban yang pasti dalam beberapa persoalan seperti rekayasa genetik, inseminasi buatan, dll, dan mereka juga dalam isu-isu teologi lebih memilih untuk taklid dibanding mengkajinya secara mendalam."

Ayatullah Ramezani melanjutkan, "Spiritualitas yang ditemukan di hauzah-hauzah ilmiah Syiah tidak ada dalam agama Kristen dan gereja. Mereka yang berniat mengunjungi Paus harus mengikuti banyak upacara agar dapat bertemu dengan Paus, tetapi ketika Paus mengunjungi Ayatullah Agung Sistani, mereka melihat bagaimana dia dipengaruhi oleh dunia besar ini dan dengan rendah hati muncul di hadapannya. Imam Khomeini, sebagai seorang ruhaniawan bahkan tidak mengenakan sorban ketika menteri luar negeri Soviet terakhir, Shevardnadze, datang menemuinya atas perintah Gorbachev."

Sementara itu Hujjatul Islam wa Muslimin Dr. Nabil Halabavi dalam pertemuan tersebut dengan merujuk pada jasa-jasa Sayyid Mohsen Amin kepada komunitas Syiah di Suriah berkata, "Seyyed Mohsen Amin mampu mengatasi semua tantangan selama tinggal di Suriah. Dalam masyarakat Suriah saat itu, ketika tidak ada yang bisa mengadakan upacara berkabung, ia membuat kehadiran ulama Sunni di majelis Syiah Suriah. Seyyed Mohsen Amin juga memperhatikan pembentukan komunitas amal dan budaya di Suriah."

"Seyyed Mohsen Amin terlibat dalam perlawanan terhadap penjajah Prancis di Suriah, dan ketika dia wafat pemakaman yang diadakan untuknya menjadi pemakaman yang paling fenomenal di Suriah dengan kehadiran banyak orang lintas agama dan mazhab. Dia dianggap sebagai milik semua bangsa Suriah. Setelah kematian Seyyed Mohsen Amin, ulama Syiah lainnya muncul di Suriah, tetapi mereka tidak memiliki pengaruh dan kharismatik sebagaimana Seyyed Mohsen Amin sampai Revolusi Islam Iran berhasil di Iran."

Anggota Dewan Tertinggi Forum Internasional Ahlulbait as tersebut menambahkan, "Sebelum kemenangan Revolusi Islam di Iran, pemuda Syiah Suriah mengikuti berita revolusi dan membaca buku-buku Imam Khomeini ra dan para ulama marja taklid lainnya sampai kemenangan revolusi. Sejak itu, sebuah garis telah muncul di antara Syiah Suriah yang disebut Garis Imam, yang masih digunakan sampai sekarang oleh pusat-pusat seperti Mohseniyeh dan Majelis Hazrat Roghayeh. Seyyed Abdullah Nizam adalah orang Syiah Suriah pertama yang pergi ke Qom setelah Revolusi Islam untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, dan saya datang ke Iran setelah dia."

Mengacu pada dampak Revolusi Islam terhadap Syiah Suriah, Halabavi mengatakan, “Situasi Syiah Suriah membaik secara ilmiah setelah kemenangan Revolusi, dan kelompok-kelompok dari mereka datang ke Iran untuk memperoleh pengetahuan dan kembali ke wilayah kehidupan mereka di Suriah setelah belajar. Pada awal perang, ibu kota Suriah, Damaskus, dikepung di semua sisi, dan hal-hal buruk akan terjadi jika teroris memasuki kota. Tapi Bashar al-Assad bertahan dan menunjukkan keberanian, dan tentara Suriah melawan. Dukungan Iran dan Hizbullah memainkan peran besar dalam perlawanan Suriah, front arogan datang dari seluruh dunia dengan milik Arab Saudi dan Qatar untuk berperang di Suriah."

Dia melanjutkan, "Suriah telah melewati tahap perang, tetapi perang ini telah menciptakan masalah yang tersisa. Beberapa wilayah Suriah saat ini diduduki oleh tentara Turki. Wilayah minyak Suriah juga diduduki oleh Amerika, dan Israel terus-menerus menyerang Suriah. Juga, tidak ada kemampuan untuk merevitalisasi industri, pertanian dan ekonomi Suriah, yang telah menyebabkan masalah hidup bagi rakyat Suriah, ada keamanan di Suriah, tetapi rakyat Suriah menghadapi harga kebutuhan pokok yang melonjak tinggi."

Hujjatul Islam wa Muslimin Dr. Nabil Halabavi menambahkan, "Kegiatan budaya dan keagamaan terus berlanjut di Suriah, dan masyarakat melanjutkan kegiatan mereka di bidang ini. Di pusat pendidikan Sayidah Ruqayyah, kami memiliki awal yang baik  dan kami memiliki bidang media, pendidikan, filsafat, ekonomi, hukum dan syariah, tetapi arus sekuler menekan pusat ini untuk hanya mengajarkan Syariah. Jumlah pelajar di pusat  pendidikan ini  awalanya adalah ratusan, tetapi sekarang hanya mencapai sembilan puluh. Ada S2 dan S3 di Pusat Pendidikan Sayidah Ruqayyah sa dan kami akan terus berkomunikasi dengan Universitas Ahlulbait as di Tehran untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa Suriah untuk melanjutkan pendidikan di Iran."

Mengacu pada kepentingan rakyat Suriah terhadap Ahlulbait as, Halabavi mengatakan, "Ahlulbait as ada di hati nurani semua orang dan kami mengadakan acara yang berkaitan dengan Ahlulbait as di negara ini dan kehadiran wanita dalam upacara ini melebih kehadiran pria."

Dia melanjutkan, "Hari ini, Syiah telah melampaui Sunni dalam menghadapi arogansi global dan memperkenalkan panutan seperti Wilayatul Faqih. Cendekiawan seperti Syahid Mutahari dan Ayatullah Misbah Yazdi adalah cendekiawan fenomenal di dunia dan para ulama ini merupakan kehormatan bagi dunia Islam. Menjadi Syiah adalah orang-orang yang memiliki proyek pemerintahan Mahdawiat yang dipimpin oleh Imam Mahdi afs untuk masa depan dunia. Keyakinan ini tidak dimiliki agama dan sekte yang lain."

"Kunjungan Ayatullah Ramezani ke Suriah belum lama ini telah memiliki dampak yang baik di negara kami dan kami menunggu beliau kembali melakukan perjalanan ke Suriah." Tutupnya.  


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*