Ayatullah Reza Ramezani:

Perjuangan Syahid Soleimani Perjuangan Kemanusiaan

Perjuangan Syahid Soleimani Perjuangan Kemanusiaan

"Pada momentum kekinian, tidak ada tokoh kontemporer yang dikenang sebagaimana Syahid Soleimani saat ini. Kelompok Syiah, Sunni, Muslim maupun non-Muslim dibanyak negara mengadakan upacara duka untuknya."

Menurut Kantor Berita ABNA, pada peringatan kedua kesyahidan Syahid Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al-Mohandes, sebuah acara diadakan di Universitas Internasional Ahlulbait as di Tehran, ibukota Republik Islam Iran pada Minggu (2/1). 

Sekretaris Jenderal Forum Internasional Ahlulbait as Ayatullah Reza Ramezani yang hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut menekankan bahwa ia sepakat dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamanei, Haji Qassem Soleimani adalah tokoh nasionalis sekaligus agamis. "Sosok Syahid Soleimani adalah perpaduan yang kuat dan contoh yang baik bagi kelompok nasionalis dan agamis. Ia mensinergikan kecintaannya pada tanah air dan keyakinannya yang kuat pada agamanya" Ungkapnya.

Ayatullah Ramezani melanjutkan, "Hari ini, kehadiran spiritual dan intelektual dari fenomena ini menunjukkan sosok Syahid Soleimani. Bukan hanya umat Islam, tetapi seluruh umat manusia menangis dalam duka atas kepergian syahid Soleimani. Sekarang ia begitu dihormati dan tetap ada dalam ingatan umat manusia yang mencintai kemerdekaan dan kebebasan. Di beberapa negara, seperti India, lebih dari 100 pertemuan diadakan selama dua tahun kesyahidannya."

Ulama Iran ini juga menyatakan, "Pada momentum kekinian, tidak ada tokoh kontemporer yang dikenang sebagaimana Syahid Soleimani saat ini. Kelompok Syiah, Sunni, Muslim maupun non-Muslim dibanyak negara mengadakan upacara duka untuknya."

"Dia adalah seorang pahlawan dalam menghadapi kejahatan terorisme. Ia secara terbuka mengatakan, "Saya bukan seorang teroris, tetapi saya menentang para pembunuh dan diktator." Lanjut Ayatullah Ramezani. 

Mengacu kepada kepahlawanan Syahid Qassem, Ayatullah Ramezani menambahkan, "Dia menghabiskan umurnya dalam menghadapi kubu arogan dan penjajah yang telah mengeksploitasi masyarakat manusia. Berdiri di jalur perlawanan adalah posisi yang tinggi."

Ayatullah Ramezani juga merujuk pada kebaikan dan kelembutan Syahid Soleimani. Ia berkata, "Meskipun perjuangan sengit melawan Takfiri, teroris dan orang-orang bengis namun dia adalah sosok yang paling baik kepada anak-anak para syuhada. Dia adalah kekuatan yang tak terkalahkan bagi para penindas, kafir dan pembangkang, dan dia penyayang terhadap anak-anak Islam. Pada akhirnya, Allah Swt menganugerahkannya status syahid dan ia layak mendapatkannya."

Sekretaris Jenderal Forum Internasional Ahlulbait as ini melanjutkan, "Dalam sebuah surat kepada Malik al-Asytar, Amirul Mukminin as di akhir surat itu meminta kepada Allah Swt untuk menjadikan kesyahidan milik Malik Asytar. Karena jalan ke depan yang akan dihadapi Malik al-Asytar adalah jalan yang sulit yang taruhannya adalah nyawa.  Itu pulalah yang dihadapi oleh Syahid Soleimani. Karena mengetahui jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang sulit dan berat, yang taruhannya adalah nyawanya, karena itu ia kerap minta didoakan agar ia mendapatkan kesyahidan."

Ayatullah Ramezani menambahkan, “Dua bab dalam kehidupan Letnan Jenderal Soleimani dapat dipelajari, satu bab adalah waktu hidupnya dan yang lainnya adalah waktu kesyahidan syuhada ini. Di bidang perlawanan di dunia, tidak hanya di kalangan Muslim tetapi juga di antara semua pencari kebebasan di dunia, dan Mujahidin di bidang perlawanan mengikuti keteladanan dari Syahid Soleimani, dia adalah panglima yang meluluhkan hati. Syahid Soleimani menganggap dirinya hamba dari yang Maha Haq yang dengan itu ia memperjuangkan kebenaran."

Mengacu pada perlunya mempelajari kepribadian Syahid Soleimani, Ayatullah Ramezani  mengatakan, “Syahid ini menemukan kepribadian yang kharismatik, spiritual, emosional, rasional dan jihadi, dan ini adalah poin penting yang harus dipelajari, sebuah fenomena baik yang tidak dapat dikenali sepenuhnya dalam satu atau dua sesi pertemuan saja. Melainkan perlu waktu lama untuk fenomena mengenali Syahid Soleimani dengan semua dimensi kehidupannya."

Ayatoulah Ramezani lebih lanjut menganggap etika sebagai salah satu disiplin ilmu masa kini. Ia berkata, "Saat ini, berbagai istilah digunakan untuk disiplin ini, termasuk filsafat etika, etika agama Islam, dll., dan masing-masing istilah ini memiliki interpretasi."

"Etika komposit telah banyak digunakan dalam beberapa dekade terakhir dan kata ini banyak digunakan. Pada sisi praktis, profesional, pelajar, mahasiswa, pebisnin dan berbagai etika dapat dimasukkan dalam etika profesi, istilah-istilah ini digunakan saat ini di berbagai bidang kancah internasional. Etika profesi atau etika terapan adalah salah satu cabang etika yang paling bercabang dalam arti kata umum." Tambahnya. 

Ayatullah Ramezani melanjutkan, "Etika berkaitan dengan persyaratan internal dan menarik perhatian kita pada apa yang harus kita lakukan dan berkomitmen dalam diri kita sendiri dalam hal perilaku, moralitas dan pendidikan. Etika profesional adalah perilaku yang diharapkan dan diharapkan di luar diri kita, yang Anda harapkan dari seorang mahasiswa atau profesor atau staf atau rektor dan wakil rektor universitas di lingkungan akademik. Seseorang yang menjadi komandan, atau kepala pasukan, atau bertanggung jawab di tempat lain, diharapkan memiliki perilaku tertentu, tetapi sumber dari perilaku tersebut harus internal, harus dari dalam diri."

Ayatullah Ramezani mengacu pada pentingnya mendidik manusia di bidang etika, mengatakan, "Manusia harus mendidik diri mereka sendiri sedemikian rupa sehingga mereka dapat melakukan tugas yang diberikan kepadanya di bidang eksternal, dan ini sangat penting. Dari sudut pandang Islam, yang penting adalah bahwa hal-hal ini berasal dari diri sendiri, yaitu manusia harus melatih jiwanya sendiri."

"Ilmu yang paling baik, paling penting dan paling diperlukan adalah ilmu yang mendidik manusia. Ilmu yang paling utama adalah ilmu yang mengenalkan manusia sedemikian rupa sehingga ia mengetahui kebaikan hatinya dan menghindari apa yang menyebabkan kerusakan hatinya. Kita harus mulai dari diri kita sendiri dan ini adalah salah satu kebutuhan batin yang harus dibayar manusia pada dirinya sendiri. Dinyatakan dalam riwayat-riwayat bahwa manusia harus menemukan dirinya yang hilang." Tutupnya. 


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*