Pemulihan Hubungan Qatar dan Mesir setelah Arab Saudi

Pemulihan Hubungan Qatar dan Mesir setelah Arab Saudi

Salem bin Mubarak Al-Shafi, dubes Qatar di Kairo Senin (24/8/2021) bertemu dengan Menlu Mesir, Sameh Shoukry dan sebagai dubes luar biasa di Kairo, menyerahkan surat kepercayaannya kepada Shoukry.

Menurut Kantor Berita ABNA, Hubungan Qatar dengan Mesir selama beberapa tahun terakhir mengalami banyak pasang surut, dan mayoritasnya diwarnai ketegangan. Qatar mendukung revolusi rakyat Mesir 2011 yang menentang pemerintah Hosni Mubarak. Selain itu, pemerintah Doha juga menjadi tuan rumah dari sejumlah besar anggota dan pemimpin Ikhwanul Muslimin serta mendukung berkuasanya kelompok ini di Mesir. Kemudian Qatar menyebut berkuasanya militer di Mesir sebagai kudeta terhadap Ikhwanul Muslimin. Sikap Qatar terkait Ikhwanul Muslimin menjadi faktor penting tensi di hubungan Doha dan Kairo.

Kemudian pada tahun 2017, Mesir tercatat sebagai salah satu dari empat negara Arab yang memutus hubungannya dengan Qatar. Juni 2017, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain memutus hubungan mereka dengan Qatar dengan berbagai alasan, dan salah satu alasannya adalah dukungan Doha terhadap Ikhwanul Muslimin. Keempat negara Arab ini menyebut Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris dan mereka juga menuding Qatar mendukung terorisme.

Kini ketika hubungan Doha dan Kairo pulih, Arab Saudi Januari 2021 menjadi tuan rumah KTT Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC) dan Qatar juga diundang di pertemuan ini. Emir Qatar, Sheikh Tamim setelah tiga setengah tahun, secara pribadi menghadiri pertemuan P-GCC yang digelar di al-Ula Arab Saudi serta mengakhiri tensi dengan Riyadh. Langkah Arab Saudi ini menuai protes dan kritik Meisr, karena pemerintah Kairo meyakini Riyadh melakukan langkahnya tersebut tanpa koordinasi dengan tiga negara Arab lainnya yang memutus hubungan dengan Doha apda Juni 2017 lalu.

Menlu Mesir Sameh Shoukry pada 15 Juni di kunjungannya ke Doha bertemu dengan sejawatnya dari Qatar, Mohammad bin Abdulrahman Al Thani dan kedua pihak membicarakan pengokohan kerja sama dan prospek hubungan kedua negara. Qatar ketika menunjuk dubes luar biasa di Kairo, juga melakukan langkah serupa di bulan ini untuk Arab Saudi. Di sisi lain, Mesir bulan Juni lalu memutuskan menunjuk Amr El-Sherbini sebagai dubes luar biasanya di Qatar. Pemulihan hubungan ini terjadi ketika Qatar tidak melakukan salah satu dari 13 syarat yang ditentukan oleh keempat negara Arab ini. Meski demikian, pemulihan hubungan Doha dengan Riyadh serta Kairo menunjukkan dua poin penting.

Pertama, Qatar menekankan perluasan hubungan kerja sama dan hubungan dengan negara-negara Arab, serta tidak menyambut pemutusan hubungan dengan negara-negara ini. Pada dasarnya pemerintah Qatar termasuk negara Arab yang berusaha memiliki hubungan damai dengan seluruh negara kawasan. Kebijakan ini khususnya diberlakukan terhadap Republik Islam Iran dan bahkan Doha menolak menurunkan hubungannya dengan Tehran meski mendapat tekanan dari empat negara Arab ini.

Kedua, pemerintah Qatar melalui kebijakan sabar yang strategis, selain tidak menyerah terhadap represi asing, tapi juga berusaha menjadi pemenang final dari tekanan ini. Sementara negara-negara seperti Arab Saudi dan Mesir termasuk negara besar Arab. Selain itu, sampai kini hubungan Qatar dengan Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA) belum juga pulih dan alasan utamanya adalah berlanjutnya tensi Manama dan Abu Dhabi dengan Doha. (MF)

342/


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*