Liputan Wartawan Indonesia atas Kepulangan Imam Khomeini dari Pengasingan

Liputan Wartawan Indonesia atas Kepulangan Imam Khomeini dari Pengasingan

Memperingati hari kepulangan Imam Khomeini dari pengasingannya yang dijalankannya selama 15 tahun pada tanggal 1 Februari 1979, berikut ini kami memuat tulisan mantan Wakil Pimred Republika, DR. Nasir Tamara, bertajuk “Detik-Detik Kepulangan Khomeini” yang saat itu merupakan satu-satunya wartawan yang berasal dari Indonesia yang turut berada dalam pesawat yang membawa Imam Khomeini dari Prancis.

DR. Nasir Tamara mantan Wakil Pimpinan Redaksi Republika saat menjadi wartawan Sinar Harapan adalah satu-satunya wartawan Indonesia yang turut hadir dalam pesawat Boeing 747 Air France yang menerbangkan Imam Khomeini dari Prancis kembali ke Iran setelah menjalani pengasingan selama 15 tahun. Sebuah penerbangan selama lima jam yang mencekam. Momen bersejarah itu terjadi pada 1 Februari 1979 dan bangsa Iran sampai saat ini memperingatinya secara nasional sebagai salah satu momen penting yang mengawali berdirinya Republik Islam Iran. 

Kepulangan Imam Khomeini saat itu menghebohkan dunia dan menjadi headlline koran dimana-mana. 500 lebih wartawan internasional mendaftar untuk turut menyertai momen kepulangannya meski kemudian hanya 150 yang diterima, termasuk Nasir Tamar.  Bagaimana tidak, sosok seorang tua bersorban hitam dan berjenggot panjang menjadi dikenal dunia karena berani berhadapan dengan Syah Iran yang berkuasa sangat kuat. 

Publik seolah terkaget-kaget karena kala itu ada seorang ulama yang bisa menyingkirkan seorang yang dianggap sebagai penguasa Iran yang tak  tertandingi layaknya Kaisar Persia zaman dahulu: Syah Reza Pahlevi. Kala itu tampil sebagai penguasa paling kuat di Timur Tengah dengan kekuatan militer paling mengerikan kelima di dunia. Kekuasaanya dilindungi oleh kekuatan intelijen yang dahsyat, yaitu agen rahasia yang bernama Savak. Iran kala itu berubah menjadi negara intel. Posisinya semakin kuat. Pada saat yang sama Iran saat itu adalah salah satu sekutu penting Amerika Serikat di Timur Tengah. Budaya Iran berubah menjadi budaya Amerika. Islam mulai tersingkir di sana, digantikan budaya liberal-sekuler ala Barat.

Setelah kepulangan Khomeini ke Iran itu, semua berubah drastis. Pelan tetapi pasti kekuasaan Syah Reza Pahlevi melemah dan kemudian jatuh. Penguasa baru bernama Republik Islam Iran muncul. Iran kemudian dijuluki sebagai negara para mullah yang dipimpin oleh seorang presiden. Khomeini kemudian duduk sebagai penasihat spiritual para pemimpin Iran. Negara ini dari yang dahulu sangat pro Amerika Serikat (AS) kemudian berubah total menjadi sangat anti terhadap Amerika.

Iran kemudian, bahkan sampai hari ini, menjadi musuh nomor satu AS. Berbagai konflik diplomatik–bahkan sudah mengarah perang–kemudian meletup. Iran, misalnya, sempat menyandera warga negara AS yang ada di Tehran. Hal ini kemudian dibalas AS dengan memberikan sanksi ekonomi. Khomeini kemudian membalasanya dengan mengutuk AS sebagai setan besar.

Berikut ini kisah detik-detik kepulangan Khomeini dari Prancis ke Iran yang dituliskan Nasir Tamara itu:

imam khomeini di tehran


Jam 20.00 Rabu malam, 31 Januari 1979. Inilah saat yang paling menegangkan bagi Khomeini, pembantu-pembantunya, pengikut-pengikutnya, ter­masuk juga bagi wartawan-wartawan yang ikut serta bersama pemimpin Syiah itu pulang ke negerinya. Pada jam itu akan diputuskan apakah akan jadi ber­angkat ke Iran atau tidak; setelah beberapa kali diba­talkan.

Sudah sepuluh jam kami, lebih dari 500 wartawan yang mendaftarkan diri untuk ikut terbang, menunggu kabar di halaman rumah Khomeini di Neuphle­ Chateau. Waktu tersebut berlangsung sebagai siksa­an. Masing-masing tidak tahu apa yang akan terjadi. Akan betul-betul berangkatkah Khomeini malam ini, jam 1.00 pagi waktu Paris? Ataukah akan ditunda lagi seperti yang telah terjadi dua kali sebelumnya?

Jam 21.00, Sodeq Gotbzadeh, seorang pembantu­nya, mengumumkan bahwa keberangkatan sudah pas­ti. Nama 150 orang wartawan ditambah 50 orang Iran yang akan naik pesawat Boeing 747 Air France yang disebut oleh pihak Khomeini sebagai “penerbangan revolusi” diumumkan. Saya termasuk salah satu dari wartawan Asia yang ikut.

Rekan saya, Keichi Kamos­hida, dari surat kabar Asahi Shimbun yang beroplah hampir 10 juta lembar per hari mengatakan, “Nasir, kau beruntung, satu-satunya wartawan dari Indonesia yang ikut dalam penerbangan bersejarah ini. Bukan hanya pembaca Sinar Harapan (Nasir waktu itu masih wartawan Sinar Harapan–Red) yang patut bangga.”

Saya senang, tapi juga bimbang dan takut: bagaimana kalau pesawat dibajak atau ditembak oleh Angkatan Udara Iran karena tentara Iran masih setia pada Shah Iran?

Jam 24.00 Lapangan Terbang Charles de Gaulle Paris dipenuhi oleh orang-orang Iran, sekitar 1.000 orang. Hampir seluruhnya berteriak-teriak histeris dan tak henti-hentinya memekikkan: “Hidup Khomeini, pemimpin kami” dan “Terima kasih, rakyat Prancis”. Khomeini kelihatan terharu. Ia menyapa mereka dan lalu pergi naik ke pesawat udara.

Di atas pesawat yang membawa kami ke Teheran didapat keterangan bahwa kapal terbang ini disewa dengan harga 130 ribu dolar AS dari Air France. Ka­barnya, Perdana Menteri Baktiar sudah berjanji tidak akan menembak pesawat ini. Mudah-mudahan saja. Perjanjian itu dibuat setelah perundingan selama satu minggu. Mula-mula Baktiar menolak, tetapi akhirnya setuju.

Sebetuinya pesawat ini dapat membawa 400 orang penumpang. Namun, Air France meminta agar ia diisi separuh saja. Alasannya, seandainya tidak dapat mendarat di Teheran ia akan dapat kembali ke Pran­cis tanpa perlu mengisi bahan bakar.

Entah apa alasan ini dapat dipercaya. Yang pasti, hal ini, ditambah dengan pemeriksaan yang ketat dan luar biasa oleh polisi Prancis sebelum menaiki pesa­wat, menambah rasa khawatir dan cemas kami.

Bagaimana seandainya salah seorang agen raha­sia musuh Khomeini berhasil juga naik menyelundup ke pesawat dan melakukan pembajakan atau melaku­kan penghancuran pesawat ini meskipun ia mesti mati? Banyak orang yang sanggup melakukan hal itu, misalnya anggota Tentara Merah dari Jepang.

Seandainya tidak ada agen rahasia, bagaimana kalau pesawat ini ditembak saat mendarat di Lapangan Terbang Mehrabad, Teheran? Tentu kami akan mati semuanya. Wartawan dan pengikut-pengikut Khomeini te­gang sekali. Risiko besar. Sepanjang perjalanan, kami tidak banyak bercakap-cakap.

Tiga jam setelah penerbangan berlangsung Kho­meini turun dari ruang tingkat satu, di dekat kamar pilot, di mana sebuah kamar darurat dibuatkan un­tuknya. Kami tak diperbolehkan masuk ke kamar itu untuk melihat bentuknya.

Wajah Khomeini tampak tenang, tanpa emosi. Kami tidak tahu apa perasaannya pada saat itu. Takutkah ia, seperti halnya kami? Saya teringat akan jawabannya ketika ia ditanya oleh wartawan tentang hal itu: “Tidak, saya tidak takut mati. Hanya Tuhan yang menentukan nasib manusia.”

“Pendaratan diundur satu jam.” Tiba-tiba ada pengumuman dari pilot, padahal kami hanya di ketinggian lebih kurang 400 sampai 500 meter dari lan­dasan. Hal ini menambah kecil hati kami: ada yang tidak beres? Jangan-jangan….

Awak pesawat yang ikut kami terbang dengan sukarela tidak bisa beri keterangan tambah­an. Pesawat berputar-putar di atas Teheran. Suasana makin tegang.

Ketika roda pesawat menyentuh tanah setelah 5 jam terbang dari Paris, ketegangan belum juga berku­rang. Dari jendela pesawat kelihatan ratusan orang tentara menuggu, lengkap dengan mitraliur. Tiba­-tiba pesawat membelok. Mau berangkat lagi? Ter­nyata tidak. Beberapa menit kemudian ia berhenti benar-benar, jauh dari tempat berlabuh yang seha­rusnya. Ternyata hal ini pilot lakukan agar jangan sampai orang-orang yang berniat jahat melakukan rencananya berkat keterangan yang diperolehnya ter­lebih dahulu tentang tempat pesawat akan berhenti.

Di kantor lapangan terbang, di ruang tunggu, pu­luhan ribu orang terlihait melambai-lambaikan tangan kepada kami. Para wartawan turun sebelum Khomeini.

Di bawah tangga sudah ada puluhan wartawan lainnya yang selalu siap siaga di Teheran. Segera kami mengeluarkan alat-alat foto, buku catatan, dan juga alat perekam untuk mencatat turunnya Kho­meini di tanah Iran yang sudah ditinggalkannya se­lama 15 tahun.

Mula-mula turun Dr Ibrahim Yazdi, Bani Sadr, dan Sodeq Gotbzadeh. Tiga pembantu utamanya. Mereka kelihatan gugup. Sementara itu, kami tetap menunggu. Tiba-tiba seorang yang mirip Khomeini turun. Para wartawan mulai beraksi dengan cekatan. Ter­nyata bukan Khomeini.

Beberapa saat kemudian, Khomeini yang sesung­guhnya turun dengan anggun seperti seorang peme­nang meskipun tidak kelihatan angkuh sedikit pun. Ia digandeng oleh pilot pesawat dan anak laki-lakinya.

Para wartawan mulai beraksi dengan cekatan, begitu juga para juru kamera televisi dan film. Polisi cepat membuat pagar terhadap para wartawan yang mencoba sedekat mungkin dengan Khomeini untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Namun, pagar po­lisi terlalu hebat. Khomeini segera naik sebuah Mer­cedes 200 berwarna biru laut dan diantarkan ke luar dari kan­tor lapangan udara. Mobil tersebut bukan kepunyaan Pemerintah Iran. Tidak seorang pun wakil pemerintah kelihatan menjemput Khomeini.

Di ruang tunggu lapangan terbang ratusan wakil suku bangsa dan agama yang berbeda: Yahudi, Kris­ten, Islam, Zoroaster, dan juga wakil-wakil dari partai politik lamanya yang bersimpati–atau yang cuma ikut arus–ikut menyambut. Mereka mengelu-elukannya. Khomeini mengucapkan pidato terima kasih ke­pada semua orang yang ikut berpartisipasi dalam per­juangan Iran.

Suasana yang betul-tetul meriah, hangat, dan penuh emosi ini tak dapat dikontrol sehingga timbul kesulitan bukan saja bagi wartawan melainkan juga untuk petugas-petugas keamanan. Terjadi banyak per­tengkaran: banyak yang mencoba masuk dengan jalan memaksa berkelahi atau memanjat pagar.

Khomeini pulang betul-betul. Sukar dipercaya dengan mata kepala. Alangkah beraninya orang tua ini. Wibawa Khomeini yang besar sekali itu mulai terasa pengaruhnya. Sebagian besar wartawan, ter­masuk saya, misalkan, tidak mempunyai visa ke Iran karena Kedutaan Besar Iran di Paris ditutup, tetapi tiba-tiba kami mendapat visa dari petugas imigrasi Iran.

Contoh lain, sejak beberapa lama pegawai tele­pon dan teleks mogok sehingga menyukarkan para wartawan untuk mengirimkan berita-berita hangat. Namun, khusus untuk kedatangan Khomeini disediakan 10 pesawat teleks dan belasan pesawat telepon internasional.

Enak bagi orang Eropa, Jepang, atau Amerika Se­rikat sebab teleponnya otomatis. Bagi saya dari Indonesia hal itu merupakan siksaan besar: harus tunggu dua jam sebelum berita yang sudah saya siapkan da­pat tiba di Indonesia. Padahal, saya berharap agar peristiwa besar ini dapat dimuat hari itu juga.

Sepanjang perjalanan dari lapangan terbang ke kuburan para pahlawan di Behect Zahra, berjuta-juta orang menunggu dan mengelu-elukan Khomeini. Mereka datang dari seluruh Iran. Mobil yang ditumpangi Khomeini dijaga keras oleh orang-orang semacam barisan berani mati. Me­reka siap memberikan jiwa mereka seandainya ada usaha pembunuhan terhadap orang tua ini.

Orang-orang menjadi histeris. Mereka mencoba menyentuh Khomeini. Karena mereka tidak tahu Khomeini naik mobil yang mana akibatnya fatal sekali bagi wartawan. Wartawan terpaksa keluar dari rnobilnya yang tidak mungkin lagi berjalan dan kehi­langan jajak Khomeini. Di kuburan Behect Zahra, Khomeini ditunggu untuk berziarah dan mengucap­kan pidato selamat jumpa kembali pada negeri yang telah lama ditinggalkannya.

———-

* Tulisan ini dikutip dari buku DR Nasir Tamara: Revolusi Iran. Nasir Tamara kini banyak bermukim di Kota Gede, Yogyakarta, dengan tinggal di sebuah rumah antik peninggalan saudagar Kota Gedhe. Kegiatan keseharian lainnya adalah dosen di Pascasarjana UGM.


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*