Menyambut Pemilu Presiden di Iran

Menyambut Pemilu Presiden di Iran

Republik Islam Iran tengah menanti perhelatan pesta demokrasi. Pemilu senantiasa diwarnai dengan fenomena naik turun dan perubahan. Transformasi ini dapat menjadi motivasi, harapan dan upaya untuk bergerak maju di masyarakat.

Menurut Kantor Berita ABNA, Tujuh kandidat di pilpres ke-13 Iran yang telah lolos uji kelayakan, dengan berbagai pembicaraan dan kritikan serta sedikit sikap tak bermoral selama debat kandidat, menunjukkan bahwa mereka sepakat akan satu hal.

Program yang diusung setiap kandidat jika menang di pemilu adalah melakukan perubahan di berbagai kebijakan dengan memanfaatkan peluang yang ada. Sekaitan dengan ini, para kandidat mengajukan program untuk mengurangi kesulitan dan fokus pada poin penting ekonomi serta melindungi kehormatan nasional di tingkat regional dan internasional.

Hampir seluruh kandidat meyakini programnya dapat direalisasikan dan seraya menekankan pentingnya menjaga elemen kekuatan nasional dan keamanan di seluruh sektor, berbicara mengenai pembentukan pemerintah yang kuat, efisien dan energik. Di kompetisi ini, di samping beragam kendala, juga ditekankan prioritas kebijakan luar negeri dan mekanisme hubungan terhormat dengan negara lain, serta dengan menjaga norma-norma dan cita-cita Revolusi Islam.

Pemilu adalah dua arah, dan kandidat merupakan salah satu sisinya. Di sisi lain adalah pemilik suara atau warga yang merupakan pilar utama di pemerintahan demokratis.

Dari sudut pandang ini, setiap kandidat dalam pemilihan ini harus berusaha untuk mendapatkan suara terbanyak. Memenangkan kompetisi ini tidaklah mudah, apalagi rencana dan program para kandidat melihat tuntutan masyarakat fokus pada isu-isu seperti mata pencaharian, ekonomi, pekerjaan, properti, pemberantasan korupsi dan diskriminasi di masyarakat. Sementara perbedaan di antara mereka hanya pada pemilihan pejabat dan pelaksananya di pemerintahan mendatang.

Di pemilu sebelumnya juga ada kondisi seperti ini dan meski banyak janji dari para kandidat, tapi mengingat sejumlah kecerobohan dan kelemahan manajemen, banyak janji yang tidak terealisasi. Hasil dari kondisi ini adalah inflasi, kelangkaan barang dan kerentanan ekonomi serta produk nasional yang sampai saat ini kita masih menyaksikan dampaknya.

Mengingat kondisi ini, pemilu mendatang yang akan digelar Jumat (18/6/2021) dari satu sisi dapat menjadi awal sebuah perubahan. Dari sisi lain, juga ada potensi lemahnya partisipasi warga di pemilu. Manfaat dan kerugian dari setiap kondisi ini memiliki nilai sangat penting. Partisipasi maksimum di pemilu pastinya akan sangat menentukan, karena pemilu adalah hak rakyat dan pengaruh pertama setiap suara yang disalurkan di kotak-kotak suara adalah memperkokoh kekuatan, kohesi dan kedaulatan nasional serta agama. Menganggap tidak penting hak ini artinya ketidakpedulian terhadap nasib dan masa depan politik negara yang pastinya akan memiliki dampak negatif selama bertahun-tahun.

Laman resmi Kantor Pelestarian dan Penerbitan Karya Rahbar, Ayatullah Khamenei menulis, "Terkadang satu suara juga efektif; Jangan ada yang berkata apa pengaruh suara saya saja. Terkadang satu atau sejumlah suara berpengaruh pada nasib sebuah negara."

Yang pasti dengan menggunakan fasilitas negara, kita dapat mengambil langkah untuk kemajuan negara dan menggunakan kekuatan manajerial dengan kapasitas maksimal untuk pembangunan negara dan membuktikan secara praktis kenyataan kata-kata dan slogan.

Pengalaman menunjukkan jika kandidat menang di pemilu, terlepas dari faksi dan kubu politik, tidak mulai bekerja sejak awal menjabat, maka ia tidak akan mampu merealisasikan tujuan dan janji-janji kampanyenya.

Kini prioritas dan tolok ukur akhir di pemilu, terlepas dari nama atau popularitas kandidat, adalah program dan kampanye pemilunya. Pastinya suara rakyat terhadap program kandidat sepadan dengan realisme dan rasionalitasnya dalam segala hal. (MF)

342/


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*