Mengapa Pamor Uni Eropa di Dunia Merosot ?

Mengapa Pamor Uni Eropa di Dunia Merosot ?

Sikap Uni Eropa yang mengekor kebijakan Amerika Serikat memicu pertanyaan mengenai independensinya sebagai pemain penting di arena internasional.

Menurut kantor berita Ahl al-Bayt (AS) - ABNA , Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell mengingatkan posisi blok tersebut yang telah menjadi instrumen daripada aktor utama di kancah internasional, dengan mengatakan, "Saat ini, Eropa semakin berisiko menjadi instrumen daripada aktor dalam urusan internasional. Alih-alih menjadi pengambil keputusan, Uni Eropa justru menanggapi keputusan orang lain,".

Borrell mengakui bahwa peran Uni Eropa di arena internasional sangat penting, tapi dalam beberapa tahun terakhir blok tersebut semakin selaras dengan keinginan AS. Sikap UE terhadap Cina, Rusia, dan Iran menjadi buktinya.

Ketika pejabat UE memandang JCPOA sebagai salah satu pencapaian politik terpenting Eropa dalam beberapa tahun terakhir, tapi blok tersebut gagal memenuhi komitmennya di JCPOA dan menunjukkan kelemahannya terhadap Amerika Serikat.

Bahkan, Uni Eropa tidak dapat memenuhi kewajiban minimumnya dalam rangka meluncurkan sistem Instex sebagai sistem transaksi keuangan dengan Iran. Dengan kata lain, masalah JCPOA dan Instex menunjukkan bahwa Uni Eropa, yang terdiri dari beberapa ekonomi paling kuat di dunia, tidak dapat berdagang dengan Iran tanpa izin AS.

Ketidakmampuan ini tidak terbatas pada hubungan antara UE dengan Iran, tetapi juga tunduk pada kebijakan AS terhadap Cina dan Rusia. Selama beberapa tahun terakhir, para pejabat Washington telah berusaha untuk melibatkan Eropa dalam kebijakan anti-Cina yang mereka lancarkan.

Tidak hanya itu, Washington juga mencoba untuk menyelaraskan Eropa dengan tindakan Cina di Asia Timur demi mendukung aksi militer AS di Laut Cina Selatan dan Selat Taiwan, dan akhirnya Eropa menjatuhkan sanksi terhadap beberapa pejabat Beijing.

Perlakuan sepihak Amerika terhadap orang Eropa ini berlangsung sangat jauh, sehingga Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan kepada rekan-rekan Eropanya setelah kesepakatan militer AS yang kontroversial dengan Australia bahwa "Amerika Serikat mengejar kepentingannya sendiri dan orang-orang Eropa harus  mengambil tanggung jawab untuk pertahanan dirinya sendiri".

Peringatan semacam itu jelas menunjukkan keprihatinan serius para pejabat Eropa tentang penggunaan Uni Eropa oleh Washington sebagai alat untuk mencapai tujuan anti-Cina.

Dalam kasus Rusia juga menunjukkan kepatuhan Eropa terhadap kebijakan Washington yang merugikan kepentingannya sendiri. Ketika kondisi regional mengharuskan hubungan antara Eropa dan Rusia dipertahankan dalam konteks perdamaian dan ketenangan, tapi dalam beberapa bulan terakhir terjadi eskalasi campur tangan AS dalam urusan Rusia yang mempengaruhi kepentingan Eropa.

Misalnya, persaingan politik dan keamanan AS dengan Rusia telah mempersulit Eropa untuk mendapatkan energi, terutama dari sumber daya gas Rusia yang sangat besar. Situasi ini membahayakan kehidupan jutaan orang Eropa yang bergantung pada energi murah dan bersih. 

Itulah sebabnya, Presiden Dewan Eropa, Charles Michel menyinggung konsekuensi dari perselisihan Washington-Moskow, dengan mengatakan bahwa Uni Eropa harus memiliki lebih banyak independensi dalam pengambilan keputusan dan kapasitas untuk bertindak secara global.

Namun, pengalaman menunjukkan bahwa pihak Eropa tidak memiliki keinginan untuk mengadopsi kebijakan independen dari Amerika Serikat, atau setidaknya mengurangi ketergantungan mereka terhadap Washington, dan di masa mendatang, Uni Eropa masih akan menjadi bayang-bayang politik AS yang membuat pamornya memudar di dunia.(PH)

342/


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*