Mencermati Operasi Militer Turki di Irak Utara dan Upaya Jamin Energi Eropa

Mencermati Operasi Militer Turki di Irak Utara dan Upaya Jamin Energi Eropa

Menteri Pertahanan Turki, Hulusi Akar seraya menjelaskan bahwa Irak negara sahabat, tetangga dan sahabat kami, dan kami sangat menghormati perbatasan Irak, kedaulatan nasional, indepeden dan integritas wilayah negara ini, menilai sukses operasi Claw-Lock di Irak utara.

Menurut Kantor Berita ABNA, Ia mengatakan, selama operasi Claw-Lock, 73 anasir PKK terbunuh, 102 tempat persembunyian dan 524 bom rakitan berhasil dihancurkan.

Statemen ini menjawab kritik dan protes pihak Irak khususnya di antara sejumlah fraksi penting parlemen yang meyakini bahwa Turki memiliki tujuan lebih besar dari sekedar melawan ancaman anasir PKK di Irak, serta memanfaatkan berlarut-larutnya pembentukan pemerintahan baru Baghdad.

Dari sudut pandang ini, Turki mendapat dukungan dari pemerintah Arbil dan juga kebungkaman pemerintah al-Kadhimi memudahkan Turki memajukan kebijakannya.

Sebelum ini, Turki berdasarkan kesepakatan dengan pemerintah pusat Irak yang ditandatangani di era pemerintahan mantan diktator terguling Saddam Husein, diijinkan untuk memburu anasir PKK hingga kedalaman 20 km wilayah Irak, dan langsung kembali ke balik perbatasan resmi setelah melancarkan operasinya. Tapi ternyata Turki menambah jarak ini tiga kali lipat dari kesepakatan sebelumnya, dan melancarkan operasi Clay-Lock hingga kedalaman 60 km wilayah Irak.

Selain itu, berbeda dengan sebelumnya, Turki ternyata enggan kembali ke perbatasannya dengan Irak dan Ankara biasanya setelah melancarkan operasi membangun sebuah pangkalan dan mempertahankan sebagian pasukannya di wilayah Irak. Saat itu, diperkirakan wilayah seluas 250 km persegi Irak diduduki oleh pasukan Turki. Praktek ini telah berlangsung sejak munculnya Daesh (ISIS), tapi setelah tumbangnya pemerintahan kelompok Takfiri yang memplokamirkan diri di Mosul, kehadiran ini masih terus dilanjutkan.

Wilayah yang dipilih Turki untuk operasi militernya dan pembangunan pangkalan adalah bagian dari wilayah yang berpotensi untuk pengiriman gas utara Irak ke Eropa melalui wilayah Turki. Mayoritas wilayah yang ditarget Turki di Irak dan Suriah adalah wilayah minyak dan gas atau wilayah yang memiliki hubungan strategis di peta jalan perdagangan internasional. Sepertinya salah satu tujuan penting serangan ini adalah melawan proyek internasional Cina (proyek OBOR/jalur sutra baru), karena Turki memutuskan mengontrol ekonomi Irak dan sumber energinya (minyak dan gas Provinsi Nenive dan Kirkuk) serta menjamin pengiriman energi pengganti gas Rusia ke Eropa dan Israel.

Oleh karena itu, Masrour Barzani di London menekankan siap menjamin kebutuhan gas Eropa menggantikan Rusia. Di London ia juga berbicara mengenai "konfederasi", sebuah bentuk pemisahan diri; Oleh karena itu, pakar politik meyakini bahwa pendudukan Irak oleh Turki dilakukan dengan dukungan Partai Demokratik Kurdistan Irak (KDP), sama halnya dengan pembentukan sebuah pemerintahan minyak Kurdi di bawah bayang-bayang Turki sehingga wilayah Kurdistan sedikit banyak lepas dari kontrol pemerintah pusat Baghdad dan melalui Turki akan terhubung ke Eropa dan Israel.

Setelah keputusan pengadilan federal Irak terkiat larangan penjualan minyak dan gas oleh wilayah Kurdistan, Arbil mencapai kesepakatan dengan Turki, Eropa dan Amerika untuk melawan pemerintah pusat Baghdad. Dengan demikian Turki dapat diprediksikan akan memperluas wilayah yang dikontrolnya ke arah Sinjar, sehingga dapat memutus rute perekonomian global (jalur sutra) dan memindahkannya ke Arbil dan wilayah Turki, khususnya setelah kesepakatan Mustafa al-Kadhimi dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, di mana ditetapkan bahwa Sinjar akan dikontrol oleh Arbil.

Dari sudut pandang ini, Turki bersama pemerintah Masoud Barzai di samping Amerika berada di satu front dalam melawan Jalur Sutra Cina (OBOR). Sementara pemerintah Irak di era pemerintahan Adel Abdul Mahdi memutuskan untuk menjadi bagian dari rencana Jalur Sutra ini untuk meraih konsesi rekonstruksi negara ini. Tapi karena kudeta yang didukung AS terhadap pemerintah Adel Abdul Mahdi, kontrak senilai 400 juta dolar Irak dengan Cina tergantung, dan Baghdad setelah berkuasanya PM Mustafa al-Kadhimi condong kepada AS. Hal ini peluang untuk melaksanakan pengiriman gas utara Irak ke Eropa melalui wilayah Turki setelah perang Ukraina mencapai tahap realisasi dan semakin diseriusi.

Mengingat masalah ini, kekhawatiran anggota parlemen Irak atas berlanjutnya operasi militer Turki di utara negara ini sengat serius, dan Irak mengingat kebuntuan politik saat ini ada potensi bagwa pemerintah mendatang Baghdad juga akan mengalami kekhawatiran ini secara serius. (MF)

342/


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*