Indonesia:

Melalui Webinar Nasional, Khatam Istitute Kaji Tradisi Puasa Lintas Agama

Melalui Webinar Nasional, Khatam Istitute Kaji Tradisi Puasa Lintas Agama

Kegiatan yang diadakan melalui zoom meeting ini dilaksanakan dalam rangka merefleksikan lebih dalam terkait makna tradisi puasa dalam praktik berbagai agama, dengan tema “Spirit Humanitas dalam Tradisi Puasa; Studi Komparatif Lintas Agama”.

Menurut Kantor Berita ABNA, Membahas tradisi puasa lintas agama, Khazanah Intelektual Muslim (Khatam) Institute, salah satu lembaga di bawah naungan Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin menyelenggarakan Webinar Nasional yang dikenal dengan SYIAR CINTA 7 pada Sabtu (23/4). 

Kegiatan yang diadakan melalui zoom meeting ini dilaksanakan dalam rangka merefleksikan lebih dalam terkait makna tradisi puasa dalam praktik berbagai agama, dengan tema “Spirit Humanitas dalam Tradisi Puasa; Studi Komparatif Lintas Agama”. 

Syiar Cinta adalah konsep kegiatan yang telah diinisiasi oleh Khatam Institute sejak tahun 2015. Setiap tahunnya acara ini mengangkat berbagai tema-tema menarik dan urgen terkait lintas agama seperti konsep altruisme, kepemimpinan berasaskan cinta, gerakan pembebasan perempuan dalam agama-agama, tafsir Sila Pertama Pancasila, hingga tema meneladani para tokoh patriotisme pemuda lintas agama. Konsistensi pelaksanaan kegiatan ini dibangun atas dasar spirit penyelenggara memfasilitasi forum temu dalam mendialogkan perbedaan untuk satu dalam cinta. 

Adapun dalam sambutannya membuka Webinar Lintas Agama Syiar Cinta 7, Andi Arifah (Direktur Khazanah Intelektual Muslim Institute) menyampaikan bahwa kemerdekaan memeluk agama dan menjalankan praktik peribadatan telah ditegaskan dalam UUD 1945, hal ini menunjukkan pentingnya menjalankan ibadah berdasarkan tuntunan ajaran Tuhan Yang Maha Esa sebagai salah satu unsur pembentukan manusia berkualitas Pancasila di Indonesia. 

“Masih tidak banyak yang menyadari bahwa tradisi puasa ini juga dimiliki oleh agama-agama selain Islam. Manusia yang berpuasa idealnya memancarkan spirit humanitas bagi lingkungan sekitarnya. Secara hikmah, manfaat berpuasa tidak hanya berhenti pada tujuan kebaikan diri manusia sebagai individu, melainkan dapat memancar luas seperti cahaya menerangi kebenaran, keadilan dan kebaikan secara sosial. Dalam rangka menyiarkan keagungan hikmah puasa dalam memberi andil solusi pada berbagai persoalan kemanusiaan, maka Syiar Cinta ke-7 (2022) kali ini Khazanah Intelektual Muslim (Khatam) Institute mengangkat tema terkait tradisi puasa.” jelasnya. 

Disampaikan oleh Retno (Ketua Panitia Syiar Cinta 7) bahwa tujuan webinar ini adalah untuk mempererat hubungan harmonis antar agama demi persatuan dalam NKRI dan menemukan bentuk gerakan bersama dalam membangun manusia religius Indonesia yang berkualitas Pancasila. Webinar ini dihadiri oleh 200-an peserta yang terdiri dari berbagai kalangan, latar belakang instansi dan daerah di seluruh Indonesia secara online.

Kegiatan yang dilaksakan dari pukul 08.30-12.00 WIB ini menghadirkan keynote speaker dan narasumber yang mumpuni dalam menguraikan tema terkait. Sebagai keynote speaker, mewakili Kementerian Agama Republik Indonesia, Dr. KH. Adib, M.Ag (Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah) menyampaikan dukungan dan kebanggaan atas kegiatan Syiar Cinta ini. 

KH. Adib mengungkapkan, “Tantangan yang sedang dihadapi oleh bangsa kita saat ini yaitu berupa maraknya isu-isu yang mengancam kesatuan dan persatuan bangsa kita. Kalau kita tinjau dari spirit humanisme, puasa adalah salah satu ibadah yang menonjolkan aspek-aspek humanisme yang luar biasa. Puasa adalah ibadah yang memiliki makna tidak hanya spiritual tetapi juga makna sosial.”

Acara inti webinar ini, dimoderatori oleh Muhammad Agus Salim, M.A (Wakil Direktur Khatam Institute & Wakil Mudir Ma’had Aly Khatamun Nabiyyin). Adapun tokoh-tokoh agama yang hadir sebagai narasumber diantaranya tokoh Islam Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A., Ph.D. (Rais Syuriah PCI Nahdatul Ulama di Australia –New Zealand), tokoh Sanatana Dharma Anand Krishna (Penulis aktif Pengembangan Diri dan Lintas Agama), tokoh Budha Bikkhu Dhammasubho Mahathera (Sangha Theravada Indonesia), tokoh Khonghucu Ws. Liem Liliany Lontoh, S.E., M.Ag. (Kabid Hubungan Antar Agama MATAKIN), dan tokoh Kristen Yerry Pattinasarany (Pendeta Gereja IRCC Devisi Pelayanan Misi).

Para Narasumber yang merupakan tokoh dari masing-masing agama memaparkan materi terkait tema SYIAR CINTA 7 ini dengan sangat harmonis dan saling melengkapi, menunjukkan bahwa terdapat keagungan dan keindahan sekaligus dari tradisi puasa dinama muara makna dari menjalankannya adalah melatih spiritualitas manusia untuk bermanfaat bagi sesama manusia sehingga dekat kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Diuraikan oleh Yerry Pattinasarany bahwa Bulan Ramadhan adalah bulan cinta untuk semua agama sehingga budaya puasa seharusnya bisa menjadi pemersatu bangsa. “Dalam Kristen menjelang Pasca biasanya diadakan puasa untuk memberi diri ruang lebih besar kepada Tuhan. Tuhan bekerja bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Ajaran Yesus Kristus berbunyi “kasihilah Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal Budi. Lalu kasihilah sesama manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri”” jelas Yerry. 

Adapun Bhikku Dhammasubho Mahatera memaparkan tentang landasan, makna dan berbagai tata cara berpuasa dalam agama Budha. Terdapat sekurangnya lima kesaktian yang mana puasa berada di dalamnya yakni ideologi nasional Pancasila, bahasa Indonesia, kebangsaan Indonesia, budaya nasional berupa kearifan lokal kita dan budaya spiritual (salah satunya adalah puasa). 

Dari Liem Liliany Lontoh menyampaikan, “Dalam Khonghucu, puasa dari bentuknya digolongkan menjadi dua jenis yaitu puasa secara jasmani dan rohani. Prinsip utama dalam menjalankan puasa rohani adalah bisa membatasi diri dari kesusilaan sehingga segala hal yang baik itu bisa berkembang dalam diri. Jangan sampai puasa kehilangan makna hanya karena ketidakseriusan umat dalam menjalankannya. Puasa adalah kegiatan multi makna, dia bukan hanya sekedar perintah Tuhan tapi juga merupakan sarana dari pelatihan disiplin diri”. 

Sementara Anand Krishna menjelaskan, “Kata Upavasa adalah asal kata dari puasa yang berarti bukan hanya menahan diri secara fisik tapi juga menarik diri dari vasana (obsesi atau keinginan-keinginan yang berlebihan), untuk kemudian mendekatkan diri kepada Ada yang sejati yaitu  Tuhan”. 

Adapun Nadirsyah Hosen berkata terdapat tiga kebutuhan dasar manusia yaitu makan, minum, dan seks, barang siapa yang mampu mengontrol ketiganya dengan berpuasa, maka merekalah yang mampu dekat dengan Tuhannya. Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa puasa adalah ibadah yang sudah diperintahkan dari agama-agama terdahulu sebelum Islam, oleh karena itu puasa adalah salah satu ibadah klasik, tradisional, dan paling tua usianya di dunia. 

Cendekiawan muslim Nahdatul Ulama ini memaparkan, “Tuhan menjadikan anak cucu Adam sebagai penguasa di bumi ini karena kita mempunyai daya membangun dan merusak. Al-Quran surah al-Anbiya ayat 15 menjelaskan bahwa bumi dan seisinya hanya pantas diserahkan kepada orang Shaleh, yaitu orang yang tidak merusak alam ataupun lingkungan, di daratan maupun di lautan. Puasa adalah ritual klasik kepada pewaris bumi yaitu orang-orang shaleh pada zaman dahulu yang selalu melakukan ritual puasa ini. Pada saat kita berpuasa sebenarnya kita telah menggabungkan diri kita dalam konteks sejarah kemanusiaan kita. Kelangsungan peradaban manusia ini berada di tangan orang yang mampu memaksimalkan potensi kemanusiaannya, pada saat yang sama terus berlatih mengontrol tabiat buruk agar tidak melampaui batas. Karena kalau kita melampaui batas maka bakalan rusak bumi ini. Penafsiran agama yang paling hakiki adalah penafsiran yang mendasarkan cinta dan kasih “Bismillahirahmanirahim“ (Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*