Ayatullah Reza Ramezani:

Madrasah Ahlulbait as Sarat dengan Rasionalitas, Spritualitas dan Keadilan

Madrasah Ahlulbait as Sarat dengan Rasionalitas, Spritualitas dan Keadilan

“Yang harus muncul adalah mazhab Ahlulbait as. Madrasah Ahlulbait as penuh dengan rasionalitas, spiritualitas dan keadilan. Ini juga harus ada dalam konteks keluarga.”

Menurut Kantor Berita ABNA, Seminar “Akhlak dan Keluarga” yang diadakan Lembaga Internasional Ahlulbait as di Universitas Internasional Ahlulbait as di Tehran ibukota Republik Islam Iran pada Minggu (3/4) menghadirkan Sekretaris Jenderal Lembaga Internasional Ahlulbait as sebagai salah satu pembicara.

Ayatullah Reza Ramezani dalam seminar tersebut berkata, "Diriwayatkan bahwa jika kita mengetahui keutamaan dan fadhilah bulan suci Ramadhan, maka kita menginginkan bulan Ramadan berlangsung sepanjang tahun. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa salah satu nama dari bulan Ramadan adalah Syahrullah yang artinya adalah bulannya Allah. Artinya bulan Ramadan adalah bulannya Allah, dimana Allah mengundang umat manusia yang beriman untuk dijamu sepanjang bulan Ramadan. Dan di setiap pesta, tuan rumah menempatkan perjamuan terbaiknya di atas meja.”

"Ramadhan dikaitkan dengan tidak makan atau minum, yang memiliki filosofi sendiri. Masalah yang ingin dicapai manusia bukanlah kekayaan dan kekuasaan karena banyak orang yang memiliki kekuasaan dan kekayaan, tetapi ada banyak tekanan dan kecemasan dalam diri mereka, orang-orang ini membutuhkan kedamaian, ketenangan batin dan kehidupan yang baik yang terlihat dengan pikiran murni. Ini tidak mungkin dicapai oleh banyak orang dan hanya mereka yang menerima kebenaran dan esensi agama yang akan mencapainya.” Tambahnya. 

Mengenai buah dari hubungan manusia dengan Tuhan, Sekretaris Jenderal Lembaga Internasional Ahlulbait as ini mengatakan, “Kebenaran agama membawa kehormatan bagi manusia. Jika seseorang ingin mencapai kehormatan, ia harus menghubungkan dirinya dengan agama. Karena hubungan terbaik adalah dengan Tuhan. Hubungan manusia dengan Tuhan memberikan kekuatan kepada manusia, dan hubungan ini membawa kedamaian. Jika Tuhan tidak ada dalam kehidupan manusia, manusia tidak memiliki motivasi untuk hidup dan cepat lelah. Jika manusia diberi kebebasan tanpa batas untuk bebas melakukan apa saja, maka manusia sendiri yang akan capek dan kelelahan. Karena itu kebenaran ada pada agama yang mengatur dan memberi batasan-batasan pada manusia.”

Pada bagian lain penyampaiannya, Ayatullah Ramezani menyinggung tujuan didirikannya Universitas Internasional Ahlulbait as. Ia berkata, ”Yang diajarkan di universitas ini adalah pengetahuan dan pengetahuan inilah yang akan dipergunakan nanti di masyarakat untuk membawa perubahan yang lebih baik. Namun tidak cukup hanya dengan pengetahuan. Orang yang berpengetahuan juga harus dibarengi dengan kesantunan akhlak. Ibnu Sina yang dikenal sebagai tokoh yang bijak dan dengan segala kebesarannnya ia pernah berkata,“Saya tahu bahwa saya bodoh.” Ini adalah bentuk kerendah hatian. Buah dari pengetahuan yang benar adalah kerendahan hati dan ketaatan. Poin-poin ini harus kita perhatikan. Kita tidak mengetahui ilmu pengetahuan alam semesta yang tak terbatas. Ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan telah memenuhi dunia. Nama-nama Tuhan terlihat di seluruh dunia, sehingga universitas adalah tempat untuk memahami kebesaran alam semesta dan pencipta alam semesta. Universitas harus bisa mencetak insan akademi yang tidak hanya berpengetahuan luas namun juga berbudi pekerti luhur.”

Ulama besar dari Hauzah Ilmiah Qom ini lebih lanjut mengatakan, ”Bulan suci Ramadhan adalah kesempatan bagi orang-orang untuk menemukan diri mereka sendiri dan memperkuat hubungan mereka dengan Tuhan. Memperkuat hubungan dengan Tuhan adalah salah satu tugas Universitas Islam. Universitas adalah tempat ilmu, sastra, budaya, dll, dan karena ini adalah universitas internasional, maka harus akrab dengan sastra internasional. Sastra internasional adalah tempat selain sastra, ini adalah sastra dunia, dan kita harus akrab dengan sastra dunia, karena ketika kita ingin berbicara dengan khalayak internasional, berbeda dengan khalayak lainnya. Oleh karena itu, sastra internasional memiliki sastranya sendiri.”

“Yang harus muncul adalah mazhab Ahlulbait as. Madrasah Ahlulbait as penuh dengan rasionalitas, spiritualitas dan keadilan. Ini juga harus ada dalam konteks keluarga.” Tambahnya. 

 

Ayatullah Ramezani tentang pentingnya keluarga dalam Islam mengatakan, “Salah satu ayat yang merupakan mukjizat adalah ayat yang berbunyi, وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ yang artinya “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” Ini surah ar-Rum ayat 21. Banyak yang berpandangan bahwa dari ayat ini pihak perempuanlah yang mendatangkan ketenangan bagi laki-laki sementara tidak demikian sebab dalam agama perempuan yang mendatangkan ketenangan bagi laki-laki juga sebaliknya laki-laki mendatangkan ketenangan pada perempua. Pandangan Al-Qur'an adalah komprehensif dan menganggap ketenangan bersumber dari dua sisi. Ini adalah ramuan keabadian sistem keluarga bahwa cinta harus menjadi prinsip.” 

Lebih lanjut membahas masalah keluarga, Ayatullah Ramezani menyinggung tradisi keluarga di dunia Barat yang disebutnya mengalami banyak penyimpangan. “Barat hari ini telah banyak mendistorsi keluarga. Ada distorsi di maktab liberalisme. Kami mengatakan bahwa sistem keluarga, secara alami, dimulai dengan pernikahan, yaitu, pria dan wanita. Yang terkait satu sama lain dengan kriteria dan menjadi akrab. Menurut Ayatullah Jawadi Amuli yang mengatakan bahwa wanita adalah manifestasi keindahan Tuhan dan pria adalah manifestasi keagungan Tuhan. Ini adalah pilar keluarga. Definisi ini telah terdistorsi di Barat saat ini. Di Barat, definisi keluarga mengatakan bahwa keluarga dan pernikahan tidak harus bersumber dari pasangan laki-laki dan perempuan. Mereka mengubah konsep bahwa pernikahan boleh saja berlaku untuk pasangan sejenis. Hal ini adalah penyimpangan besar dalam pernikahan. Dalam situasi ini, tidak ada kedamaian dalam tempat tinggal, karena tempat tinggal ini akan terjadi karena hubungan yang benar dengan kriteria yang benar di dunia.” 

Pada  bagian akhir penyampaiannya, Sekretaris Jenderal Lembaga Internasional Ahlulbait as menyatakan,  “Ketika ada ketidaknyamanan di luar rumah, kita harus memasuki rumah dengan bibir tersenyum dan kita harus mengalami hal-hal ini. Dalam hal ini, ini cinta menjadi bermakna dan abadi, jika tidak karena cinta usia berumah tangga akan berumur pendek.”


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*