Konflik Cina dan AS Semakin Memanas, Mengapa?

Konflik Cina dan AS Semakin Memanas, Mengapa?

Meski ada prediksi mengenai penurunan tensi antara Cina dan negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat setelah lengsernya Donald Trump, namun berkuasanya Joe Biden tetap tidak mampu meredam eskalasi ketegangan ini.

Menurut Kantor Berita ABNA, Protes berlanjutnya petualangan Amerika Serikat di Laut Cina Selatan, perilisan laporan tahunan pelanggaran HAM di Amerika Serikat, penekanan dihentikannya sanksi terhadap Iran dan langkah praktis untuk kembali ke JCPOA oleh petinggi Cina selama beberapa hari terakhir, termasuk kasus yang mengindikasikan berlanjutnya tensi di hubungan Beijing-Washington serta sejumlah negara Barat.

Duta Besar Cina di AS, Cui Tiankai menyatakan bahwa Washington demi menciptakan hubungan rasional dengan Beijing, pertama-tama harus komitmen terhadap Piagam PBB terkait hubungan antarnegara.

Cui Tiankai juga merespon statemen Presiden AS Joe Biden yang mengatakan Washington tidak ingin berkonflik dengan Beijing, tapi kedua pihak akan telibat persaingan sangat keras. "Kami tidak memiliki masalah mengenai persaingan bebas dan adil, namun masalahnya adalah jika kita perhatikan apa yang terjadi selama beberapa tahun terakhir antara Cina dan AS, atau khususnya apa yang terjadi antara AS dan negara dunia lainnya, maka kita akan sampai pada pertanyaan, bagaimana ada persaingan yang sehat," tambah Cui Tiankai.

Statemen Biden menunjukkan bahwa ia paling tidak untuk saat ini tidak berencana mengubah strategi ofensif terhadap Cina yang diprakarsai oleh Donald Trump.

Sikap Presiden AS menolak konfrontasi dengan Cina, namun membenarkan berlanjutnya persaingan keras di antara kedua negara, membuat pudar harapan akan perubahan di hubungan permusuhan Washington terhadap Beijing di era Biden.

Penekanan Cina terhadap pendekatan independen di tingkat internasional termasuk tidak mengekor kebijakan sanksi AS terhadap Iran, khususnya dengan penandatanganan Kemitraan Strategis Komprehensif 25 tahun antara Beijing dan Tehran di kunjungan Menlu Cina Wang Yi ke Tehran Sabtu (27/3/2021) dapat memperlebar kesenjangan di hubungan AS dan Cina.

Amerika Serikat yang selama beberapa dekade lalu dengan berbagai alasan menjatuhkan sanksi zalim kepada Iran, menganggap langkah Cina menandatangani kesepakatan Kemitraan Strategis dengan Tehran sebagai faktor yang meruntuhkan struktur sanksi ini dan kegagalan kebijakannya di bidang ini.

Tapi perlu diperhatikan bahwa sejak keluarnya Amerika dari JCPOA dan eskalasi sanksi negara ini terhadap Iran, penerapan kebijakan muqawama aktif terhadap sanksi ini yang membuat sanksi Amerika tersebut mandul, secara praktis memaksa petinggi Washington mengakui kegagalan pendekatan sanksi terhadap Tehran.

Dengan demikian diprediksikan bahwa peningkatan hubungan Cina dan Iran ke level strategis dapat meningkatkan kemarahan terhadap Beijing dan berpengaruh pada semakin kerasnya persaingan di antara mereka seperti yang diisyaratkan Biden.

Ada kekhawatiran Gedung Putih bahwa Cina bersama Iran serta sejumlah negara termasuk Rusia akan membentuk koalisi baru di kawasan, di mana bergabungnya negara lain ke koalisi ini akan membuat koalisi tersebut berubah menjadi blok kuat untuk melemahkan hegemoni Amerika Serikat dan mengalahkan rencana hegemoni Washington di kawasan.

Sepertinya kebijakan ofensif, unilateralisme dan kekerasan Gedung Putih dalam menghadapi negara lain, organisasi regional dan internasional membuat hegemoni negara ini semakin pudar, ketimbang anggapan akan meningkatkan kekuatan Amerika. (MF)

342/

 


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*