Kemenangan Assad dan Kejinya Berita Hoax

Kemenangan Assad dan Kejinya Berita Hoax

Kemenangan Bashar Assad dalam Pilpres Suriah pada Rabu (26/5) dengan meraup 95,1 % suara adalah fakta terbaru yang tidak terbantahkan bahwa Assad dicintai rakyatnya.

Suriah sebelum tahun 2011 adalah negara yang damai dan aman. Warganya yang hidup dalam keragaman menjalani hari-harinya dengan harmonis. Kesejahteraan dan kemakmuran penduduknya hampir merata dengan hutang luar negeri nyaris nol. Suriah bukan hanya menjadi tujuan wisata turis mancanegara, namun juga destinasi pendidikan yang menjadi target pelajar asing untuk melanjutkan studinya. Setidaknya sesaat sebelum konflik tercatat 250 mahasiswa Indonesia sedang studi diberbagai kota di Suriah. Sampai saat ini, alumni mahasiswa Indonesia di Suriah total menembus angka 10 ribu orang.

Sekretaris Jenderal Al-Syami (Ikatan Alumni Syam Indonesia) Najih Ramadhan yang pernah berada di Suriah dari tahun 2009 sampai 2013 melalui obrolan langsung dengan penulis menyebutkan Suriah adalah target pelajar Indonesia untuk mendalami ilmu-ilmu agama. Ia menyebut Suriah adalah gudangnya ulama Sunni Syafii dengan pengamalan khas yang begitu dekat dengan tradisi Nahdiyin.

Semboyan Suriah yang tegas dipegang pemerintah dan rakyatnya, “al-Din lillah, wa al-Wathan lil Jami’ "-agama untuk Allah, negara untuk rakyat-. Di Suriah agama dan keyakinan menjadi urusan pribadi yang tidak dicampuri negara. Negara hanya mengurusi kesejahteraan dan keamanan rakyatnya tanpa memandang apa agamanya. Tidak pernah terjadi di Suriah demonstrasi menentang calon pemimpin hanya karena beda agama atau beda mazhab. 

Namun dipertengahan 2011 tiba-tiba terjadi perang besar yang merusak banyak infrastruktur dan sendi-sendi kehidupan di Suriah. Kelompok pemberontak yang diback up negara-negara Barat termasuk Turki membuat kekacauan di Suriah. Dibantu milisi-milisi asing bersenjata berat dan mengantongi fatwa ulama-ulama Arab Saudi untuk jihad di Suriah, kubu pemberontak berhasil merebut sejumlah wilayah Suriah. Banyak yang menyebut, isu utamanya adalah karena perbedaan mazhab. Presiden Suriah Bashar Assad adalah rezim Syiah yang membantai warga Suriah yang Sunni, dan informasi inilah yang sedemikian massif beredar di Indonesia.

Sebenarnya fakta yang diungkap para pelajar Indonesia yang menyaksikan dan merasakan langsung kehidupan di Suriah sebelum dan pasca konflik tersebut sudah cukup untuk membantah informasi tidak benar mengenai Suriah. Mereka adalah pelajar yang bermazhab Sunni dan belajar dari alim ulama Suriah yang juga Sunni diantaranya Syaikh Muhammmad Said Ramadan al-Bouthi, Syaikh Adnan Al-Afyouni, Syaikh Ahmad Kaftaro, Syaikh Nuruddin dan lain-lain. Kalau memang rezim Assad memusuhi dan membunuhi rakyatnya yang Sunni, tentu ulama-ulama Sunni yang bermukim di Damaskus itulah yang lebih dulu dibunuh. Faktanya setidaknya Syaikh Ramadan al-Bouthi dan Syaikh Adnan al-Afyouni justru terbunuh oleh aksi bom bunuh diri kelompok pemberontak, bukan oleh rezim Assad. 

Dubes Indonesia untuk Suriah Djoko Harjanto sampai turut angkat bicara. Dalam wawancaranya dengan Republika (21/3/2016) menyebut pemerintah Suriah membunuhi rakyatnya tidak benar. Ia menjelaskan, di balik ketangguhan Bashar Assad sampai tidak jatuh oleh ronrongan internasional itu karena dukungan solid rakyatnya. Mengenai adanya pihak oposisi, itu biasa dalam sistem bernegara, sebutnya.

Tidak cukup dengan itu, untuk membendung berita hoax, sampai  Ketua Persatuan Ulama Suriah   Syaikh Taufiq Ramadhan Al-Buthi dan Mufti Agung Damaskus Syekh Muhammad Adnan Al Afyouni merasa perlu ke Indonesia dan menjelaskan langsung apa sebenarnya yang terjadi di Suriah. Informasi yang seharusnya mengubur hoax mengenai Suriah di Indonesia. Namun suara-suara mereka teredam oleh bunyi riuh mesin media-media raksasa yang pro kejatuhan Assad dan juga propaganda sejumlah ormas yang seolah tidak mau tahu fakta sebenarnya, intinya Bashar Assad harus jatuh. 

Merusaknya Berita Hoax

Serbuan informasi manipulatif dan berita-berita hoax mengenai Suriah begitu gencar memasuki ruang-ruang pribadi kita. Merusak dan menghancurkan banyak hal. Nikmatnya berselancar di dunia maya dirusak oleh ketegangan karena perdebatan mengenai konflik di Suriah. Media sosial yang sebelumnya digunakan untuk bercengkrama virtual dan bersenang-senang, berubah karena turut emosional menyikapi pro dan kontra konflik Suriah. Hubungan persahabatan bahkan kekeluargaan berantakan karena pilihan sikap yang berbeda. Berapa banyak WAG yang hambar karena perdebatan mengenai Suriah?.

Yang memilih memaparkan bukti-bukti kebohongan media-media propagandis pemberontak Suriah, akan mendapat teror secara pribadi, dan akun medsosnya akan dilaporkan ramai-ramai untuk diblokir paksa. Memilih netralpun akan menerima hujan hujatan. Fenomena yang sangat ganjil sebenarnya. Fenomena yang tidak bisa diterima. Tidak pernah kita berdebat dan saling membenci sekeras itu sebelumnya karena negeri yang dilanda perang nun jauh disana. Ada misi politik dibalik kampanye memusuhi Bashar Assad di Indonesia. Jangan dipungkiri, konflik Suriah telah mengalihkan perhatian umat Islam dari membela Palestina. Selama 10 tahun konflik Suriah, Israel terus membangun pemukiman Yahudi di territorial Palestina.

Terlebih lagi, konflik Suriah dibawa-bawa ke ranah aqidah. Syiah yang sebelumnya tidak pernah jadi perhatian khusus di Indonesia, tiba-tiba menjadi fokus perdebatan dan menguras energi umat. Sebelum 2011 tidak pernah ada yang mengurusi Assad itu mazhabnya apa, padahal telah menjadi presiden di Suriah sejak tahun 2000. Namun tiba-tiba ia diklaim Syiah yang membantai rakyatnya sendiri yang Sunni. Efek isu Syiah menembus sampai ke Indonesia. Ulama Indonesia yang menolak mengkafirkan Syiah akan tervonis Syiah juga. Iran yang sebelumnya dielu-elukan di era Ahmadi Nejad sekarang menjadi sasaran hujatan dan kebencian karena mayoritas penduduknya Syiah.

Betapa banyak yang tidak memahami Syiah tapi dengan mudah menghakimi, dengan berdalih adanya konflik di Suriah yang oleh media bacaannya digambarkan sebagai rezim Syiah yang membantai Sunni. Betapa informasi dan berita yang penuh kebohongan telah begitu sangat menghancurkan dan merusak. Tidak sedikit yang terbakar ghirah membela sesama muslim yang berangkat ke Suriah untuk turut bergabung dengan pemberontak. Tidak sedikit donasi bentuk simpatik dan kepedulian yang tergelontorkan menuju Suriah yang sayangnya tidak sedikit yang malah jatuh ketangan pemberontak. Sudah berapa banyak waktu yang terkuras saling bersitegang seolah paling tahu kondisi sebenarnya di Suriah. Betapa kita saling mengujat ataupun tidak lagi bertegur sapa karena kebohongan yang tersebar massif dan berulang-ulang. 

Kemenangan Bashar Assad dalam Pilpres Suriah pada Rabu (26/5) dengan meraup 95,1 % suara adalah fakta terbaru yang tidak terbantahkan bahwa Assad dicintai rakyatnya. Moammar Qadafi di Libya, Ben Ali di Tunisia, Husni Mubarak di Mesir, adalah pemimpin-pemimpin Arab yang tumbang oleh hempasan badai Arab Spring. Assad bisa bertahan di tengah badai meski jauh lebih mengerikan, karena kuatnya dukungan rakyat. Ada 13 juta lebih rakyat Suriah yang memilihnya untuk kembali menjadi Presiden sampai 2028. Fakta yang menampik hoax keji yang beredar di Indonesia. 

-Ismail Amin-

Presiden IPI Iran 2019-2021

Mahasiswa S3 Universitas Internasional Almustafa Republik Islam Iran 

(Dimuat pertamakali di Harian Tribun Timur, Jumat 4  Juni 2021)


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*