Dina Sulaeman, Pakar Kajian Timur Tengah:

Jangan Berhenti untuk terus Suarakan Pembelaan pada Palestina

Jangan Berhenti untuk terus Suarakan Pembelaan pada Palestina

“Opini publik itu bisa mempengaruhi kebijakan, sehingga sangat penting. Karena itu kita harus terus bersuara, agar opini publik itu stabil di mayoritas. Tapi kalau kita diam dan tidak peduli, bisa jadi opini publiknya bergeser sebab para buzzer Israel juga terus bergerak. Mari terus kita suarakan dukungan kita pada kemerdekaan sepenuhnya bangsa Palestina.”

Menurut Kantor Berita ABNA, menyikapi tren normalisasi yang dilakukan sejumlah negara muslim dengan Israel, Badan Khusus Fathimiah Bidang Keperempuanan Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran menggelar Webinar dengan tema “Tren Normalisasi Israel, akankah Indonesia Menyusul?”. Webinar yang terlaksana pada Sabtu (14/5) tersebut menghadirkan narasumber Dr. Dina Y Sulaeman Direktur Indonesia Center for Middle East Studies dan Musa Kazhim al-Habsyi koresponden TV Arab. Dibuka oleh Ketua Fathimiah, Ummul Banin dan dimoderatori oleh Haryati, webinar yang berlangsung melalui platform Zoom dan Youtube di chanel HPI Iran ini ini diikuti lebih dari seratus peserta. 

Dalam penyampaian awal materinya, Dina Sulaeman berkata, “Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan bidang khusus keperempuanan HPI Iran ini dalam membincangkan isu Palestina sebab kaum perempuan juga perlu sadar geopolitik dan saya pikir kita memang perlu mengambil spirit juga dari dari perempuan-perempuan Palestina, terutama dari seorang jurnalis perempuan Palestina yang dalam beberapa hari ini kita baca beritanya bernama Shireen Abu Aqleh yang ditembak oleh tentara Zionis yang ternyata sudah 25 tahun kerap memberitakan kejadian di Palestina.  Ada kalimatnya yang menarik, “Sulit untuk mengubah realitas yang ada sekarang di Palestina, tapi minimalnya saya bisa menyampaikan suara rakyat Palestina  ke dunia.” Dan itu penting kita adopsi, bahwa dengan melihat kekuatan luar yang begitu besar memang sulit mengubah realitas, tapi kita bisa mengambil peran yang kita bisa untuk menunjukkan dukungan kita kepada bangsa Palestina.”

Lebih lanjut, Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini dalam penyampaian materinya terkait normalisasi dengan Israel dan kebijakan luar negeri Indonesia lebih dulu mengurai sejarah penjajahan Palestina dan hukum-hukum internasional yang dilanggar Israel. “Israel setidaknya telah melanggar Konvensi Jenewa yang menyebut melarang pemindahan paksa secara individu atau massal serta deportasi orang-orang yang dilindungi dari wilayah pendudukan dan juga melanggar UN Convension on the Rights of Children tentang penahanan dan perampasan hak anak-anak. Di Palestina anak-anak baru dicurigai hendak melukai tentara Israel sudah ditahan berbulan-bulan dan tidak ada pendampingan hukum.” Jelasnya. 

“Terkait normalisasi, normalisasi terjadi ketika didahului dengan adanya ketegangan antar dua negara. Jadi dari konsep ini, seyogyanya Indonesia tidak akan pernah melakukan normalisasi dengan Israel, sebab sejak awal Indonesia belum pernah mengakui Israel sebagai negara dan tidak pernah memiliki hubungan apapun sebelumnya, jadi apa yang akan dinormalkan?” Tambah pakar kajian Timur Tengah ini. 

Menukil survei dari SMRC tahun 2021, terkait opini publik Indonesia mengenai Palestina dan Israel, Dina Sulaeman menyebutkan sampai saat ini mayoritas publik Indonesia memberi dukungan pada Palestina dan memberikan penolakan pengakuan pada Israel sehingga dengan menimbang opini pubik, pemerintah tidak akan memilih opsi untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. “Terlebih lagi pidato Menteri Luar Negeri Indonesia di PBB dan sikap resmi pemerintah telah menyatakan bahwa yang sedang terjadi di Palestina adalah penjajahan dan perdamaian hanya bisa diwujudkan bila penjajahan dihentikan dan keadilan ditegakkan. Ini adalah pernyataan yang fundamental, bahwa perdamaian bisa tercapai jika penjajahannya dihentikan. Jadi buzzer-buzzer Israel dan kelompok-kelompok kepentingan mengenai soal damai dan toleran dengan Israel tidak akan tercapai dan Indonesia tidak akan menyusul untuk melakukan normalisasi mengingat betapa rakyat Indonesia dalam sejarahnya besar dukungannya pada bangsa Palestina.” Tegasnya. 

Pada bagian akhir penyampaiannya, Dina Sulaeman memesankan, “Saya minta kepada semuanya untuk tetap bersuara. Sekarang adalah era digital dan jangan meremehkan apa yang kita tulis di media sosial, sebab berdampak sekali. Contohnya, ada seorang pemuda Palestina yang ketika ditahan ia berusia 13 tahun dan sudah 7 tahun di penjara. Dan ketika ada kesempatan upaya pembelaan, di media sosial digunakan tagar free ahmad manazra sehingga mendapat dukungan dari banyak negara. Dengan adanya pembelaan di dunia maya itu, hukumannya berubah. Jadi hanya sekedar mengetik tagar saja, netizen telah bisa menyelamatkan nyawa manusia. Ini menunjukkan kita bisa berdaya dari apa yang ada di tangan kita dengan menyampaikan opini kita melalui handphone kita.”

“Opini publik itu bisa mempengaruhi kebijakan, sehingga sangat penting. Karena itu kita harus terus bersuara, agar opini publik itu stabil di mayoritas. Tapi kalau kita diam dan tidak peduli, bisa jadi opini publiknya bergeser sebab para buzzer Israel juga terus bergerak. Mari terus kita suarakan dukungan kita pada kemerdekaan sepenuhnya bangsa Palestina.” Tutupnya.


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*