Musa Kazhim, Kontributor TV Arab:

Indonesia terlalu Mulia untuk Mendukung Rezim Keji Israel

Indonesia terlalu Mulia untuk Mendukung Rezim Keji Israel

Bangsa kita terlalu mulia untuk berhubungan dengan sebuah rezim yang jejak langkahnya adalah penyiksaan, penjajahan, pengusiran dan seluruh kebejatan yang ada di muka bumi.

Menurut Kantor Berita ABNA, menyikapi tren normalisasi yang dilakukan sejumlah negara muslim dengan Israel, Badan Khusus Fathimiah Bidang Keperempuanan Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran menggelar Webinar dengan tema “Tren Normalisasi Israel, akankah Indonesia Menyusul?”. Webinar yang terlaksana pada Sabtu (14/5) tersebut menghadirkan narasumber Dr. Dina Y Sulaeman Direktur Indonesia Center for Middle East Studies dan Musa Kazhim al-Habsyi koresponden TV Arab. Dibuka oleh Ketua Fathimiah, Ummul Banin dan dimoderatori oleh Haryati, webinar yang berlangsung melalui platform Zoom dan Youtube di chanel HPI Iran ini diikuti lebih dari seratus peserta.

Musa Kazhim al-Habsyi dalam materinya menyinggung istilah normalisasi yang disebutnya sebagai propaganda yang didengungkan oleh pihak Israel sendiri. “Salah satu kebiasaan media-media Israel adalah menciptakan kata-kata yang memang penuh dengan paradoks dan ambiguitas.  Istilah normalisasi yang diinginkan Israel, jika diteliti secara akademis dan teoritis maksud dan tujuannya jauh panggang dari api. Negara-negara yang disebut normallisasi dengan Israel adalah negara-negara yang baru berdiri sebagaimana Israel yang juga baru berdiri pasca perang dunia kedua jadi sebelumnya tidak pernah menjalin hubungan apapun dan juga tidak pernah bersiteru dan bersitegang sehingga tidak perlu ada normalisasi.” Jelasnya. 

Jurnalis dan kontributor TV Arab ini dalam lanjutan penyampaiannya menyebutkan, “Poin lainnya yang perlu dikritisi, mayoritas negara yang disebut normalisasi dengan israel itu adalah rezim-rezim boneka yang tidak memiliki legitimasi yang kuat sebab masyarakatnya sendiri memberi resistensi yang luar biasa atas kebijakan normalisasi tersebut. Rezim-rezim tersebut jika tanpa infus politik, militer dan ekonomi dari kekuatan super power seperti Amerika, hanya dalam satu dua bulan bisa kolaps. Mereka bukanlah rezim dan negara dalam pengertian yang nyata tetapi negara-negara cangkokan yang pada umumnya sangat rapuh. Buktinya Arab Saudi sebagai rezim Arab yang disebut paling kuat di kawasan saja ketika diperhadapkan dengan realitas perang dalam menghadapi Yaman yang nyaris tidak punya kekuatan saja mengalami guncangan dan tidak mampu menang. Apalagi negara-negara kecil seperti Bahrain, UEA dan sebagainya.”

“Jadi normalisasinya negara-negara itu tidak perlu menimbulkan kepanikan, sebab mereka negara-negara yang tidak memiliki kebijakan luar negeri yang independen, otentik dan orisiinil. Jadi tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia, yang dikenal sebagai salah satu power dunia secara maritim. Normalisasi yang mereka lakukan tidak menambah apa-apa bagi eksistensi Israel. Normalisasi negara-negara boneka itu hanya kamuflase atau ibarat balon yang ditiup untuk menciptakan ketakutan dan ilusi di tengah masyarakat Islam seolah-olah telah muncul kekuatan baru yang akan berhadapan dengan kelompok perlawanan anti Israel dan pihak yang mendukung Palestina.” Tambahnya.

Pada bagian akhir penyampaiannya, Musa Kazhim berkata, “Indonesia terlalu kuat dan terlalu paham bahwa memperjuangkan kemerdekaan Palestina adalah beban historis dan tanggungjawab moral kita semua dan itu bukan muslim atau non muslim. Indonesia cerdas untuk memahami mana kata-kata yang menipu  dan kalimat yang diharapkan oleh musuh untuk mengecoh pikiran. Bangsa kita terlalu mulia untuk berhubungan dengan sebuah rezim yang jejak langkahnya adalah penyiksaan, penjajahan, pengusiran dan seluruh kebejatan yang ada di muka bumi. Karena itu bangsa kita tidak mungkin bergeser sedikitpun dari membela Palestina dan mengecam penjajahan sehingga langkah-langkah normalisasi atau memberi muka pada Israel tidak mungkin terjadi.”

“Pada AS saja kita berani mengatakan tidak, apalagi pada bonekanya.” Pungkasnya. 


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*