Imam Khomeini, Yasser Arafat dan Yaumul Quds

Imam Khomeini, Yasser Arafat dan Yaumul Quds

Imam Khomeini, Yasser Arafat dan Yaumul Quds

Tidak banyak yang tahu kedekatan personal Yasser Arafat dengan Imam Khomeini. Sewaktu Sayid Musthafa Khomeini, putra sulung Imam Khomeini meninggal dunia secara misterius di Najaf,Yasser Arafat mengucapkan turut berduka cita kepada Imam Khomeini melalui surat. Begitu revolusi Islam Iran dinyatakan menang, Yasser Arafat termasuk yang bergembira. Hanya berselang 6 hari dari pernyataan kemenangan itu, dia sudah terbang ke Iran dan disambut oleh Imam Khomeini. Lautan massa Iran turut menyambut Yasser Arafat. Dia diarak dan dielu-elukan. Arafat tidak bisa menutupi kebahagiaannya. Dari dokumentasi foto dan video yang ada, dia seolah tidak ingin melepas tangan Imam Khomeini yang terus dia genggam erat.
Imam Khomeini, Yasser Arafat dan Yaumul Quds
Arafat berkata, "Memang saya tumbuh di Yerusalem dan itu tanah air saya. Namun bukan hanya saya saja yang bertanggungjawab atas pembebasannya. Saya tidak punya apa-apa untuk diberikan untuk pembebasan Al-Quds kecuali darah saya, tetapi dengan kemenangan besar ini, Anda memiliki kemungkinan yang begitu besar. Dan Anda harus melakukan sesuatu agar semua orang berdoa di Quds. Begin (Menachem Begin PM Israel-pent) berkata terkait kemenangan anda, bahwa lembaran gelap Israel telah mulai dibuka."
Imam Khomeini menjawab singkat, "Insya Allah"
Meski tidak banyak bicara, Imam Khomeini menunjukkan bukti atas kata-katanya. Dia meminta Dr. Ibrahim Yazdi, yang ditunjuknya sebagai Menlu Iran sementara, dan putranya Sayid Ahmad Khomeini untuk mendampingi Yaser Arafat hari itu juga menyaksikan peresmian kantor kedutaan besar Palestina di Tehran yang gedungnya sebelumnya adalah kantor kedutaan Israel. Yasser Arafat dalam jumpa persnya, mengaku merinding dengan cara Imam menunjukkan dukungan politiknya. Itu adalah kantor kedutaan besar Palestina yang pertama di dunia. Dan menjadi sangat bersejarah sebab yang menjadi gedung kedutaan Palestina adalah bekas gedung kedutaan Israel. Itu adalah simbol tekad serius Imam Khomeini untuk menghapus Israel dan menjadikannya sepenuhnya milik bangsa Palestina.
Imam Khomeini, Yasser Arafat dan Yaumul Quds
Namun dalam perkembangan selanjutnya. Kondisi pelik dan rumit terjadi. Imam Khomeini tidak bisa berbuat banyak. Iran dilanda perang dasyhat. Irak tetangganya dengan dukungan internasional menginvasi Iran dengan senjata berat dan senjata gas. Yang membuat Iran sendiri kesulitan. Belum lagi kelompok-kelompok munafikin yang masih berkeliaran melakukan teror. Bahkan termasuk korbannya adalah Muhammad Ali Rajai, Presiden kedua Iran. Rajai gugur bersama perdana menterinya Muhammad Javad Bahonar beserta tiga asisten. Meski dalam kondisi sepelik itu. Iran tidak mengendorkan dukungannya pada Palestina. Melalui Yaumul Quds yang ditetapkan Imam Khomeini hanya 6 bulan dari kemenangan revolusi Islam Iran, rakyat Iran turun ke jalan menyuarakan pembelaannya pada Palestina. Pada Yaumul Quds tahun 1982 yang dilakukan disaat kondisi perang. Ribuan warga Iran yang melakukan pertemuan akbar Yaumul Quds di Stadion Azadi di kota Hamedan dihujani roket yang dilontarkan militer Irak. Tercatat serangan mendadak itu merenggut nyawa 105 warga Iran, yang gugur dalam keadaan berpuasa. Untuk mengenang para syuhada, Stadion Azadi Hamedan berganti nama menjadi Stadion Syuhada Hari Alquds.
Tahu yang lebih menyakitkan Imam Khomeini dari peristiwa tragis itu? Yasser Arafat berada di pihak Saddam Husein dalam perang Irak-Iran. Alasan Arafat, Saddam Husein bisa memberikan bantuan finansial pada perjuangannya. Sesuatu yang tidak bisa diberikan Imam Khomeini dan bangsa Iran kala itu. Meski demikian, karena janji Imam Khomeini pada bangsa Palestina, dan saat itu Yasser Arafat adalah ikon perjuangan rakyat Palestina, maka ia masih menerima kedatangan Yasser Arafat ke Iran menemuinya kapanpun Arafat mau. Meski hubungan telah sangat dingin. Dalam pertemuan-pertemuan itu, tidak ada lagi wajah riang Arafat. Kedatangannya berkali-kali ke Iran untuk membujuk Imam Khomeini agar mau merubah garis perjuangan. Ia meminta agar Imam mau mendukungnya menerima resolusi 242 Dewan Keamanan PBB yang memberi pengakuan pada Israel. Imam Khomeni tetap menolak. Dia bersikeras pada cita-cita revolusi. Dia tegaskan, kemerdekaan Palestina dengan kehancuran Israel adalah bagian dari agenda revolusi, jika itu belum tercapai, artinya revolusi belum selesai.
"Kita tidak punya apa-apa lagi imam, dengan apa kita mau bertahan?" tanya Arafat.
"Tetap perangi Zionis meski dengan lontaran batu." Jawab Imam.
Imam Khomeini, Yasser Arafat dan Yaumul Quds
Pada 9 Desember 1987, meletuslah Intifadah yang pertama. Sebuah gerakan perlawanan rakyat Palestina yang menggunakan lontaran batu dan bom molotov. Dari gerakan ini muncullah Jihad Islam dan Hamas, yang kemudian lebih dekat ke Iran setelah Yasser Arafat dengan PLOnya makin melunak.
Perang Irak-Iran resmi berhenti pada 20 Agustus 1988. Baru hendak bernafas lega dan meracik kembali strategi perlawanan pada Zionis yang dibuat berantakan oleh Saddam Husein, Iran dikagetkan dengan pidato Yasser Arafat pada Desember 1988. Dalam pidatonya 13 dan 14 Desember 1988, Yasser Arafat menerima resolusi 242 Dewan Keamanan PBB dan mengakui eksistensi Israel. Dengan pidato itu, Yasser Arafat menghapus salah satu poin dari Piagam Nasional Palestina, yaitu penghancuran Israel. Pidato yang membuat Imam Khomeini kecewa.
Imam Khomeini, Yasser Arafat dan Yaumul Quds
Imam Khomeini meninggal dunia, enam bulan setelahnya. Ia sempat dijenguk oleh Yasser Arafat di rumah sakit jantung di Tehran. Arafat datang dengan tetap mengenggam tangan Imam Khomeini seolah tidak mau melepaskannya. Imam tetap menerimanya, meski dengan tatapan dingin. Banyak yang penasaran dengan sikap Imam yang tetap bersedia menerima kehadiran Yasser Arafat. Mungkin Imam Khomeini tidak ingin, jika ia menolak Presiden Palestina itu akan menimbulkan persepsi, Iran memutus hubungan dengan Palestina. Sebagian besar rakyat Palestina tetap menyebut Yasser Arafat adalah pahlawan mereka, kecuali kelompok-kelompok perjuangan Palestina yang tetap istiqamah pada perjuangan menghancurkan Israel.
Kepergian Imam Khomeini memudahkan langka Yasser Arafat. Selanjutnya terjadilah perundingan-perundingan rahasia dengan Israel, yang membuahkan Perjanjian Oslo pada 1993. Buah dari perjanjian perdamaian itu, Yasser Arafat dihadiahi Nobel Perdamaian.
SebagaimanaYasser Arafat bisa ke Iran kapan saja ia mau sewaktu Imam Khomeini masih hidup, begitupun setelah Imam Khomeini tiada. Yasser Arafat masih kerap datang menziarahi makam Imam Khomeini.
Imam Khomeini, Yasser Arafat dan Yaumul Quds
Pada 11 November 2004 dalam usia 75 tahun, Yasser Arafat tutup usia oleh penyebab kematian yang misterius. Dugaan keras ia diracun. Ia dimakamkan di Ramallah, meski sebenarnya ia minta dimakamkan di Yerusalem, namun rezim Zionis menolaknya. Ketika berita kematian Arafat diumumkan, rakyat Palestina berkabung duka; dengan bacaan Al-Qur'an dari pengeras suara di masjid-masjid sepanjang Tepi Barat dan Jalur Gaza. Otoritas Palestina mengumumkan masa berkabung selama 40 hari.
Bagaimana dengan rakyat Iran? Yasser Arafat meninggal dunia pada hari Kamis 11 November 2004 bertepatan dengan 28 Ramadan 1425 H, yang artinya 29 Ramadan keesokan harinya adalah Yaumul Quds al-'Alam. Rakyat Iran tetap setiap pada garis perjuangan Imam Khomeini. Pada pawai akbar Yaumul Quds sehari setelah meninggalnya Yasser Arafat, rakyat Iran tetap meneriakkan kemerdekaan untuk bangsa Palestina dan kehancuran untuk Israel. Pengumuman kematian Yasser Arafat hari itu disikapi dingin lautan massa rakyat Iran. Mereka tidak berhenti meneriakkan, "Mampus Israel!!!" "Mampus Amerika!!!"
Mereka berbekasungkawa. Tapi tidak ada kesedihan khusus untuk Yasser Arafat.
-Ismail Amin- 

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*