Habib Hasan Dalil Alaydrus:

Kebangkitan Asyura Imam Husain as untuk Mengembalikan Islam yang Hakiki

Kebangkitan Asyura Imam Husain as untuk Mengembalikan Islam yang Hakiki

"Kebangkitan Imam Husain as bertujuan untuk membangkitkan kembali Islam Muhammadi yang asli. Yang sebelumnya telah mengalami penyimpangan oleh anak cucu Abu Sufyan. Jadi cucu Rasulullah saw bangkit menghadapi cucunya Abu Sufyan."

Menurut Kantor Berita ABNA, Habib Hasan Dalil Alaydrus, salah seorang peziarah Arbain berasal dari Indonesia dalam wawancaranya dengan kontributor ABNA mengatakan, "Alhamdulillah saya dari Jakarta Indonesia, berusia 60 tahun. Bersyukur dengan izin Allah bisa ikut berjalan kaki menuju Karbala dalam perhelatan besar memperingati Hari Arbain al-Imam al-Husain as tahun 1443 H ini. Kami ada enam orang dalam rombongan kecil kami berasal dari Indonesia." 

Ketika ditanya mengenai perasaannya terkait dengan perjalanannya, mantan Ketua Umum DPP Ahlulbait Indonesia ini mengatakan, "Kami harus menempuh jarak dari Najaf ke Karbala dengan berjalan kaki selama 4 hari. Dan kami mendengar perjalanan kaki ini diikuti dari berbagai bangsa, baik dari kalangan muslim Syiah, maupun dari Ahlusunnah, dan juga bahkan dari non muslim khususnya Kristiani. Ini wajar, sebab Imam Husain as, bukan hanya milik satu golongan saja. Imam Husain as betul adalah Imam ketiga bagi muslim Syiah Itsna Asyariah, setelah Imam Ali dan Imam Hasan. Tetapi Imam Husain as adalah kibtatul-ahrar, kiblatnya orang-orang merdeka."

Lebih lanjut ulama Indonesia ini mengatakan, "Saya ingin tekankan, bahwa setelah Perang Dunia ke-2 bangsa-bangsa di seluruh dunia menginginkan adanya satu lembaga dunia yang dengan itu bangsa-bangsa bisa bersatu, bisa hidup harmonis dan menciptakan perdamaian dunia. Namun meski telah terbentuk PBB perang masih terus terjadi dimana-mana. Karena itu, menurut saya kita semua perlu belajar dari kebangkitan Imam Husain as."

"Kebangkitan Imam Husain as bertujuan untuk membangkitkan kembali Islam Muhammadi yang asli. Yang sebelumnya telah mengalami penyimpangan oleh anak cucu Abu Sufyan. Jadi cucu Rasulullah saw bangkit menghadapi cucunya Abu Sufyan. Kita mendengar dari Alquran bahwa Yahudi telah merusak ajaran suci dari Nabi yang suci, yang termaktub dalam kitab yang suci, dari Allah yang Maha Suci. Dirubah dan diselewengkan oleh pikiran yang busuk, hati yang kotor dan agenda hitam oleh sebagian umat Yahudi. Karena itu dibutuhkan kebangkitan untuk mengembalikan ajaran suci kembali ke jalurnya." Tambahnya. 

"Begitupula 50 tahun pasca wafatnya Rasulullah saw, Islam yang telah diperjuangkan selama 23 tahun dengan susah payah, yang telah terjadi sejumlah perang besar karenanya, yang menimbulkan banyak kesulitan, banyak sahabat dan keluarga Nabi yang gugur melawan para penjahat yang menghendaki memadamkan cahaya Allah, setelah 50 tahun ada upaya untuk menyelewengkan Islam. Pada masa kekuasaan Yazid, keadaan makin ruyam, kondisi makin rusak. Sebagian besar orang baik, namun tidak berani melawan. Sebagian lagi bergabung bersama agenda hitam itu." Tuturnya. 

"Tetapi yang bersama Imam Husain as, bangkit dengan sedikit orang, tidak sampai 100 orang. Yazid mengerahkan semua kekuatannya dengan pasukan tentaranya yang besar. Mereka menang secara fisik, tetapi dimana Yazid sekarang? Yazid dan tentaranya telah terkubur di perut bumi, sebagian besar dari mereka mati secara mengerikan karena kualat. Nama Yazid tidak dikenang dan diingat kecuali keburukannya. Dia dicaci maki dimana-mana. Kecuali dari mereka yang kerasukan syaitan yang masih ingin menjalankan agenda hitam Yazid. Namun sebagian besar manusia, baik dari muslim Sunni maupun muslim Syiah bersama dengan keluarga Nabi, Imam Husain as yang gugur, yang terputus kepalanya, dan kepalanya diarak dari kota ke kota. Dari Karbala, ke Kufah terus dibawa ke Damaskus. Dihinakan di Kerajaan Yazid dan di kantor gubernur Ibnu Ziyad. Namun saat ini dikenang oleh banyak orang dan ditangisi." Jelas Habib yang getol memperjuangkan ukhuwah Islamiyah ini.

Habib Hasan lebih lanjut menjelaskan, "Banyak yang menamakan Muharram sebagai bulan duka cita. Di Indonesia banyak kaum muslimin tidak mau mengadakan pesta pada bulan Muharram, karena ikut berduka bersama Rasulullah. Itulah cinta, bersedih bersama dengan kesedihan yang dicintai, dan turut bergembira dengan kegembiraan mereka yang kita cintai. Dan semua kita mencintai Rasulullah. Ketika kedua cucunya lahir, Imam Hasan dan Imam Husain, Rasulullah bergembira, maka kita juga turut bergembira. Nabi Muhammad saw menyebut kedua cucunya sebagai penghulu pemuda syuhada di surga. Begitu juga ketika malaikat Jibril as menginformasikan kepada Nabi Muhammad saw bahwa kedua cucunya itu akan syahid, Hasan dengan diracun, dan Husain dengan dipenggal. Maka Rasulullah saw meninggal. Jadi beliaulah saw yang pertama menangis atas tragedi yang menimpa Imam Husain as. Karena itu banyak yang turut menangisi Imam Husain as, karena Rasulullah juga menangisinya."

Pada bagian akhir penyampaiannya, ustad yang juga qari Alquran ini menekankan, "Dan falsafah menangis ini bukan cengeng. Kita katakan, bahwa wahai Imam Husain, kami akan bersama dengan agenda suci anda, bersama niat kuat anda dimana engkau akan memperbaiki kondisi masyarakat yang telah rusak. Karena itu falsafah menangisi Imam Husain setiap bulan Muharram adalah memperbaharui janji dan tekad kepada Imam Husain as bahwa kita ingin mengikuti jejak Imam Husain as, terus menerus memperbaiki kondisi umat, terus memperbaiki kondisi negara-negara kita dimanapun kita berasal. Sehingga sepulang dari menziarahi Imam Husain as, kita akan melawan Yazid zaman sekarang yaitu mereka yang merusak negeri kita, yang merusak nilai dan tatanan negeri kita, yang merusak cita-cita negeri kita, maka dengan mendapat inspirasi dari Imam Husain as maka kita tegakkan masyarakat yang saling mencintai sesama muslim khususnya dari mazhab apapun, dan saling menghormati dari agama apapun."

"Mencintai dan meneladani Imam Husain as adalah poros umat manusia untuk menciptakan kehidupan antar bangsa yang harmonis dan hidup berdampingan dengan damai." Tutupnya.


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*