?>

Dimensi Piagam Kehormatan Palestina Lawan Normalisasi dengan Israel

Dimensi Piagam Kehormatan Palestina Lawan Normalisasi dengan Israel

Berbagai faksi Palestina Sabtu (20/2/2021) menandatangani "Piagam Kehormatan Palestina" di Jalur Gaza menentang normalisasi media dengan Israel.

Menurut Kantor Berita ABNA, Sejumlah negara Arab di paruh kedua tahun 2020 mulai menormalisasi hubungan dengan Israel. Empat negara, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Maroko dan Sudan secara terang-terangan mengumumkan normalisasi ini dan sejumlah lainnya meningkatkan hubungan dengan Israel, namun menolak mengumumkannya.

Normalisasi hubungan ini menuai respon berbagai faksi Palestina. Mayoritas respon tersebut bersifat politik dan sekedar kecaman atas normalisasi serta menilai buruk perilaku ini.

Selain itu ada upaya untuk mengakhiri friksi di antara faksi Palestina dan membentuk pemerintahan persatuan nasional, namun upaya ini sia-sia ketika Otorita Ramallah mengumumkan kesiapannya menghidupkan kembali perundingan dan kerja sama keamanan dengan Israel.

Kini penandatanganan Piagam Kehormatan Palestina dapat dianggap sebagai langkah faksi Palestina melawan normalisasi hubungan dengan Israel. Fokus piagam ini pada media. Piagam ini memiliki sejumlah dimensi penting.

Dimensi pertama, sanksi media Israel dan negara yang berkompromi oleh tokoh-tokoh Palestina. Menurut piagam ini, faksi dan kubu nasional serta Islam Palestina menekankan pentingnya melawan normalisasi hubungan media dengan Israel. Mereka menyatakan bukan saja tidak akan melakukan wawancara dengan media Israel, bahkan dalam kondisi apapun juga tidak bersedia diwawancarai media yang menjadi tuan rumah tokoh Zionis.  

Dengan kata lain, jika media Arab menjadi tuan rumah tokoh Israel, maka elit Palestina berkomitmen tidak akan bersedia diwawancarai media ini. Siapa saja yang melanggar kesepakatan ini, maka ia telah melakukan kejahatan.

Dimensi kedua, aktivis media Palestina berkomitmen tidak akan berpartisipasi di konferensi dan pertemuan yang menjadi tuan rumah perwakilan resmi atau tidak resmi Israel.

Dimensi ketiga, membentuk wacana media nasional Palestina. Wacana ini selain mencakup kebijakan media terintegrasi menentang normalisasi, juga mengusung isu Palestina sebagai cita-cita utama umat Arab dan Islam.

Sekaitan dengan ini, Anggota Biro Politik Jihad Islam Palestina, Khalid al-Baths yang hadir di acara ini menekankan pentingnya peratifikasian wacana media nasional terintegrasi guna melawan normalisasi hubungan dengan Israel serta mengatakan, Palestina harus tetap menjadi cita-citautama bangsa Arab dan Islam.

Dimensi keempat, tujuan yang dikejar piagam ini. Tujuan utama dari keputusan yang diambil dalam piagam ini dan kebijakan media terpadu adalah untuk mencegah Zionis menyusup ke umat Islam melalui kehadiran mereka yang sering di media Arab dan Islam dan normalisasi hubungan media.

Hani Al-Thawabatah, anggota Komite Pusat Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) mengatakan, "Upaya tak kenal henti untuk menormalisasi hubungan dengan Israel di kawasan Arab, mengharuskan upaya untuk melawan segala bentuk normalisasi termasuk normalisasi media. Suara-suara yang terdengar di kawasan dalam mendukung normalisasi media adalah demi melemahkan empati berbagai bangsa, membesar-besarkan citra Israel dan berpartisipasi dalam menurunkan cita-cita Palestina di negara-negara Arab dan Islam."

Poin terakhir adalah Piagam Kehormatan Palestina bentuk kepercayaan faksi Palestina atas kemandirian dalam membela Palestna dan melawan normalisasi hubungan melalui pendekatan media terpadu, namun urgensitas piagam ini meningkat ketika berbagai faksi dan tokoh Palestina bukan hanya sepakat secara teroritis, tapi sampai pada tahap implementasi.(MF)

342/


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

پیام رهبر انقلاب به مسلمانان جهان به مناسبت حج 1441 / 2020
We are All Zakzaky
conference-abu-talib
Tidak untuk Perjanjian Abad ini