Asma al-Assad, Sekuntum Mawar di Tengah Gurun

Asma al-Assad, Sekuntum Mawar di Tengah Gurun

Dia adalah Asma Fawaz Akhras. Ibu negara Suriah. Dia adalah istri Bashar al-Assad. Dia disebut sebagai ibu negara yang paling menarik dan enerjik. Dia memiliki kemiripan dengan Putri Diana, kombinasi yang langka: keanggunan, kecerdasan dan kesederhanaan.

Oleh: Ismail Amin 

Publik Indonesia baru mengenal Bashar Assad pasca perang saudara di Suriah di pertengahan tahun 2011. Itupun dengan citra negatif sebagaimana yang dipropagandakan media-media Barat. Sebelumnya Suriah tidak pernah menjadi perhatian. Sebab memang, sebelum 2011 Suriah dikenal sebagai negara teraman di Timur Tengah. Tidak ada pengeboman, kerusuhan termasuk demonstrasi. Suriah adalah negara sekuler, yang agama menjadi urusan private. Intinya, Suriah tidak menjadi sorotan, sebab semuanya aman dan baik-baik saja. Tidak sebagaimana negara-negara tetangga, yang membara oleh konflik dan ketidak pastian nasib, sehingga selalu menjadi langganan headline berita topik Timur Tengah. 

Tidak banyak yang tahu, sebelum konflik Suriah pecah, Assad sudah menjadi presiden selama satu dekade. Dia telah melalui dua kali pemilihan presiden. Terpilih di tahun 2000 dan 2007. Total saat ini, Assad sudah melalui empat kali pemilihan presiden yang kesemua dimenangkannya. Diluar spekulasi bahwa hasil pemilu direkayasa dan penuh dengan kecurangan, dunia internasional mengakui, dibalik kemenangan quattrick itu, rakyat Suriah mencintai Bashar Assad. 

Melalui berita-berita konflik Suriah yang diblow up secara massif oleh media-media internasional, publik Indonesia jadi mengenal Bashar Assad. Dia digambarkan diktator dan bengis pada rakyatnya. Pro dan kontra muncul mengenai sosoknya. Tidak pernah terjadi sebelumnya, masyarakat Indonesia terpolarisasi oleh konflik di sebuah negeri yang nun jauh di Timur Tengah sana. Namun ada satu sosok lagi, yang sebenarnya sangat berpengaruh dibalik ketangguhan Assad sehingga tidak mudah dijungkal oleh konspirasi asing. Tidak banyak publik Indonesia yang tahu, karena memang sengaja ditutup-tutupi oleh media Barat. 

Dia adalah Asma Fawaz Akhras. Ibu negara Suriah. Dia adalah istri Bashar al-Assad. Dia disebut sebagai ibu negara yang paling menarik dan enerjik. Dia memiliki kemiripan dengan Putri Diana, kombinasi yang langka: keanggunan, kecerdasan dan kesederhanaan. Majalah Mingguan Prancis, Paris Match menyebutnya, "Gemerlap cahaya di negara yang penuh dengan zona bayangan." Sementara majalah Voque menggelarinya, a rose in the desert, sekuntum mawar di tengah gurun. 

Asma lahir 11 Agustus 1975 di London dari pasangan Fawaz Akhras, seorang ahli jantung di Rumah Sakit Cromwell, dan istrinya Sahar Akhras, seorang pensiunan diplomat yang bekerja di Kedutaan Besar Suriah di London. Kedua orangtuanya Muslim Sunni yang berasal dari kota Homs. Asma meraih lulusan terbaik ilmu komputer di King's College University dan meraih gelar diploma dalam sastra Prancis. Ia juga mendapat gelar doktor arkeologi kehormatan dari universitas La Sapienza di Roma. Asma menguasai 4 bahasa asing: Inggris, Arab, Prancis dan Spanyol. 

Asma menikah dengan Assad pada tahun 2000. Disaat baru beberapa bulan Assad menjadi presiden. Sebelumnya dia bekerja sebagai bankir di London. Yang karena pernikahan itu, dia akhirnya menetap di Suriah. Dia tetap memiliki dua kewarganegaraan, Suriah dan Inggris. Dari pernikahan dengan Assad, dia memiliki tiga anak, 1 putri dan 2 putra.

Sama dengan suaminya, yang dicitrakan buruk oleh mesin propaganda Barat, diapun kena imbasnya. Asma dicitrakan sebagai perempuan terpelajar yang tidak berdaya di depan suaminya yang diktator dan haus darah. Di tengah Suriah banjir darah dan jutaan rakyat terancam kelaparan, dia diberitakan tetap sibuk dengan gaya hidupnya yang glamour. Namun kesemua pemberitaan itu tidak berarti di depan rakyat Suriah yang masih tetap mendapatkan uluran lembutnya dan menyaksikan langsung kehadirannya mendatangi dan menyapa korban-korban konflik. 

Asma sudah mendapatkan popularitasnya di mata rakyat Suriah beberapa bulan setelah menikah dengan Assad. Setelah pernikahan, Asma melakukan blusukan dengan penyamaran ke 300 desa, ke setiap provinsi, rumah sakit, pertanian, sekolah, pabrik dan fasilitas-fasilitas publik, dan tidak ada yang mengetahui bahwa dia ibu negara. Dari pembicaraannya langsung dengan warga Suriah yang ditemuinya, dia merancang kebijakan-kebijakan publiknya. 

Dia membangun yayasan-yayasan amal di bawah pengawasan pemerintah yang disebut sebagai Syria Trust for Development. Dia membentuk FIRDOS (kredit mikro pedesaan), SHABAB (keterampilan bisnis untuk kaum muda), BASMA (membantu anak-anak pengidap kanker), RAWAFED (pengembangan budaya), Organisasi Suriah untuk Penyandang Cacat, dan Pusat Penelitian Pembangunan Suriah. Yang paling populer adalah pusat MASSAR yang dia buat, lembaga yang berfungsi sebagai pusat komunitas bagi anak-anak untuk belajar kewarganegaraan aktif. Lembaga ini didanai secara pribadi. Dengan semua aktivitas kemanusiaan dan sosial yang dia kerjakan, Asma mendapat gelar, "Perempuan Arab Paling Berpengaruh di Dunia" oleh Majalah Timur Tengah. Pada 2008, dia juga mendapat medali emas dari kantor kepresidenan Italia sebagai pengakuan atas aktivitas kemanusiaannya. 

Sebagai ibu negara, Asma berhak mendapat fasilitas pengamanan yang istimewa, namun dalam semua aktivitasnya itu, dia mengabaikannya. Angelina Jolie ketika datang ke Suriah bersama Brad Pitt untuk PBB pada tahun 2009, dia terkesan dengan Asma yang mendorong pemberdayaan di antara pengungsi Irak dan Palestina yang ada di Suriah. Namun yang mengkhawatirkan kedua pasangan bintang Hollywood itu, Ibu Negara tidak mendapat pengawalan apapun. Ketika ditanya oleh Brad Pitt, "Mana pengawal anda?"

Dengan nada bergurau Asma menjawab, "Lihat wanita tua di jalan itu? Itu salah satunya! Dan orang tua yang menyeberang jalan itu?"

Dari apa yang dikerjakan Asma, termasuk kesederhanaannya sebagai first lady,  rakyat Suriah tahu, berlian harus dipertahankan. Dunia mengenal apa yang dikerjakan Leila Trabelsi, ibu negara Tunisia, istri presiden Zine al-Abidine Ben Ali yang dikudeta. Dia kabur membawa satu setengah ton emas. Dengan gaya hidupnya yang glamour dan kemaruk harta Leila dijuluki ”Marie Antoinette”-nya Tunisia. Marie Antoinette adalah istri Raja Perancis Louis XVI yang dihukum mati dipenggal kepalanya dengan guillotine karena disebut sebagai penguras harta negara. Begitu juga dengan Imelda Marcos, istri Presiden Filipina Ferdinand Marcos. Dia dikenal sebagai manusia paling gila belanja dalam sejarah modern. 

Sebagai ibu negara, Imelda tak menyia-nyiakan kekuasaan. Di bawah pemerintahan suaminya, Filipina memiliki angka korupsi yang tinggi, ekonomi yang terpuruk, tetapi keluarga presiden tetap bergelimang harta. Untuk memenuhi hobinya berbelanja, Imelda dengan fasilitas negara akan ke pusat-pusat belanja dunia dan menghabiskan jutaan dollar sekali belanja. Laman Filipiknow.net bahkan menyebutkan, dalam sebuah perjalanan ke Roma, Marcos meminta pesawatnya berputar balik. Imelda meminta hal itu karena pesawat tersebut tidak memiliki keju yang bisa disajikan dalam hidangan. Ia meminta pesawat kembali ke Roma hanya untuk membeli keju yang diinginkan.

Sangat kontras dengan Asma. Dia meminta pada suaminya sebuah bangunan putih kecil tempat dia berkantor dan bekerja setiap harinya sebagai ibu negara yang berdesakan dengan rumah-rumah warga. Warga yang menjadi tetangga kantornya bahkan bisa melihatnya dan melambaikan tangan dari balkon, menyapa ibu negara. 

Sampai sekarang pun Asma masih kerap menjalankan rutinitasnya blusukan. Menemui rakyat miskin dan orang sakit. Ia memberikan semangat dan bantuan yang dibutuhkan. Meski tanpa hiasan yang mewah, dia tetap tampil elegan dan cantik sebagai ibu negara. Di tengah konflik dasyhat dia tetap mendampingi suaminya. Dengan tetap setia pada Assad, dia mendapat kecaman Barat. Uni Eropa bahkan menjatuhkan sanksi kepada Asma. Aset-asetnya dibekukan dan ditetapkan larangan bepergian ke Uni Eropa. Mereka berharap Asma bisa membujuk dan menekan suaminya untuk mundur saja, agar konflik di Suriah bisa segera padam. Tapi Asma tidak bergeming, dia tetap di sisi suaminya, di tengah-tengah rakyat Suriah. 

Bandingkan dengan Safiya, istri kedua Moammar Qaddafi. Ketika konflik masih bergelora di Libya dan suaminya masih berjuang menghadapi pemberontak, Safiya lebih memilih mencari selamat. Ia kabur ke Aljazair, meninggalkan suaminya tewas dikeroyok pemberontak.

Assad beruntung memiliki Asma. Sekuntum mawar di tengah gurun. 


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*