Apa Hukuman untuk Pembunuhan demi Kehormatan di Iran?

Apa Hukuman untuk Pembunuhan demi Kehormatan di Iran?

Banyak netizen yang percaya bahwa pembunuhan demi kehormatan di Iran tidak dikenai hukuman dan akan dibebaskan setelah beberapa saat. Benarkah demikian?.

Pembunuhan mengejutkan perempuan muda Ahvazi berusia 17 tahun, Mona Heydari oleh suami dan saudara iparnya telah banyak dibahas di dunia maya dan kalangan media sejak insiden pembunuhan itu terjadi, Sabtu 5 Februari 2022. Publik, pemerintah, ulama sampai pemimpin tertinggi Iran mengecam keras pembunuhan sadis tersebut. Diantara reaksi tersebut adalah pendapat banyak netizen yang percaya bahwa pembunuhan demi kehormatan di Iran tidak dikenai hukuman dan akan dibebaskan setelah beberapa saat. Benarkah demikian?. Mari kita lihat hukuman apa untuk kejahatan semacam ini dalam undang-undang pidana Iran.

Honor killing adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kasus pembunuhan anggota keluarga yang dianggap telah mencemari nama baik keluarga atau apa yang mereka sebut dengan nilai komunal. Perempuan seringkali menjadi sasaran atau korban dari praktik ini. Pembunuhan biasanya dilakukan ayah, saudara atau suami korban. 

Honor killing sudah ada dari ribuan tahun lalu. Matthew A. Goldstein dalam “The Biological Roots of Heat-of-Passion Crimes and Honor Killings” menemukan bahwa Undang-Undang Hammurabi, salah satu prasasti hukum tertua di dunia (1750 SM), memuat hukum bahwa suami berkewajiban membunuh istri yang tidak setia bersama selingkuhannya. Saat ini praktik ini masih banyak dipraktikkan di negara-negara Asia Timur, Timur Tengah, dan Mediterania. Namun John Alan Cohan dalam “Honor Killings and the Cultural Defense” (2010) menggarisbawahi bahwa dalam dua dekade terakhir praktik ini masih kerap terjadi di negara-negara Eropa, misalnya Inggris, Israel, Turki, Spanyol, dan Italia. “Honor killing” juga dilaporkan terjadi di Amerika Serikat dan sebagian negara Amerika Latin, misalnya Brasil. Di Indonesia, kasus honor killing juga masih terjadi terutama di masyarakat pedesaan yang masih ketat memegang adat dan tradisi setempat. 

Dalam bahasa setempat, honor killing di Iran disebut dengan "Qatl-e Noomusi" yang artinya adalah pembunuhan demi kehormatan. Kasus honor killings banyak terjadi di Provinsi Khuzestan, Ilam, Kurdistan dan Sistan - Baluchestan. Wilayah-wilayah ini memang dikenal masih memegang erat tradisi kesukuan dan budaya lokal. Penduduk Iran dengan warna patriarki yang masih begitu kuat mayoritas menetap di provinsi-provinsi yang berbatasan dengan Irak, Pakistan dan Afghanistan ini. Pembunuhan demi kehormatan adalah kombinasi adat dan budaya, dan terminologi ini tidak dikenal dalam perundang-undangan Iran. Jadi kasus pembunuhan Mona Heydari meski dalam masyarakat dikenal sebagai pembunuhan demi kehormatan namun dalam kacamata undang-undang Iran, itu sama halnya dengan kasus pembunuhan yang lain dan tidak ada perbedaan. Karena itu, hukuman yang dikenakan pun juga sama. Yaitu pembunuhnya akan mendapat qisas (hukuman mati) dan dikenai diyah (denda). 

Hanya saja, kasus pembunuhan seorang perempuan oleh suaminya tidak mendapat qisas itu adalah kesalahan dalam memaknai maksud dari pasal 630 KUHP. Pasal ini menyebutkan, "Seorang laki-laki yang melihat langsung istrinya sedang berzina dengan laki-laki asing dan mengetahui dengan pasti istrinya ridha dengan perzinahan itu, maka dia bisa saat itu juga membunuh keduanya. Namun jika hubungan itu terjadi melaui pemaksaan dan istri tidak ridha dengan itu, maka hanya laki-laki asing itu saja yang bisa dibunuh." 

Pembunuhan istri oleh suami dalam kasus di atas tidak dikenai qisas dengan catatan:

Pertama, pembunuhan dilakukan saat perzinahan sedang berlangsung, jika setelah itu maka hukum kebolehan membunuh ini tidak berlaku. Jadi ketika perzinahan diketahui melalui kesaksian orang lain atau melihat video, maka suami tidak berhak membunuh istri, dan kasus ini harus dilimpahkan ke pengadilan. Jika suami melakukan pembunuhan, maka suami akan mendapat qisas. 

Kedua, suami memastikan istri ridha dengan perzinahan tersebut. Dalam hal ini suami harus bisa menunjukkan bukti dan saksi. Jika tidak, maka suami tetap dikenai qisas.

Ketiga, kebolehan membunuh hanya ketika terjadi tindakan perzinahan dan bukan hubungan selainnya. Karena itu, jika seorang laki-laki melihat istrinya dengan orang asing di rumah meski sedang berdua-duaan tetapi keduanya tidak sedang melakukan hubungan seksual secara penuh, maka suami tidak berhak melakukan tindakan pembunuhan pada keduanya. 

Karena itu, pasal suami boleh membunuh istri dan tidak mendapat qisas hanya dapat berlaku jika laki-laki tersebut dapat membuktikan istrinya melakukan perzinahan dengan orang asing yang dilihatnya sendiri dengan bukti yang sah di pengadilan, jika tidak ia akan dihukum qisas.

Bagaimana jika yang melakukan honor killing adalah saudara laki-laki korban? 

Jenis lain dari pembunuhan demi kehormatan adalah pembunuhan oleh saudara. Dalam hal ini, hukum pembunuhannya sama dengan kasus pembunuhan lain, yaitu pelaku mendapat qisas dengan dihukum mati. Hanya saja, qisas berlaku jika keluarga korban menuntut itu dan tidak terjadi jika keluarga korban memaafkan. Karena itu, biasanya kasus pembunuhan oleh saudara, karena orangtua si pembunuh dan korban adalah orang yang sama, maka dalam praktiknya, mereka lebih memilih memaafkan dibanding menuntut qisas. Di sinilah kebanyakan dalam kasus ini, pembunuh tidak mendapat qisas. Namun bukan berarti terlepas sepenuhnya dari hukuman. Pelaku pembunuhan tetap dikenai hukuman kurungan penjara, yang lamanya ditentukan dalam  pengadilan. 

Bagaimana jika honor killing dilakukan oleh ayah korban?

Jika pembunuhan dilakukan oleh ayah atau kakek dari ayah, maka ada pasal khusus yang mengatur ini. Dalam pasal 301 KUHP mengatur, jika pembunuhan dilakukan oleh ayah dan kakek dari pihak ayah dari seorang anak perempuan atau anak laki-laki yang menjadi korban, maka pelaku pembunuhan terbebas dari qisas, dan cukup mendapatkan hukuman kurungan penjara yang lamanya ditentukan dalam pengadilan dan berkewajiban membayar diyah. Jadi jika pembunuhan dilakukan oleh ibu, nenek dari pihak ayah dan ibu, kakek dari pihak ibu dan seterusnya, maka orang-orang ini akan mendapatkan qisas. 

Kasus pembunuhan demi kehormatan yang dilakukan ayah yang sempat menghebohkan di Iran pada Juni tahun 2020 lalu, dilakukan oleh Reza Ashrafi (37) yang membunuh anak gadisnya Romina Ashrafi (14), karena menjalin hubungan asmara dengan Bahman Khavari, laki-laki berusia 35 tahun. Usia yang terpaut 21 tahun itu membuat sang ayah tidak menyepakati hubungan tersebut. Sempat kabur dari rumah dan memilih hidup tanpa restu bersama Bahman Khavari, Romina berhasil dibawa pulang oleh polisi dan Khavari ditahan. Setiba di rumah, Reza yang murka dan merasa dipermalukan membunuh putrinya sendiri dengan sabit. Kematian tragis Romina tidak diterima sang ibu. Ia menuntut cerai dan meminta agar suaminya dihukum mati. Namun dengan adanya pasal 301 KHUP tersebut, Reza terbebas dari hukuman mati dan hanya mendapat kurungan penjara dan denda. Di pengadilan ketika Reza ditanya, "Mengapa memilih membunuh putrinya sendiri dan bukannya membunuh Khavari?". Dia menjawab, "Jika saya membunuh laki-laki bejat itu, saya akan dihukum mati, namun dengan membunuh Romina saya tidak akan diqisas."

Jawaban Esfandiar itu membuat tuntutan merevisi KUHP semakin menguat. Masoumeh Ebtekar, Wakil Presiden Urusan Perempuan membentuk tim khusus untuk penyelidikan kasus itu. Ia juga mendorong dengan keras kepada parlemen agar pembahasan RUU perlindungan anak dan remaja segera dituntaskan.

Shahindokht Molaverdi, mantan wakil presiden untuk urusan wanita dan keluarga, yang sekarang menjadi pejabat Perlindungan Hak-hak Perempuan Iran menulis, "Romina bukanlah yang pertama dan juga tidak akan menjadi korban terakhir pembunuhan demi kehormatan (honor killings)." Dia menyebutkan, pembunuhan semacam itu akan berlanjut, "Selama hukum dan budaya dominan di masyarakat lokal tidak bisa diatasi dengan hukum negara yang lebih kuat."

Sebelumnya terkait Honor Killing, Ayatulah Sayid Ali Khamenei melalui Kantor Pemimpin Besar Republik Islam Iran telah mengeluarkan peringatan, "Masyarakat, baik secara hukum maupun moral, harus bersikap keras terhadap mereka yang melihat pelecehan terhadap perempuan sebagai hak mereka; Hukum juga harus memberikan hukuman berat dalam hal ini."

Kesimpulannya, pandangan yang menyebut, Sajjad Heydari yang membunuh Mona Heydari dengan alasan kehormatan tidak akan mendapat hukuman di Iran adalah tidak tepat. Dalam wawancara dengan media setempat, ayah Mona Heydari menyebut, ia tidak ridha dengan pembunuhan itu dan menuntut qisas atas Sajjad. 


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*