Amerika Tinjauan dari Dalam, 17 April 2021

Amerika Tinjauan dari Dalam, 17 April 2021

Perkembangan di Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai dengan beberapa isu penting seperti respon Presiden Joe Biden terhadap peningkatan pengayaan uranium di Iran.

Menurut Kantor Berita ABNA, Biden mengatakan, pengayaan uranium dengan kemurnian 60 persen oleh Iran melanggar kesepakatan nuklir JCPOA. Hal itu disampaikan Biden dalam konferensi pers dengan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga di Gedung Putih, Jumat (16/4/2021) seperti dikutip laman Farsnews.

"Kami tidak mendukung langkah itu dan tidak berpikir bahwa bergerak menuju pengayaan 60 persen akan bermanfaat, tetapi kami senang Iran setuju melanjutkan negosiasi," kata Biden menjawab pertanyaan wartawan Reuters.

Menurutnya, pengayaan uranium 60 persen oleh Iran tidak akan membantu perundingan Wina.

Amerika Serikat sendiri sudah hampir empat tahun melanggar kesepakatan nuklir dengan Iran dan resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB.

Pada Selasa lalu, Deputi Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Politik Sayid Abbas Araghchi mengatakan Republik Islam telah memulai pengayaan 60 persen.

"Iran telah memberitahu direktur jenderal Badan Energi Atom Internasional lewat sebuah surat tentang dimulainya pengayaan uranium ke tingkat 60 persen," kata Araghchi.

40 Persen Marinir AS Tolak Vaksinasi

Seorang petinggi Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengatakan, sekitar 40 persen marinir Amerika menolak menjalani vaksinasi Corona.

Staf Strategi dan Operasi Komunikasi Pentagon, Andrew Woods kepada koran USA TODAY menyatakan, dari 123.500 marinir Amerika yang mendapat akses vaksin Corona, 75.500 di antaranya tidak mendapat vaksin atau hanya mendapat suntikan satu dosis, sementara 48 ribu lainnya menolak tegas vaksinasi.

"Lebih dari 100 ribu marinir sampai saat ini belum mendapat vaksin," tambah Andrew Woods.

Mengingat bahwa dua perusahaan AS, Pfizer dan Moderna telah mendapat sertifikat pengesahan produk vaksin Coronanya, dan telah mendistribusikan jutaan dosis vaksin di seluruh AS dan negara lain termasuk Inggris, namun sekitar 60 ribu orang di Amerika meninggal setelah mendapat vaksin Pfizer atau Moderna, serta ratusan lainnya mengalami gejala efek samping yang mengancam jiwa.

Amerika Serikat sampai saat ini masih menempati posisi pertama dunia dari sisi jumlah kasus positif Corona maupun angka kematian akibat pandemi ini.

Amerika terhitung terlambat dari negara lain melakukan tes Corona, dan saat ini mengalami kelangkaan peralatan medis karena jumlah besar pasien Corona yang ada di negara ini.

Pakar kesehatan menilai kinerja buruk mantan pemerintahan Amerika pimpinan Donald Trump sebagai penyebab kondisi krisis Corona di negara ini.

AS Ingin Dialog Tak Langsung dengan Iran

Juru bicara pemerintah Amerika Serikat mengatakan dialog seputar pemulihan kesepakatan nuklir JCPOA merupakan proses yang panjang. Menurutnya, hal ini akan dibahas dalam perundingan tidak langsung hari Kamis (15/4/2021).

Jen Psaki, Rabu malam seperti dikutip Reuters dalam jumpa persnya menuturkan, pembicaraan-pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran akan dilakukan secara tidak langsung hari Kamis di Wina.

"Menurut pemahaman kami, Iran akan datang pada pertemuan hari Kamis di Wina. Kami juga mengetahui bahwa pembicaraan ini akan berlangsung lama," ujarnya.

Jubir Gedung Putih menegaskan, "Akan tetapi sampai sekarang kami merasa bahwa ini merupakan langkah maju."

Tanggapan AS terhadap Pengayaan Uranium 60 Persen di Iran

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, menyebut keputusan Iran memperkaya uranium ke tingkat 60 persen sebagai provokatif, tanpa menyinggung aktor yang harus bertanggung jawab atas serangan teroris di situs nuklir Natanz.

Hal itu disampaikan Blinken dalam konferensi pers bersama dengan Sekjen NATO Jens Stoltenberg dan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin di Brussels, Rabu (14/4/2021) malam, seperti dilansir IRNA.

Menurut Blinken, langkah tersebut mengundang pertanyaan tentang keseriusan Iran dalam pembicaraan nuklir di Wina, dan penting untuk melihat bagaimana Iran akan kembali memenuhi kewajiban kesepakatan nuklir JCPOA.

"Saya pikir AS telah menunjukkan keseriusannya, dan sekarang giliran Iran untuk membuktikannya," tambahnya.

Namun, Blinken lupa bahwa pemerintah AS secara sepihak telah keluar dari JCPOA dan sekutu utama mereka di Asia Barat juga bertanggung jawab atas serangan teroris di situs nuklir Natanz, Iran.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengumumkan pada Rabu malam bahwa Iran hampir merampungkan persiapan untuk memulai pengayaan 60 persen di Natanz.

"Iran berniat menambahkan 1.024 sentrifugal IR-1 di situs nuklir Natanz," kata IAEA.  

AS akan Lanjutkan Penjualan Senjata ke UEA

Gedung Putih telah memberitahu Kongres AS untuk menjalankan kesepakatan penjualan senjata dan alutsista dengan UEA senilai 23 miliar dolar, termasuk jet tempur F-35, yang ditandatangani oleh pemerintahan Donald Trump.

Meskipun para pejabat pemerintahan Joe Biden menyinggung revisi perjanjian 90 menit antara Donald Trump dengan pemimpin UEA untuk menjual jet tempur F-35 dan senjata lainnya, tapi pemerintahan Biden hari Selasa (13/4/2021) menyampaikan kepada Kongres AS untuk menjalankannya.

Sebelumnya, Joe Biden telah menangguhkan kesepakatan senjata yang ditandatangani oleh Donald Trump sejak menjabat untuk meninjau perjanjian tersebut.

Satu jam sebelum akhir masa kepresidenannya di Amerika Serikat, Donald Trump memberi tahu Kongres AS bahwa kesepakatan senjata senilai 23 miliar dolar antara Washington dan Abu Dhabi adalah dampak dari normalisasi hubungan UEA dengan Israel.

Di bawah kesepakatan senjata AS dengan UEA senilai 23,37 miliar dolar, sebanyak 50 jet tempur F-35 akan dijual, bersama dengan berbagai drone pintar dan amunisi canggih.

Keputusan baru pemerintahan Biden ini diambil di saat Washington mengklaim sedang mendorong upaya untuk mengakhiri perang di Yaman.

Uni Emirat Arab terlibat dalam koalisi agresi yang dipimpin Arab Saudi di Yaman sejak 2015.

AS Bantah Terlibat dalam Sabotase di Instalasi Nuklir Iran

Juru bicara pemerintah Amerika Serikat mengklaim bahwa Washington tidak terlibat dalam insiden Natanz, dan konsentrasi Gedung Putih dipusatkan pada perundingan Wina.

Dikutip Fars News, Jen Psaki dalam jumpa persnya, Senin (12/4/2021) malam mengatakan, "Kami sudah melihat laporan-laporan terkait insiden yang terjadi di pusat pengayaan uranium Natanz. Kami tidak terlibat dalam serangan ke fasilitas nuklir Iran, dalam bentuk apa pun."

Ia menambahkan, "Kami tak ingin berspekulasi tentang insiden Natanz dan kami tidak mengetahui faktor penyebabnya. Kami memusatkan perhatian pada dialog yang akan digelar di Wina hari Rabu."

Jen Psaki menegaskan, "Kami menduga perundingan Wina akan berlangsung panjang dan sulit. Tidak ada indikasi perubahan pada komposisi peserta perundingan ini."

Biden Berjanji Akhiri Perang Terpanjang AS di Afghanistan

Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan waktu untuk mengakhiri perang terpanjang Amerika Serikat di Afghanistan telah tiba.

"AS akan mendukung pemerintah Afghanistan, tetapi tidak akan terlibat dalam operasi militer," kata Biden dalam pidatonya tentang rencana penarikan pasukan dari Afghanistan, Rabu (14/4/2021) seperti dikutip Farsnews.

"Proses penarikan pasukan AS akan dimulai pada 1 Mei," tambahnya.

Sebelum ini, seorang pejabat senior Washington mengatakan penarikan pasukan AS dimulai pada bulan Mei dan semua pasukan AS akan ditarik dari Afghanistan hingga 11 September tahun ini.

Taliban telah memperingatkan bahwa jika pasukan asing tidak keluar dari Afghanistan pada batas waktu yang ditentukan, mereka menganggapnya sebagai pelanggaran perjanjian Doha dan berjanji akan memulai serangan baru. (RA)

342/


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*