Metodologi Mencintai Alquran

Metodologi Mencintai Alquran

Di zaman yag modern ini, kebanyakan orang sudah kehilagan rasa untuk menyentuh bahkan melihat Alquran. Banyak yang berkata bahwa Alquran hanyalah bagi orang-orang yang mempelajari agama saja. Padahal Alquran sendiri adalah kalam Ilahi yang siapapun membacanya maka baginya ketenangan dan pedoman.

Alquran adalah salah satu mukjizat Rasulullah SAW dan satu-satunya mukjizat yang bisa dirasakan dan disaksikan oleh seluruh umatnya sepeninggal Rasulullah SAW. Alquran adalah salah satu kitab langit yang berisi tentang kabar bahagia, kisah, peringatan, nasehat bahkan pedoman bagi kehidupan manusia[1]. Alquran tidak hanya sebagai pajangan rumah dan diasingkan karena alquran adalah kitab dari kalam ilahi yang membacanya mendapatkan pahala dan setiap kalimatnya memiliki makna yang dalam dan luas.

Di zaman yag modern ini, kebanyakan orang sudah kehilagan rasa untuk menyentuh bahkan melihat Alquran. Banyak yang berkata bahwa Alquran hanyalah bagi orang-orang yang mempelajari agama saja. Padahal Alquran sendiri adalah kalam Ilahi yang siapapun membacanya maka baginya ketenangan dan pedoman.

Langkah-langkah Mencintai Al-Qur'an

1. Melihat Ayat-ayat Alquran

Melihat ayat-ayat Alquran bukan hanya awal dari menciptakan rasa kecintaan kepada Alquran karena melihat ayat-ayat Alquran adalah salah satu dari sunnah (hal yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan tidak berdosa) dan mendapatkan pahala.

Rasulullah SAW bersabda: "Melihat kepada mushhaf (Alquran) adalah suatu ibadah”.[2]

Suatu pekerjaan yang apabila melihatnya saja mendapatkan pahala ada beberapa macam. Contohnya seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

1. Melihat ayat-ayat AlQuran

2. Melihat Imam Ali ibn Abu Thalib as[3]

3. Melihat wajah-wajah ulama[4]

4. Melihat wajah orangtua[5]

5. Melihat Kabah

Namun disamping ada beberapa hal yang hanya melihatnya kita mendapatkan pahala ada beberapa hal pula dengan melihatnya bisa mendapatkan dosa dengan istilah lain adalah hal-hal yang makruh dan bisa juga mendekati haram.

1. Melihat mereka yang bukan mahram dengan sahwat

2. Melihat orangtua, pasangan(suami istri), dan anak dengan wajah yang tercampuri oleh marah

3. Melihat sesuatu yang dilarang oleh orang yang memlikinya (privasi)

4. Melihat untuk menyontek

Ayatullah Bahjat berpesan, "Jika seseorang melihat sesuatu yang buruk (gambar ataupun video) yang merusak dirinya dan pemikirannya dengan sengaja (keinginannya) maka spritualisnya (maknawi) dalam dirinya akan menyurut bahkan jatuh seperti sebanyak dan selama 20 tahun lamanya.

2. Menyimak Ayat-ayat Alquran

Menyimak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata simak yang memiliki dua arti, pertama berarti mendengarkan (memperhatikan) baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang. Kedua berarti meninjau (memeriksa, mempelajari) dengan teliti.

Di dalam Alquran Allah berfirman pada surat Al A’raf ayat 204, "Dan apabila dibacakan Alquran maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapatkan rahmat.”

Jadi, menyimak di sini memiliki makna bukan hanya mendengarkan (memperhatikan) baik-baik, namun meninjau dengan teliti apa yang dibaca oleh orang lain. Peristiwa ini banyak terjadi di Nusantara pada saat bulan Ramadhan kegiatan yang bernama tadarus (membaca Alquran).

Fenomena-fenomena ini juga tidak hanya karena membacanya akan mendapatkan pahala, namun keberkahan di dalamya sangat berlimpah dan juga dikarenakan dengan mendengarkan serta menyimaknya sama pahalanya dengan yang membacanya.[6]Pemahaman-pemahaman yang terjadi di masyarakat saat ini adalah keadaan dimana dengan mendengarkan Alquran cukup bermanfaat misalnya, bagi ibu hamil, dengan mendengarkannya saja maka kecerdasan anak akan meningkat, bahkan saat ini seseorang yang mendengarkan Alquran bukan hanya ketenangan yang akan didapat bahkan pahala dan ketentraman yang dibutuhkan batin akan tercukupi, dan fenomena lainnya.

3. Membaca Ayat-ayat Alquran

Membaca Alquran adalah salah satu yang dianjurkan oleh agama. Membaca Alquran juga mmerupakan salah satu ibadah yang memiliki banyak keutamaan.[7] Dari fenomena yang ada banyak sekali orang-orang mengambil kesimpulan bahwa dengan membacanya menggunakan huruf latin sudah cukup bagi mereka. Kemungkinan-kemungkinan ini bisa saja benar namun kekurangan-kekurangan pasti akan muncul.

Dapat membaca Alquran dengan baik memiliki langkah-langkah yang cukup banyak. Mulai dari mengenal huru-huruf arab (huruf Hijaiyyah), mengetahui cara membacanya dan yang paling penting adalah tajwid yaitu berisi kaidah-kaidah tata cara membaca Alquran yang baik dan benar karena adanya perbedaan membaca antara membaca Bahasa Arab sebagai bacaan dan membaca Alquran.

Rasulullah SAW juga menmberikan nasehat bahwa membaca Alquran akan membuat tempat tinggal yang dibacakan ayat-ayat Alquran akan bercahaya.[8] Sebuah hadist meriwayatkan bahwa, kita yang berada di bumi melihat cahaya dilangit yang berupa bintang-bintang sedangkan malaikat yang berada di langit melihat cahaya yang berada di bumi dengan jumlah rumah-rumah yang penghuninya diselimuti dengan membacakan ayat Alquran di dalamnya.[9]

4. Membaca Terjemahan Alquran

Alquran menggunakan bahasa arab sebagai pengantarnya bahasa yang digunakan oleh kaum Rasulullah SAW diturunkan[10], bahasa yang memiliki makna dan kosakata yang mudah dan memiliki makna yang luas dan dalam[11]. Maka dari itu disaat membaca Alquran apabila tidak tau maknanya atau terjemahannya terlihat seperti seseorang yang sedang membaca buku tapi tidak paham apa yang sedang dibaca sedangkan Alquran sendiri adalah kalam Ilahi yang memiliki banyak sekali pesan dan nasehat juga kisah dan pelajaran yang berapa kalipun membaca maka bukan hanya pahala yang didapat tapi juga ilmu dari pemahaman yang lebih kaya akan mengilhami si pembaca.

Karena itu membaca terjemahannya merupakan salah satu tahap yang bisa menumbuhkan kecintaan kita kepada Alquran dan menjadikan kita lebih memahami makna yang terkandung, pesan yang ada, kisah yang tercantum, peringatan yang terkesan serta banyak hal lainnya yang tidak bisa diungkapkan.

5. Mengkaji Tafsir Alquran

Tafsir Alquran cukup banyak kita lihat di perpustakaan misalnya Al Imtsal, Al Mizan, Ahlulbait dan lain-lainnya. Banyaknya kajian dalam penafsiran ayat-ayat Alquran yang dilakukan ulama sebelumnya adalah salah satu perantara untuk memahami makna ayat secaramnedalam. Berawal dari penggunaannya sebagai solusi untuk memahami pesan dari ayat-ayat juga berguna untuk menjadi pelajaran dan perluasan pengetahuan yang melingkupi segala aspek seperti perkara keimanan, ketuhanan, politik, ekonomi, warisan dan hukum-hukum lainnya.

Dengan mengkaji dan mengetahui tafsiran dari ayat-ayat yang dibaca maka akan muncul kecintaan lebih dalam kepada Alquran serta penghayatan lebih di saat membacanya.

6. Merenungi dan Mengamalkan Pesan-pesan Alquran

Merenungi ayat-ayat Alquran berbeda dengan menafsirkan dan membaca ayat-ayat Alquran. Merenungi di dalam Bahasa Indonesia berarti memikirkan atau mempertimbangkan dalam-dalam. Namun perenungan terhadap Alquran bukanlah pertimbangan antara salah dan benar dari ayat-ayat yang ada namun memikirkan dan memahami secara dalam Alquran.

Perenungan adalah tingkatan kedua setelah membaca dan merupakan batu loncatan sebagai tingkatan untuk memasuki ruangan penafsiran Alquran. Allah SWT berfirman di dalam Alquran untuk mengingatkan kepada manusia tentang mendalami Alquran.

Artinya, "Maka tidakkah mereka mendalami (menghayati) Alquran? Setidaknya (Alquran) itu bukan dari Allah maka pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.[12]

Artinya, "Maka tidakkah mereka menghayati Alquran ataukah hati mereka sudah terkunci?”[13]

Dan Imam Ali as berkata, ”Ketahuilah, tidak ada kebaikan dari membaca Alquran kecuali ia mendalaminya.[14]

Dengan merenungi Alquran maka bukan hanya kecintaan yang akan menjadi lebih besar terhadap Alquran namun akan terdapat pengaruh yang besar terhadap sikap dan perilaku yang lebih baik di kehidupan.

***


[1] ال امیرالمؤمنین علیه السلا” :وَ اعلَموا اَنَّ هذَالقُرآنَ هُوَ النّاصِحُ الَّذی لا یَغُشُّ، وَالهادِی الَّذی لایُضِلُّ ، وَالمُحَدِّثُ اَّلذی لایَکذِبُ.” نهج البلاغه خطبه176

[2]عن أبي الوزاع ذريح بن الوزاع عب أبيه و كانت له صحبة قال : قال رسول الله : "النظر إلي المصحف عبادة.عسقلاني، أحمد بن علي بن حجر، الاصابه، ج6، ص 463

[3]سمعت رسول الله ى يقول :النظر الى على بن ابى طالب عبارة و النظر الى الوالر ين بر افة و رحمة عبارة و النظر فى المصحف عبارة و النظر الى الكعبة عباره:ربلي، علي بن عيسى، كشف الغمه، ج 3،ص 62،ابن شهر اشوب،مناقب ال ابى طالب ج3 ،ص 6 مجلسى،محمر با قر ،بحار الا نوار،ج98،ص199

[4]صحيفه امام رضا (ع)

[5]قال رسول الله(ص)”:نظر الولد الی والدیه حبا لهما عبادة,

[6]قال رسول الله صلی الله علیه و آله ”:قارِئُ القُرآنِ وَ المُستَمِعُ فِی الأَجرِ سَواءٌ.” مستدرک الوسائل 2/614

[7] قال رسول الله صلی الله علیه و آله” :اَفضَلُ العِبادَةِ قَراءَةُ القُرآن .”مجمع البیان 1/15

[8]قال رسول الله صلی الله علیه وآله ":نَوِّروا بُیوتَکُم بِتِلاوَةِ القُرآنِ ".اصول کافی/6102

[9] قال رسول الله صلی الله علیه و آله: اِنَّ البَیتَ اِذا كَثُرَ فیهِ تِلاوَةُ القُرآنِ كَثُرَ خَیرُهُ وَاتَّسَعَ اَهلُهُ وَاَضاءَ لاَهلِ السَّماءِ كَما تُضى ءُ نُجومُ السَّماءِ لاَهلِ الدُّنیا. (اصول كافى، جلد۲، صفحه۶۱۰)

[10] وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (ابراهيم :4)

[11]قال علی علیه السلام” :اِنَّ القُرآنَ ظاهِرُهُ اَنیقٌ وَ باطِنُهُ عَمیقٌ .”اصول کافی 2/559

[12] افَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا)نسا : 82)

[13] أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا(محمد : 24)

[14]قال علی علیه السلام” :اَلا لا خَیرَ فی قِراءَةٍ لَیسَ فیها تَدَبُّرٌ .”اصول کافی 1/36


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

We are All Zakzaky
conference-abu-talib
Tidak untuk Perjanjian Abad ini