Ayatullah Ramezani di Depan Komunitas Muslim Syiah Prancis:

Ajaran Islam Sangat Menghargai Rasionalitas dan Kemanusiaan

Ajaran Islam Sangat Menghargai Rasionalitas dan Kemanusiaan

"Apa yang menjadi dasar karakteristik Islam adalah rasionalitas; Karena Islam adalah agama akal, pikiran dan rasionalitas. Bahkan ibadah dalam Islam, seperti shalat dan puasa, adalah sesuai dengan persetujuan akal."

Menurut Kantor Berita ABNA, Sekretaris Jenderal Forum Internasional Ahlulbait as, Ayatullah Reza Ramezani dalam lawatannya ke sejumlah negara di Eropa, termasuk diantaranya Prancis. Selama di Prancis Ayatullah Reza Ramezani mengadakan pertemuan dan dialog dengan berbagai pemuka agama dan komunitas-komunitas Islam. Diantaranya pada Minggu (14/11) Sekjend Forum Internasional Ahlulbait as ini mengadakan pertemuan dengan sejumlah anggota dari Forum Komunikasi Organisasi-Organisasi Syiah Prancis.

Dalam pertemuan tersebut, Ayatullah Ramezani menekankan bahwa musuh-musuh Islam hari ini mencoba untuk membalikkan Islam seperti di masa lalu pada periode-periode terjadi perpecahan dasyhat di tubuh umat Islam. Ia berkata, "Tugas kita yang paling penting sebagai Muslim adalah pengetahuan yang komprehensif tentang Islam. Berdasarkan pemahaman ayat dan hadits yang benar, Islam adalah agama yang komprehensif yang membahas masalah individu dan perspektif sosial."

Menjelaskan kata “komprehensif” yang dimaksudnya, Ayatullah Ramezani berkata, “Yang dimaksud komprehensif adalah bahwa Islam mencakup pandangan duniawi dan pandangan akhirat. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur'an yang menjelaskan bahwa kita memiliki bagian dunia yang harus kita perhatikan dan juga tidak lupa pada upaya-upaya untuk mencapai kebahagiaan diakhirat. Sebagian orang hanya memperhatikan kondisinya dunia dan mengabaikan akhiratnya, sebagiannya lagi berlaku sebaliknya. Kedua pemikiran ini salah, dan ayat yang mengingatkan bahwa mereka hanya mengetahui kehidupan dunia dan mengabaikan akhirat  adalah pengingat untuk kita tidak terjebak pada pemikiran yang salah tersebut."

Ayatullah Ramezani kemudian berbicara terkait bidang hubungan dalam Islam. Ia membagi hubungan dalam lima jenis. “Hubungan dengan diri sendiri”, “Hubungan dengan Tuhan”, “Hubungan dengan masyarakat”, “Hubungan di arena internasional” dan “Hubungan dengan alam”. "Lima jenis hubungan yang ada dari sudut pandang Islam ini memiliki aturan khusus dan telah sangat dijabarkan dengan baik dan detail dalam kepustakaan Islam." Ungkapnya. 

Ulama Islam ini kemudian melanjutkan, "Dalam pemikiran Islam Liberal, mereka hanya membahas hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri yang dipertimbangkan, dan ini bertentangan dengan ayat dan hadits. Karena Islam memiliki aturan dan peraturan di bidang masyarakat dan masyarakat dan hubungan manusia satu sama lain."

Ayatullah Ramezani menekankan bahwa kekerasan yang dikaitkan dengan Islam tidak ada hubungannya dengan agama ini.  Dia berkata, "Mereka yang memenggal kepala orang lain dengan kata-kata La ilaha illa Allah dan Allahu Akbar tentu tidak ada hubungannya dengan Islam. Kelompok ini direkayasa oleh musuh-musuh Islam. Ketika kita melihat ayat-ayat Al-Qur'an, kita melihat bahwa Al-Qur'an tidak mengizinkan pembunuhan dengan cara apapun dan pada siapapun tanpa hak."

Sekretaris Jenderal Forum Internasional Ahlulbait lebih lanjut menyatakan bahwa dalam perdebatan ideologis, masalah harus dipetakan dengan baik melalui pemikiran yang bersandar pada argumentasi-argumentasi yang kokoh. Terkait syubhat yang sering dilancarkan musuh-musuh Islam tentang Islam Ayatullah Ramezani menanggapi, "Propaganda yang menyebut Islam adalah agama kekerasan tidak memiliki dasar Al-Qur'an maupun bukti empiris yang pernah terjadi di masa Nabi Muhammad saw. Sepanjang perioden Nabi Muhammad saw masih hidup, umat Islam banyak menderita. Oleh karena itu, banyak dari mereka yang meminta izin kepada Nabi Muhammad saw untuk membela diri; Namun Nabi tidak mengeluarkan izin ini. Musuh-musuh Islam merencanakan untuk membunuh Nabi saw. Namun Nabi justru meminta banyak Muslim untuk berhijrah dari Mekah ke Madinah, bukannya meminta untuk membela dia. Ketika Nabi saw menetap di kota Madinah, orang-orang musyrik pergi ke Madinah untuk membunuhnya dan mengalahkan Islam; Di sini Nabi Muhammad saw harus membela dirinya sendiri dan kaum Muslimin. Oleh karena itu, untuk mengatakan bahwa Nabi Islam adalah nabi kekerasan atau bahwa Islam adalah agama kekerasan tidak memiliki dasar ilmiah, sejarah ataupun bukti dari ayat-ayat Al-Qur'an."

Ayatullah Ramezani menambahkan, "Al-Qur'an, yang semua surahnya - kecuali satu surah - dimulai dengan kalimat "Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"; Dan Al-Qur'an, di mana kata-kata seperti "Rahman", "Rahim", "Ghafur" dan "Rauf" dan lain-lain telah digunakan berulang-ulang, tentu tidak akan menjadi kitab agama kekerasan. Bukan hanya Islam, tapi kami percaya bahwa tidak ada nabi atau agama yang datang untuk melakukan kekerasan dan memerintahkan umatnya untuk melakukan kekerasan."

"Persepsi bahwa "Tuhan Yesus adalah Tuhan belas kasih dan Tuhan Muhammad adalah Tuhan kekerasan!" Itu dibuat oleh musuh Allah dan manusia. Apa yang menyebabkan berkembangnya Islam karena Islam dibawa oleh Nabi Muhammad saw yang dikenal sangat berakhlak baik. Allah SWT telah menggambarkan akhlak Nabi Muhammad saw dalam beberapa ayat seperti فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِك...", Ini memberitahu kita bahwa dengan karunia Allah, Nabi Suci Muhammad saw menjadi lembut dan dengan alasan ini orang-orang menjadi tertarik untuk mengikutinya." Jelas Ayatullah Ramezani. 

Mengacu pada pentingnya persatuan umat Islam, Sekretaris Jenderal Forum Internasional Ahlulbait as mengatakan, "Apa yang penting dan signifikan bagi kita semua - terutama bagi para pengikut Ahlulbait as - adalah untuk melihat umat Islam dan persatuan umat Islam. Beberapa secara eksplisit menyebutkan persatuan Islam yang dimaksud adalah khusus untuk ummat sunni  dan khusus ummah syiah! padahal propaganda itu  dibuat dan dibiayai oleh musuh-musuh islam. Yang harus kita kejar dan wujudkan adalah persatuan umat Islam, dan inilah yang diyakini oleh para pemimpin besar Syiah."

Ulama lulusan Hauzah Ilmiah Qom ini menambahkan, "Pemikiran dan perilaku ISIS bahkan tidak disetujui oleh para ulama Sunni, dan semua orang dengan suara bulat menolaknya. Kami juga memerangi ide-ide ekstremis dan berbahaya ini dalam praktik; Oleh karena itu, syahid Haji Qasim Soleimani adalah seorang pria dari kelompok kita yang berdiri melawan orang-orang biadab ini dan mencapai kesyahidan dalam perjuangannya."

Mengacu pada kemunafikan kelompok yang mengaku memerangi terorisme, Ayatollah Ramezani berkata, "Amerika Serikat mengklaim memerangi terorisme; Sedangkan kebijakan pemerintah mereka sendiri memupuk terorisme dengan membentuk, mendanai, mempersenjatai dan  mengirimkannya ke Suriah, Irak, Afghanistan dan tempat lain. Ini hanyalah skenario yang mereka buat sendiri."

Ayatullah Ramezani menyatakan bahwa persatuan dan kerukunan dapat berperan besar dalam memperkenalkan mazhab Ahlulbait as. Dia berkata, "Apa yang menjadi dasar karakteristik Islam adalah rasionalitas; Karena Islam adalah agama akal, pikiran dan rasionalitas. Bahkan ibadah dalam Islam, seperti shalat dan puasa, adalah sesuai dengan persetujuan akal." 

Ulama Hauzah Ilmiah dan universitas ini lebih lanjut memperkenalkan spiritualitas sebagai karakteristik kedua Islam. Ia berkata, "Semua ayat Al-Qur'an dan riwayat dan kata-kata Ahlulbait as memperhatikan dunia spritualitas dan menunjukkan bahwa manusia harus memiliki pertumbuhan spiritual dan intelektual. Hakekatnya manusia yang datang ke dunia ini, harus menjadi manusia yang rasional dan intuitif dengan melatih kecerdasan dan hatinya. Spiritualitas yang kita cari dipimpin oleh Tuhan, dan perhatian pada realitas yang lebih tinggi yang paling sempurna. Spiritualitas yang kita kejar bertanggung jawab satu sama lain dan untuk agama Tuhan, dan tidak anti-spiritual atau anti-agama. Oleh karena itu, penting untuk memasukkan spiritualitas ke dalam lembaga-lembaga pendidikan."

"Oleh karena itu, kita bisa mengatakan, Islam itu agama rahmat, agama rasional, agama spritual, agama keadilan dan agama toleransi. Toleransi yang dimaksud adalah toleransi kemanusiaan. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw bersabda, وَالَّذی بَعَثَنی بِالحَقِّ لَقَد اَمَرَنی بِمُداراة النَّاس yang artinya, bahwa Allah Swt itu mengutus Nabi Muhammad saw secara hak, dan memerintahkannya untuk mengembangkan toleransi dikalangan masyarakat." Tambahnya. 

Selanjutnya, Ayatullah Ramezani menekankan akan komprehensifnya mazhab Ahlulbait as. Ia mengatakan, "Masalah yang harus diperhatikan oleh penguasa Barat adalah bahwa kehadiran pengikut Ahlulbait as di semua negara akan menjadi sangat berharga bagi setipa negara tersebut. Karena pengikut Ahlulbait as dimanapun berada menentang ekstremisme, kekerasan dan tindakan menentang pemerintahan."

Ayatullah Ramezani memberikan contoh dari bagaimana muslim Syiah di masyarakat Barat. Ia berkata, "Ketika Imam Khomeini ra berada di Nouvelle Loshato di Prancis, para murid Imam menyembelih seekor domba di rumah dan membuat kaldu. Ketika sebagian dari makanan itu dibawa kepada Imam, Imam bertanya, "Dari mana asal daging kambing ini dan di mana ia disembelih?" Para murid mengatakan bahwa kami menyembelihnya di sini dan mereka mencoba membenarkan apa yang telah mereka kerjakan. Imam berkata, "Apakah pemerintah Prancis mengizinkan Anda penyembelihan hewan di tempat seperti itu, atau apakah penyembelihan domba memiliki tempat khusus?" Mereka mengatakan ini mungkin tidak diperbolehkan. Imam berkata, "Maka saya tidak makan makanan ini. Inilah poin-poin penting yang perlu kita perhatikan yang telah diajarkan dan dipraktikkan Imam Khomeini. Saya sendiri telah memperhatikan hal ini selama 13 tahun saya di Eropa."

"Berdasarkan pengalaman yang saya peroleh, saya tahu bahwa kita harus mengetahui dan mengenali madrasah Ahlulbait as dengan benar, dan kemudian mengamalkannya. Tidak ada dalam mazhab ini pengajaran dan perintah untuk memaksakan ajaran dan akidah ini pada orang lain. Seorang muslim Syiah tidak boleh memaksa seorang Kristiani untuk menjadi muslim." Tambahnya.

Di bagian akhir penyampaiannya, Ayatullah Ramezani menekankan keharusan dalam maktab Ahlulbait as untuk melindungi kebebasan ekspresi denagn tetap menjaga kesucian. Ia berkata, "Sebaliknya, kita harus mencoba untuk tidak menghina Alkitab atau nabi mana pun. Membuat karikatur orang suci dan tidak menghormati kesucian orang lain bertentangan dengan akal sehat dan rasionalitas manusia." 


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*