Berita Forum Internasional Ahlulbait:

Acara Penutupan "Piagam Internasional 114" Berlangsung di Qom

Acara penutupan Piagam Internasional 114 (World Award 114) telah berlangsung di aula konferensi Forum Internasional Ahlulbait as di Qom Republik Islam Iran pada Senin, (9/8 pukul 18.00 waktu setempat dengan memenuhi protokol kesehatan. Acara juga berlangsung secara virtual yang disiarkan secara live melalui tv satelit dan aplikasi media sosial.

Menurut Kantor Berita ABNA, acara penutupan Piagam Internasional 114 (World Award 114) telah berlangsung di aula konferensi Forum Internasional Ahlulbait as di Qom Republik Islam Iran pada Senin, (9/8 pukul 18.00 waktu setempat dengan memenuhi protokol kesehatan. Acara juga berlangsung secara virtual yang disiarkan secara live melalui tv satelit dan aplikasi media sosial.

Dalam acara tersebut, Sekretaris Jenderal Forum Internasonal Ahlulbait menyampaikan sambutannya secara virtual.  Dalam sambutannya, Ayatullah Reza Ramezani menyampaikan terimakasih kepada penyelenggara dan peserta dalam Piagam Internasional 114 yang pertama. Ia berkata,"Masyarakat Muslim harus menjadi lebih akrab dengan Al-Qur'an dari hari ke hari; Karena Al-Qur'an adalah kitab hukum, petunjuk, dzikir dan penyelamat bagi individu, masyarakat dan keluarga."

Lebih lanjut, Ayatullah Ramezani berkata, "Jika seseorang ingin mencapai kebahagiaan sejati dan kekayaan spiritual dan intelektual di semua dimensi dan semua area keberadaan, tidak mungkin tanpa Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah manifestasi Yang Mahakuasa, dan Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan kebutuhan nyata manusia. Allah swt yang Maha Mengetahui, telah menginformasikan apa yang membawa manusia kepada pertumbuhan dan peningkatan spiritual dan posisi dan puncak kemanusiaan, yang kesemua itu telah termaktub dalam Al-Qur'an."

Sekretaris Jenderal Forum Internasional Ahlulbait as tersebut lebih lanjut mengatakan, "Al-Qur'an telah dipertimbangkan oleh piihak yang pro dan kontra sejak diturunkannya. Pihak yang kontra selalu berusaha untuk mengkritiknya, tetapi sejauh ini gagal. Sebagian orang mengira bahwa mereka dapat membuat kritikan terhadap Al-Qur'an."

"Dari perspektif yang berbeda, mereka yang telah mempelajari Al-Qur'an dengan cermat, kitab Ilahi ini adalah keajaiban. Isu-isu epistemologis, moral, ilmiah, antropologis, kulturologis dan apa yang dapat berperan dalam membimbing manusia disebutkan dalam Al-Qur'an." Tambahnya. 

Ayatullah Ramezani mengatakan tentang aktivitas  Qurani setelah Revolusi Islam Iran telah berkembang dengan sedemikian pesat. Ia berkata, "Selama 42 tahun Revolusi Islam Iran, gerakan besar telah dibuat tentang Quran. Di bidang ilmiah dan akademis, pekerjaan yang baik telah dilakukan dalam membangun disiplin ilmu yang berkaitan dengan penafsiran dan ilmu Al-Qur'an dan lembaga penelitian; Kita telah melakukan banyak diskusi terperinci tentang berbagai topik dan mempresentasikannya kepada komunitas ilmiah dan internasional. Namun, semua yang telah dilakukan tetap tidak menggambarkan setitik pun dari lautan Al-Qur'an yang tak terbatas. Al-Qur'an adalah manifestasi tak terbatas dari Imam Kebenaran, dan berbagai bidangnya harus ditangani dari waktu ke waktu dengan perincian yang lebih baru. Ada juga kegiatan dan karya seni luar biasa yang berhubungan dengan Al-Qur'an di dunia."

Terkait dengan penyelenggaraan Piagam Internasional 114, Ayatullah Ramezani menyambut dengan sukacita. Guru besar Hauzah Ilmiah Qom tersebut mengatakan, "Penting bahwa para pengikut Ahlulbait as di dunia menjadi lebih mengenal Al-Qur'an dan memiliki hubungan dengan kitab suci ini. Karena Al-Qur'an adalah kitab keselamatan bagi dunia manusia, dan jika manusia ingin dibebaskan, ia harus menggunakan kitab ini sebagai sumbernya."

Di bagian akhir penyampaiannya, Ayatullah Reza Ramezani berkata,"Kami menghargai  karya-karya Qur'ani dari Ayatullah Takhiri, yang hari ini kita peringati haulnya. Semoga Allah menyatukan semua yang telah mengabdikan Al-Qur'an dengan Al-Qur'an dan meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur'an di kalangan umat Islam." 

"Penyelenggaraan Piagam Internasional 114 yang perdana ini, bisa menjadi awal yang bahagia." Tutupnya. 

Lebih dari 500 Karya Diterima Penyelenggara

Sekretaris Penyelenggara Piagam Internasional 114 Hujjatul Islam wa Muslimin Mohammad Javad Zarean dalam laporannya menyebutkan, pihak penyelenggara telah menerima lebih dari 500 karya yang dikirim partisipan dari berbagai negara. 

Dalam sambutannya ia mengatakan, "Forum Internasional Ahlulbair as berdasarkan misi utamanya, memperhatikan berbagai aspek kehidupan Syiah di seluruh dunia, dan dalam hal ini, majelis ini salah satu kegiatannya adalah menangani masalah-masalah Al-Qur'an. Selama tiga dekade terakhir, forum telah menerbitkan dan menerjemahkan Al-Qur'an, serta menerbitkan dan menerjemahkan kitab-kitab tafsir."

Wakil Menteri Urusan Internasional Forum Internasional Ahlulbait as lebih lanjut menambahkan, "Tokoh-tokoh Al-Qur'an seperti Ayatullah Asefi dan Ayatullah Takhiri selama keduanya berada di Forum Internasional Ahlulbait as telah membahas Alquran dan menghasilkan karya-karya bernas terkait dengan Alquran."

Mengacu pada motivasi diadakannya Piagam Internasional 114, Zarean mengatakan, “Selain kegiatan Alquran internasional yang dilakukan oleh forum ini, forum ini juga memutuskan untuk memiliki program khusus untuk komunitas Syiah yaitu berupa pemberian penghargaan kepada para aktivis Alquran di kalangan Syiah untuk memotivasi mereka. Karena itu award ini diadakan untuk mencapai tujuan tersebut."

"Pada Piagam Internasional 114 yang pertama ini, umat Islam Syiah dari berbagai belahan dunia diminta untuk mengirimkan karya mereka untuk dihormati atas karya-karya pilihan mereka. Dengan publisitas paling sedikit dalam waktu kurang dari empat bulan, kami menerima lebih dari 500 karya, banyak di antaranya adalah karya yang berharga. Dari 500 karya tersebut, sekitar 200 karya yang masuk dalam kategori penilaian dan setelah dilakukan seleksi lolos 14 karya pada penjurian akhir yang merupakan karya terbaik." Tambahnya. 

Terkait acara penutupan yang terselenggara secara online dan pembatasan yang ketat untuk acara offline Dr. Zarean menyebutkan, dikarenakan kondisi pandemi sehingga acara penutupan dilakukan secara terbatas. Namun demikian acara tetap dapat disaksikan secara live melalui media-media elektronik. 

Pada bagian akhir penyampaiannya, Wakil Menteri Urusan Internasional Forum Internasional Ahlulbait as ini mengatakan,"Kami berharap bahwa di tahun-tahun mendatang, ajang Penghargaan Internasional 114 ini terus berlanjut dengan jumlah partisipan yang jauh lebih meningkat dengan kualitas terbaik." 

 

Sementara itu, Hossein Asadi, selaku ketua Dewan Juri Piagam Internasional 114  menjelaskan karya-karya yang dipresentasikan pada proses seleksi awal  lebih dari 500 karya. Ia menyebut sambutan komunitas Syiah terhadap program tersebut ternyata diluar dugaan.  Hossein Asadi berkata, "Titik berat program ini adalah Ramadhan, dan jumlah penerimaan ini sangat baik. Karya-karya tersebut dievaluasi dalam tiga tahap dengan kehadiran juri tokoh-tokoh Al-Qur'an dunia, dan 22 karya berhasil masuk ke tahap akhir, dan 14 karya tersebut terpilih, yang akan diapresiasi dalam pertemuan ini."

Lebih lanjut ia menambahkan, "Melalui ajang award ini, kami melihat bahwa ada lautan bakat dalam diri para pengikut Ahlulbait as dan menjadi harapan cerah dimasa depan. Semoga penyelenggaran ajang seperti ini terus dilanjutkan dan menjadi lebih baik di tahun-tahun mendatang." 

Pembentukan Republik Islam Iran berdasarkan Alquran

Dr. Mehdi Mostafavi, Ketua Komisi Alquran dari Dewan Kebijakan Budaya Internasional Kantor Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran dalam sambutannya mengatakan pada upacara penutupan Piagam Internasional 114, "Rezim Pahlavi ingin Alquran ditinggalkan, tetapi Republik Islam Iran didasarkan pada nilai-nilai Alquran; Baik kepribadian sistem maupun hukum dan struktur didasarkan pada nilai-nilai Al-Qur'an. Upaya Republik Islam Iran adalah mengimplementasikan Al-Qur'an di bidang pengetahuan dan perilaku individu dan masyarakat. Memperkenalkan dan mengenal Al-Qur'an dan memperdalam keakraban Al-Qur'an dengan program pendidikan dan seni melalui media, majalah dan transmisi pengetahuan Al-Qur'an dan keakraban dengan kitab suci ini merupakan agenda Republik Islam Iran."

 

Lebih lanjut dia menekankan, "Hari ini kita menyaksikan bahwa dari tingkat dasar hingga akhir pendidikan seminari dan universitas, ada berbagai bidang pengajaran Al-Qur'an. Ada guru-guru Al-Qur'an dan buku-buku mulia tentang ajaran Al-Qur'an; Juga, disertasi dan penelitian Alquran di seminari dan universitas. Ini semua akan mendorong tersebarnya makrifat Alquran kepada masyarakat dunia."

Kisah Dibalik Pengerjaan Kitab  Al-Mukhtasar Al-Mufid fiTafsir Al-Qur'an

Ayatullah Muhammad Saeed al-Nu'mani Presiden Asosiasi Pemikiran Islam yang hadir langsung dalam acara dalam sambutannya mengatakan, "Kitab al-Mukhtashar al-Mufid fi Tafsir Al-Qur'an al-Majid adalah peninggalan berharga dari guru kami asy-Syahid Ayatullah al-Uzhma Sayid Muhammad Baqir Shadr. Penyelesaikan kitab ini dibarengi dengan bimbingan dan masukan dari almarhum Ayatullah Taskhiri."

Lebih lanjut dia menambahkan, "Sebelum kemenangan Revolusi Islam, tafsir dari 10 juz Alquran telah disiapkan, namun pasca revolusi Ayatullah Takshiri disibukkan dengan berbagai jadwal kegiatan sehingga bagian lain jadi tertunda pengerjaannya. Sampai akhirnya, Ayatullah Takshiri berkata, kita harus menepikan semua pekerjaan lain, dan fokus pada penyelesaiaan kitab tafsir ini. Dengan itu, akhirnya semua 30 juz Alquran berhasil tuliskan penafsirannya dalam kitab berharga ini."

Dalam acara yang berlangsung secara online dan offline tersebut, diumumkan para pemenang dari semua kategori yang dinilai. Adapun kategori yang dinilai adalah tokoh abadi, lembaga Alquran dan aktivis Qur'ani. Acara ini juga dihadiri delegasi dari Yaman dan disebut sebagai tamu kehormatan. 

 

Berikut adalah daftar lengkap pemenang dan penerima penghargaan 'Piagam Internasional 114" yang pertama:

Penghargaan sebagai tokoh abadi diberikan kepada Almarhum Ayatullah Muhammad Ali Takhiri dari Iran dan Ayatullah Muhammad Saeed al-Nu'mani dari Irak karena karyanya Mukhtasar Al-Mufid Fi Tafsir Al-Quran Al-Majid

Penghargaan untuk kategori lembaga dan badan pusat Alquran terbaik diberikan kepada:

Peringkat pertama: Dar Al-Sayyida Ruqayyah lil Qur'anil Karim dari Arab Saudi

Juara kedua: Muassasah Sabil Alquran dari India

Tempat ketiga: Muassasah al-Naun al-Qur'aniyah dari Yaman

Tempat keempat:  Muasasah Taratil al-Fajr dari Arab Saudi

Penghargaan harapan diberikan kepada: Majma' Ahlulbait lil 'Iraq dari Irak, Markaz Ahlulbait as Lisbon dari Portugal dan Jamiat Nasim dari Albania.

Penghargaan untuk kategori individu dari aktivis Alquran diberikan kepada: 

Penilaian terbaik: Syaikh Abrar Hussein Golgati dari Pakistan

Yang berhak mendapat penghargaan:

Fatemeh Raad dari Amerika Serikat

Dr. Ali Abu al-Khair dari Mesir

Umm Forou Naqvi dari Inggris

Munia Nizar Ahmad Ibrahim dari Irak

Syaikh Salim Akbar dari Kanada

Masoumeh Jamir Akayev dari Republik Azerbaijan

Sementara penghargaan sebagai tamu kehormatan diberikan kepada Al-Sayyid Sadegh Al-Shorfi dari Yaman yang turut hadir langsung menerima penghargaan dari penyelenggara. 

Piagam Internasional 114 yang pertama digelar oleh Forum Internasional Ahlulbait as pada bulan Ramadhan lalu, dengan memberikan penilaian pada aktivitas Qur'ani dari yayasan dan aktivis Alquran muslim Syiah di seluruh dunia. 

Disebutkan "Piagam Internasional 114" diikuti oleh lebih dari 130 peserta dari lebih dari 40 negara, dengan total jumlah karya yang masuk sebayak lima ratus lebih ke Sekretariat Penyelenggara.

Setelah mendaftarkan karya di sekretariat penghargaan ini, tahap pertama penjurian dan seleksi karya dilakukan dan di antara total karya dan laporan yang diterima dari seluruh dunia, lebih dari 20 karya dan kegiatan memasuki tahap akhir penjurian. 


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*