43 Tahun Kemenangan Revolusi Islam Iran; Sinergi Islam dan Ilmu Pengetahuan

43 Tahun Kemenangan Revolusi Islam Iran; Sinergi Islam dan Ilmu Pengetahuan

Keberhasilan Iran mensinergikan Islam dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi membuat ulama besar Universitas al Azhar Mesir, Syaikh Thantawi menyatakan, "Kemajuan ilmiah yang telah dicapai Republik Islam Iran merupakan kemajuan dunia Islam dan kebanggaan bagi seluruh umat muslim."

Sejak menuntaskan perjuangan panjang untuk terlepas dari rezim diktator, Imam Khomeini telah membawa perubahan baru bagi bangsa Iran. Kedigdayaan rezim monarki Pahlevi sebagai pewaris Imperium Persia yang berusia 2500 tahun digulung oleh sebuah gelombang besar aksi massa tanpa senjata yang dipimpinnya. Revolusi Iran diakui sebagai yang terbesar ketiga dalam sejarah setelah revolusi Prancis dan Bolshevik. Namun revolusi yang sangat mengejutkan dunia ini memiliki keunikan, yang oleh Bernard Lewis ahli sejarah Inggris, “Jelas sebuah kejadian yang harus dijelaskan”. Tidak sebagaimana revolusi  pada umumnya di dunia yang dipicu oleh ketidakpuasan militer; revolusi Iran dipimpin seorang ulama berusia 80 tahun yang mengendalikan jalannya revolusi dari luar Iran. Imam Khomeini menyerukan perlawanan rakyat menghadapi rezim yang dilindungi angkatan bersenjata yang dikenal paling mengerikan kelima di dunia. Buah dari revolusi itu, pemerintahan baru yang memadukan teokrasi dan demokrasi yang menghasilkan perubahan yang sangat besar dengan kecepatan tinggi. Melalui referendum, 98,2% rakyat Iran memilih menyepakati namanya Republik Islam Iran.

Perjalanan republik baru ini tidak mulus. Penentangan oleh pihak asing bermunculan. Irak tetangganya merasa terancam. Atas perintah Saddam Husein yang didukung 40 negara, Iran dibombardir dari laut, darat dan udara. Amerika Serikat menyebut negara fenomenal ini sebagai bangsa yang keras kepala.  Sementara Iran dengan mazhab Syiah mayoritas rakyatnya, disebut oleh mufti-mufti Saudi sebagai musuh dan diluar Islam.  Apapun yang berasal darinya dicurigai sebagai kedok semata untuk memberangus dan menghancurkan Islam dari dalam. Apapun yang berasal darinya, fiqh, hadits, tradisi, teologi, filsafat bahkan penemuan-penemuan mutakhirnya diisolasikan dan dipinggirkan dari dunia Islam. Syiah sering mendapat  tuduhan dan fitnah sebagai agama tersendiri dan bukan bagian dari Islam. Namun, bagai pepatah, anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu,

Iran dengan masyarakatnya yang mayoritas Syiah menjawab segala tuduhan dan berbagai tudingan miring dengan kerja-kerja positif yang nyata. Iran menjadi negara terdepan dan paling aktif memberikan pembelaan atas penindasan yang masih juga dirasakan rakyat Palestina. Tidak sekedar melalui diplomasi politik, Pemerintah Iran  juga memberikan bantuan secara nyata dengan menjadikan Palestina tidak ubahnya salah satu provinsi yang menjadi bagian negaranya, dengan menanggung gaji pegawai di tiga departemen. Menanggung hidup 1.000 pengangguran senilai 100 dolar setiap bulannya. Membiayai total pembangunan gedung kebudayaan, perpustakaan serta renovasi 1.000 rumah yang hancur dengan total biaya 20 juta dolar. Belum lagi bantuan lainnya yang diberikan tanpa persyaratan apapun. Pembelaan dan dukungan Iran atas perlawanan rakyat Gaza menghadapi agresi militer Israel terutama pertengahan 2021 lalu, membuat pimpinan HAMAS mewakili rakyat Gaza menyampaikan rasa terimakasihnya secara terbuka kepada Iran. Militer Iran bahkan memiliki 17 sampai 20 ribu pasukan elit terlatih yang secara khusus bertugas untuk membebaskan Alquds, namanya Korps Brigade Alquds yang sempat dikomandoni oleh Jenderal Qassem Soleimani, yang gugur oleh serangan udara Amerika Serikat, 3 Januari 2020.

Dengan keberhasilan meluncurkan roket pembawa satelit "Safir Omid" dan sebuah maket satelit percobaan di orbit bumi, Iran menjadi negara regional pertama yang mandiri tanpa bantuan asing, baik dalam membuat satelit maupun dalam meluncurkan dan mengontrolnya. Semakin diserang dengan propaganda negatif dari berbagai arah, ulama-ulama, ilmuan-ilmuan, olahragawan, sampai seniman mereka seakan berlomba-lomba untuk menunjukkan prestasi dan menampakkan kecemerlangan Islam.

Lihat saja apa yang dilakukan ilmuan mereka, hampir dalam hitungan hari, ada yang mematenkan penemuan-penemuan baru mereka. Perkembangan sains di Iran dapat dilihat dari perkembangan publikasi ilmiah yang mereka hasilkan. Dalam penelitian 'string teory', kimia dan matematika, Iran merupakan nomor 15 di dunia, bersaing ketat dengan Amerika Serikat dan negara-negara eropa. Dalam artikel D. A. King yang dipublikasikan di Nature berjudul 'The scientific impact of nations' yang analisisnya menyatakan bahwa Iran merupakan satu-satunya negara Islam yang termasuk ke dalam negara memiliki 'The scientific impact of nations' tertinggi di dunia. Bahkan Jurnal Newscientist terbitan Kanada menyebutkan kemajuan ilmu pengetahuan di Negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan Negara-negara lainnya di dunia.  Daftar 100 orang jenius dunia yang masih hidup yang dikeluarkan oleh firma konsultan global Creators Synectics,  Ali Javan pakar teknik (penemu gas laser) dan Pardis Sabeti ahli biologi anthropologi yang keduanya berkebangsaan Iran termasuk di antaranya.

Jumlah pakar-pakar nuklir Iran yang tidak bisa diprediksi juga menjadi bagian dari kemajuan tekhnologi Iran. Dalam bidang militer, Iran dipercaya mampu memproduksi peralatan militer canggih secara mandiri yang siap digunakan berperang melawan musuh. Pangkalan militer terbesar AS di Irak, Ainul Asad sempat menjadi target dan sasaran dari serangan rudal Iran. Donald Trump yang sebelumnya sesumbar bahwa jika Iran melancarkan serangan militer pada titik strategis AS di Irak akan melakukan serangan balasan yang akan menghancurkan Iran, malah balik dan menyatakan mundur berkonfrontasi dengan Iran setelah merasakan kengerian serangan roket Iran.

Prestasi Perempuan Iran

Kaum perempuan Iran tidak ketinggalan dalam mengukir prestasi. Di Iran, 97 persen perempuan berpendidikan. Lebih dari 60 persen mahasiswa sekarang adalah perempuan. Majalah Forbes menyebutkan, 70% mahasiswa perempuan Iran di bidang sains dan tekhnik. Karenanya tidak heran, jumlah peneliti dan ilmuan perempuan Iran lebih banyak dari laki-lakinya. 4.000 perusahaan sains dan 30 persen diantaranya dipimpin oleh perempuan.

Dalam Festival Internasional Para Penemu Perempuan yang  pertama kali digelar di Korea Selatan tahun 2008, Republik Islam Iran ikut bersaing dalam ajang kompetisi tersebut dan berhasil menggondol 12 medali emas, lima perak dan enam perunggu.  Maryam Islami dari Iran menyandang gelar sebagai penemu perempuan terbaik tahun 2008, padahal saat itu Maryam Islami masih mahasiswa tingkat lima fakultas kedokteran. Matematikawan Iran Maryam Mirzakhani tercatat sebagai perempuan pertama dunia yang meraih Medali Fields, penghargaan tertinggi untuk ahli matematika dunia. Fields Medali diraihnya tahun 2014 atas kontribusinya yang berharga untuk dinamika dan geometri. Karir bergengsinya di bidang matematika diawalinya dengan meraih medali emas Olimpiade Matematika Internasional di Hongkong pada tahun 1994, dan di tahun berikutnya kembali meraih medali emas di Olimpiade Matematika Internasional di Kanada. Lebih dari itu, kita juga mengenal Shirin Ebadi muslimah pertama peraih Nobel juga berasal dari Iran.

Di bidang seni, seniman Iran 40%nya perempuan, termasuk aktris dan ada 25 sutradara perempuan yang diantaranya telah menyabet berbagai penghargaan nasional dan internasional. Iran memiliki 8000 penulis perempuan dengan karya tulis diberbagai bidang. Di bidang politik, ada 2 wakil presiden perempuan, 2 menteri perempuan, 4 gubernur perempuan, 7 wakil gubernur, 8 walikota, 19 bupati, 3574 anggota parlemen disemua tingkatan. Dalam hal ini, Iran masih lebih maju dari negara-negara Timur Tengah lainnya, yang masih ketat mempertahankan tradisi patriarki.

Di Bidang Sains, Iran Terdepan di Kawasan

Dalam bidang robotika, para peneliti Iran terutama dari Universitas Tehran telah berhasil mengembangkan robit humanoid yang diberi nama “Surena III”. Menurut Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE), pembuatan Surena di Iran menjadikannya salah satu dari lima negara di dunia dengan teknologi untuk membuat robot humanoid. Iran meluncurkan Surena I dan Surena II masing-masing pada 2008 dan 2010. Kemajuan tekhnologi robotika Iran membuat Iran satu-satunya negara Islam yang bersaing dengan Barat dalam memanfaatkan tenaga robot dalam dunia kesehatan terutama operasi bedah yang dapat dikerjakan oleh robot meskipun dokter ahli yang mengendalikannya berada di luar negeri. Baru-baru ini, Iran telah mengekspor dua unit robot bedah jarak jauh ke Indonesia.  

Dalam kunjungannya ke Iran, pertengahan September 2019, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nila Moeloek mengaku sangat terkesan dengan keunggulan Iran dalam bidang teknologi nano kefarmasian dan alkes. Ia menyebut bahwa Iran sejauh ini, telah berhasil memproduksi alat kesehatan yang bertekhnologi tinggi dengan biaya yang sangat rendah. Iran  juga berhasil memproduksi Liposomal Doxorubicin, obat kanker berteknologi nano dan menjadi negara kedua di dunia yang mampu memproduksi Liposomal Doxorubicin dengan teknologi nano. Liposomal Doxorubicin mampu mengobati berbagai jenis penyakit kanker. Tidak heran, dengan kemajuan tekhnologi ilmu kesehatan yang dia punya, medis Iran disebut telah berhasil menemukan obat untuk mengatasi virus HIV dan menyembuhkan penderita AIDS. Terkait dengan penanganan pandemi Covid-19, Iran mensejajarkan dirinya dengan sedikit negara produsen vaksin Covid-19. Ilmuan dan peneliti Iran yang rata-rata masih muda telah memproduksi vaksin COV-Iran Barakat dengan tingkat keefektifan hampir 100% dalam menangkal virus Corona. 

Di bidang rekayasa kesehatan, hal menonjol lainnya dari Iran adalah teknologi stemcell, kloning dan jantung buatan yang sudah sangat dikenal di dunia. Bahkan untuk stemcell Iran masuk 10 besar dunia. Baru-baru ini, tulisan viral Dahlan Iskan mengisahkan pasien Indonesia pertama yang berhasil melakukan operasi transplantasi hati di Iran.

Pada bidang seni kaligrafi, kaligrafer Iran Roin Abar Khanzadeh berhasil membuat Al-Qur'an terkecil yang memecahkan rekor dunia. Yang menarik Al Quran terkecil ini ditulis dengan mata telanjang oleh penulisnya dan bila dijejer hanya menempati ukuran kertas A3. Saat ini sudah ada 1000 pusat lembaga kegiatan berbasis Al Quran di seantero kota Iran yang sedang aktif dan ada seribu perpustakan dan Bank CD Qurani di pusat-pusat kegiatan AlQur'an di Iran. Telah berkali-kali Iran menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pameran Al-Qur'an Internasional. Bahkan Iran, telah memiliki agenda tahunan, menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Alquran bertaraf Internasional  yang pada tahun 2019 telah terselenggara untuk ke-36 kalinya dengan kehadiran delegasi dari 84 negara. Di ajang yang ke-36 tersebut, delegasi Indonesia Salman Amrillah dari Provinsi Jawa Barat, meraih juara pertama kategori tilawah dewasa pria. Dengan tingkat apresiasi yang tinggi terhadap Al-Qur'an wajar jika Iran menghasilkan banyak Mufassir terkemuka dalam dunia Islam, diantaranya Allamah Mohammad Husain Thabatabai, penulis tafsir Al Mizan.

Dalam dunia perbukuan dan penerbitan, dibanding negara-negara Islam lainnya, Republik Islam Iran bisa ditetapkan sebagai yang terdepan. Pameran Buku Internasional Teheran merupakan program pemerintah Iran setiap tahunnya yang mendapat posisi istimewa dalam kalender para penerbit internasional. Berdasarkan data yang dirilis, Pameran Buku Internasional Tehran adalah pameran buku terbesar dunia Islam dan menjadi fenomena budaya terbesar negara-negara di Timur Tengah. 

Dalam dunia pendidikan, Iran juga menjadi salah satu alternatif terbaik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Disebutkan, oleh Presiden ISC (President of Islamic World Science Citation Center) Dr. Mohammad Javad Dehghani, bahwa berdasarkan sistem peringkat ISC tahun 2018, 23 universitas di Republik Islam Iran masuk ke dalam 938 universitas teratas dunia. Sebelumnya, 13 universitas Iran juga telah dinobatkan sebagai daftar Times Higher Education World University Rankings 2016-2017. Universitas Sains dan Teknologi Iran memegang tempat teratas. Untuk pertama kalinya Universitas Shiraz, Universitas Ferdowsi, Universitas Azad Islam cabang Karaj, Universitas Yazd dan Universitas Zanjan disebutkan dalam daftar Times Higher Education World University Rankings 2016-2017.

Oleh karena itu, berdasarkan jumlah universitas ternama, Iran telah naik dari urutan ke-23 menjadi ke-17 di dunia.  Hasil-hasil karya dan apresiasi bangsa Iran menunjukkan minat mereka yang demikian tinggi terhadap ilmu pengetahuan, wajar jika kemudian Iran termasuk dalam deretan negara-negara maju. Inilah yang membuat Amerika Serikat gentar dan khawatir, lewat propaganda-propaganda negatif, melalui tekanan dan embargo ekonomi, mereka berusaha menghambat pertumbuhan dan kemajuan Iran. Keberhasilan Iran mensinergikan Islam dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi membuat ulama besar Universitas al Azhar Mesir, Syaikh Thantawi menyatakan, "Kemajuan ilmiah yang telah dicapai Republik Islam Iran merupakan kemajuan dunia Islam dan kebanggaan bagi seluruh umat muslim."

Dirgahayu kemenangan Revolusi Islam Iran ke-43

Ismail Amin

Mahasiswa S3 Universitas Internasional Almustafa Iran

(Tulisan ini pernah dimuat sebelumnya di Majalah Syiar Edisi I: Tahun ke-21/Januari-Februari 2022)


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*