Dunia Muslimah:

Mengenal Walikota Perempuan di Iran dari yang Pertama sampai yang Termuda

Mengenal Walikota Perempuan di Iran dari yang Pertama sampai yang Termuda

Iran sebagai republik Islam tidak menutup ruang bagi kaum perempuan yang berprestasi untuk menunjukkan perannya di ruang ruang publik, termasuk memegang jabatan tertinggi di pemerintahan kota.

Menurut Kantor Berita ABNA, kalau di Indonesia kita mengenal Gubernur Bantern [2007-2014] Ratu Atut Chosiyah sebagai gubernur perempuan pertama dan Salawati Daud walikota Makassar [1949] sebagai walikota perempuan pertama di Indonesia, di Iran dikenal Zahra Sadr A’dzham Nuri sebagai walikota perempuan pertama di Republik Islam Iran.

Ia menjabat Walikota Tehran wil. VII pada tahun 1995 diusia  34 tahun dimasa pemerintahan Presiden Ali Akbar Hasyim Rafsanjani. Ia adalah doktor dalam manajemen lingkungan. Pasca menjalani jabatannya sebagai walikota ia kemudian menjadi kepala dinas lingkungan hidup dan menjadi anggota dewan majelis. Saat ini menjadi anggota dewan penasehat Presiden Dr. Hasan Rouhani dalam bidang manajemen lingkungan hidup dan tata kota.

Selain Zahra Sadr A’dzham Nuri, terdapat sejumlah walikota perempuan lainnya di beberapa kota Iran, walaupun sampai saat ini, tidak ada lagi dari kaum perempuan Iran yang menjabat sebagai walikota Tehran. Pada tahun 2003 di kota Saweh terpilih Mehri Rustai Girayalu sebagai walikota di kota tersebeut. Ia menjabat posisi prestisius tersebut sampai tahun 2005.

Ilhah Mawali Zadeh perempuan Iran lainnya yang menduduki jabatan walikota. Ia menjabat walikota Ahvaz wil. II pada tahun 2007. Ia lulusan jurusan ekonomi dan ilmu sosial di Universitas Chamran. Mutsiqan Nuri pada tahun 2003 terpilh sebagai walikota di Amlash di Provinsi Ghilan dalam usia 34 tahun. Ia adalah sarjana matematika dan pasca menunaikan amanah sebagai walikota ia menjadi ketua DPRD kota Amlash. Saat ini ia aktif menjadi tenaga pengajar di universitas di kotanya.

Kota Masyhad juga tidak ketinggalan. Kota tempat dimakamkan Imam Ridha As ini mempersembahkan Shararah Ma’daniyan sebagai walikota Masyhad wil. VI pada tahun 2005. Di kota Tabriz, Syaiftah Badar Adzar usia 43 tahun menjadi walikota Tabriz wil. VII pada tahun 2009.

Walikota perempuan lainnya di Iran adalah Maryam Pakezad. Ia menjadi walikota Laulaman di provinsi Ghilan dalam usia 32 tahun pada tahun 2012. Ia lulusan S2 Universitas Ghilan jurusan IT. Sampai saat ini ia masih memegang jabatan sebagai walikota. Ia sempat memegang rekor sebagai walikota termuda di Iran, yang menduduki jabatan tersebut di usia 32 tahun, sampai kemudian dipecahkan oleh walikota lainnya yang juga dari seorang perempuan bernama Samiyah Bluchzahi.

Ia terpilih sebagai walikota Kalat [ibu kota Sarbaz] di Provinsi Sistan-Bluchistan dalam usia 26 tahun. Menariknya ia warga Iran bermazhab Ahlus Sunnah dan mengantongi titel Master dalam bidang manajemen Industri yang diraihnya di Universitas Ulum wa Tahqiqat Tehran.Namun rekor inipun berhasil dipecahkan oleh Syakufah Syahabih Pur, yang menjabat walikota Sargez Ahmadi di provinsi Harmezghan dalam usia 23 tahun. Saat menjabat ia masih tercatat sebagai mahasiswa S2 jurusan arsitektur di Universitas Bandar Abbas. Dua orang walikota yang terakhir ini, selain tercatat sebagai yang termuda, keduanya juga walikota di Iran yang belum menikah saat menduduki jabatan tersebut.  

Fakta-fakta ini menunjukkan, perempuan-perempuan muda Iran tidak kalah bersaing dari kaum prianya, termasuk dalam menduduki jabatan prestisius di pemerintahan kota.

Berikut foto-foto aktivitas Samiyah Bluchzahi, sebagai walikota Kalat di Provinsi Sistan-Bluchistan yang bermazhab Sunni dan menjabat di usia 26 tahun sejak tahun 2012. 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

پیام رهبر انقلاب به مسلمانان جهان به مناسبت حج 1441 / 2020
We are All Zakzaky
conference-abu-talib
Tidak untuk Perjanjian Abad ini