Tafsir Hamdalah

Tafsir Hamdalah

Adapun sebaik-baiknya cara untuk mengenal Allah SWT adalah senantiasa mempelajari rahasia-rahasia penciptaan. Khususnya terkait nikmat yang ada di kehidupan manusia.

Alam ini diliputi oleh rahmat Allah SWT. Setelah basmalah, salah satu dari kewajiban seorang hamba adalah senantiasa memuji pemberi rahmat terhadap alam semesta ini dengan menghadirkan nikmat-nikmat yang tidak terbatas. NikmatNya yang meliputi segala sesuatu. Nikmat memberikan hidayah kepada kita untuk mengenal Sang Pemberi Nikmat.

Nikmat juga yang mendorong dan memotivasi kita untuk menuju jalan penghambaan. Mengapa nikmat yang menggerakkan kita menuju jalan penghambaan? Jawabannya adalah karena sudah menjadi fitrah manusia untuk senantiasa mencari pemberi nikmat. Seperti halnya ketika kita menerima kiriman, kita akan mencari siapa pengirimnya. Begitupula fitrah manusia senantiasa tergerak untuk berterima kasih kepada si pemberi nikmat atas nikmatnya.

Beberapa ulama menyinggung masalah ini dalam pembahasan ilmu kalam dan teologi. Mereka menjelaskan tentang kewajiban untuk berterima kasih kepada pemberi nikmat. Kenapa dijadikan sebagai dalil, karena ini masalah yang sifatnya fitri dan mendorong manusia untuk mengenal Allah SWT. Fitrah terdapat dalam diri manusia tanpa terkecuali. Ada yang mengatakan bahwa fitrah adalah tingkatan akal yang terendah. Sehingga dengan fitrahnya, manusia akan berupaya mengenal penciptanya. Dan dengan nikmat penciptaan itu, fitrah akan mengarahkannya kepadamakrifatullah.

Adapun sebaik-baiknya cara untuk mengenal Allah SWT adalah senantiasa mempelajari rahasia-rahasia penciptaan. Khususnya terkait nikmat yang ada di kehidupan manusia. Oleh karena itu, ayat “Alhamdulillahi rabbilalamin” pada QS. Al-fatihah merupakan pujian bagi Allah SWT atas segala nikmatNya. Menurut Syirazi dalam kitabnya Al-Amtsal, paling tidak ada tiga kata yang sama-sama memiliki makna pujian, yaitu al-hamd (pujian), al-madh (sanjungan) dan al-syukr(terima kasih).

Al-hamd (pujian) adalah memuji atas suatu perbuatan atau sifat baik yang dikerjakan dengan pilihan (ikhtiyar) dan bukan paksaan. Ketika seseorang secara sadar melakukan amal baik, maka kita akan memuji kebaikannya.

Al-madh (sanjungan) juga berarti pujian, tetapi untuk sifat-sifat yang umum. Apakah dalam urusan ada ikhtiyar atau tidak ada ikhtiyar. Datangnya dari manusia atau tidak. Seperti ketika kita memuji batu akik/permata kita menggunakan al-madhu. Jadi pemahaman al-madhu sifatnya umum, sementara al-hamd sifatnya khusus.

Al-syukr (berterima kasih) adalah memuji karena kebaikan yang khusus kepada kita. Ini hanya sebatas pujian atas nikmat yang diberikan si subjek, seperti saya bersyukur atas nikmat yang diberikan secara pribadi.

Pembahasan mengenai al-hamd ini adalah pembahasan nahwuAlif dan lam pada al-hamd, bukanlah untuk memperindah, tetapi menentukan makna seperti pada kata rajulual-rajulbaitundan al-baituAlif di sini meliputi seluruh jenis yang ada. Dari alif ini kita mengetahui bahwa segala pujian hanya khusus untuk Allah SWT. Misalnya, ada yg memberikan sesuatu kepada kita dan karena itu kita akan mengatakan al-hamdu, segala puji kepada Allah SWT.

Pujian yang secara sadar kita ucapkan kepada sesuatu atau seseorang, pada hakikatnya berasal dari Allah SWT dan karena itu juga berakhir kepada Allah SWT. Mengapa demikian? Karena pemberiannya para pemberi, ilmunya para guru dan pengetahuan para dokter dalam pengobatannya, pada dasarnya berasal dari Allah SWT. Dengan kata lain, memuji mereka sebenarnya adalah pujian kepada Allah SWT.

Pujian kepada mereka adalah pujian kepada Allah Swt. Begitupula matahari ketika sinarnya tercurah, awan dengan hujannya dan tanah dengan berkah yang diberikannya, semuanya berasal dari Allah SWT. Oleh karena itu, segala pujian hanya bagi Allah SWT. Senantiasa mengabdi dengan tidak menyekutukanNya merupakan cara berterima kasih yang paling utama kepada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikanNya. Wallahu’alam. 


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

We are All Zakzaky
conference-abu-talib
Tidak untuk Perjanjian Abad ini