Prof. DR. H. Hamka Haq, MA:

Syiah Indonesia, Harus Banyak Belajar dari Iran

Syiah Indonesia, Harus Banyak Belajar dari Iran

Saya hanya mau menekankan kepada komunitas Syiah di Indonesia. Belajarlah yang baik tentang Syiah dari Iran. Syiah yang produktif dan memberikan sumbangsih besar dalam membangun negaranya. Bukan Syiah yang sibuk memanas-manasi umat Sunni dengan isu-isu perbedaan dan melukai hati mereka.

Menurut Kantor Berita ABNA, Konferensi Internasional Gerakan Ekstimisme dan Takfiri dalam Pandangan Ulama Islam yang berlangsung di kota Qom, Republik Islam Iran selama dua hari ahad-senin [ 23-24/11] yang dihadiri 350 ulama dari 80 negara  juga diikuti oleh sejumlah ulama dan guru besar dari Indonesia. Prof. DR. H. Hamka Haq, MA, anggota MUI Pusat dan Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia termasuk diantara delegasi Indonesia yang hadir. Doktor terbaik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut ditemui reporter ABNA disela-sela agenda konferensi yang padat.

Berikut hasil wawancara dengan ulama, politisi dan penulis buku Al-Syathibi tersebut:

Bagaimana tanggapan Bapak terhadap Iran dengan kehadiran Bapak langsung di Negara ini?

Ini yang pertama kalinya saya berada di Iran. Awalnya saya menduga Iran sedang dalam kondisi terpuruk dengan adanya embargo ekonomi bahkan pengucilan oleh banyak Negara. Ternyata Iran bukan hanya bertahan, bahkan saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa majunya negeri ini, bahkan mungkin lebih maju dari banyak Negara Islam lainnya. Iran juga disegani oleh negara-negara Barat karena kemandiriannya. Bahkan Iran adalah satu-satunya Negara yang tidak bisa dipengaruhi oleh kekuatan asing. Tentu saja ini prestasi yang sangat membanggakan, dan memberikan citra positif pada Islam di dunia internasional.  

Tanggapan Bapak tentang Iran dengan mayoritas penduduknya bermazhab Syiah?

Saya mengira Iran memiliki pandangan yang negatif terhadap Sunni, ternyata tidak. Justru pandangan mereka sangat positif terhadap Sunni dan sangat menghargai simbol-simbol Sunni. Ini yang harus dipelajari dan diteladani oleh mereka yang mengaku Syiah di Indonesia. Tidak sedikit dari Syiah di Indonesia yang suka mengeluarkan statement yang dapat melukai perasaan umat Sunni. Inilah diantara pemicu konflik itu. Sementara di Iran tidak lah demikian. Saya melihat sendiri, antara ulama Sunni dan ulama Syiah mereka terjadi harmoni dan membangun kebersamaan yang luar biasa tanpa memandang perbedaan mazhab. Inilah diantar hikmah yang saya dapat dengan berada disini. Bahwa untuk menjadi Syiah tidak harus memusuhi Sunni dan begitupula sebaliknya. Sebab kita berasal dari umat yang satu.

Sunni dan Syiah hakekatnya sama-sama umat Nabi Muhammad Saw, namun karena factor historis dan percaturan politik, akhirnya terdapat sejumlah perbedaan. Namun perbedaan itu bukan dalam masalah teologi dan ibadah. Sebab rujukan kedua mazhab ini tetap sama, yaitu al-Qur’an dan as Sunnah. Percaturan politik di era-era awal Islam memang sempat terjadi kemelut, sehingga kemudian terbentuk firkah yang menamakan diri mereka Syiah Ali yang kemudian sekarang cukup disebut dengan Syiah saja. Namun tugas generasi kita sekarang tidaklah harus mempertentangkan itu. Biarlah itu menjadi masa silam yang kita pelajari. Tugas kita sekarang, adalah membangun kebersamaan dan mewujudkan persatuan Islam.

Jadi memang tidak ada yang berubah dari pandangan Bapak mengenai Syiah, sejak sebelum dan setelah kedatangan Bapak di Iran ini?

Sejak awal saya memang meyakini, Syiah tetaplah bagian dari kaum muslimin. Kedatangan saya ke Iran sekedar untuk lebih memantapkan keyakinan saya mengenai hal tersebut, Dan memang Syiah yang sebenarnya itu adalah apa yang dipertontonkan oleh ulama-ulama dan masyarakat Iran. Mereka yang mengaku Syiah di Indonesia tapi dengan ringannya mencerca para sahabat dan konsep-konsep yang telah baku dalam mazhab Sunni telah mencoreng dan menjadikan citra Syiah menjadi buruk. Inilah yang dimanfaatkan kelompok takfiri dan musuh-musuh Islam untuk menyulut perpecahan dan menciptakan konflik di tengah-tengah masyarakat.

Menurut Bapak, mereka yang sampai saat ini tetap menghembuskan isu-isu perbedaan Sunni-Syiah harus dipertentangkan dan Syiah bukanlah bagian dari Islam apa? Dan siapa dalang dibalik itu?

Saya tidak tahu tujuan mereka sebenarnya apa dan juga tidak tahu siapa yang mensponsorinya, tapi setidaknya aktivitas semacam itu tidak produktif dan tidak ada manfaatnya. Pihak musuh yang justru mengambil keuntungan dari aktivitas semacam itu dan hanya menodai citra Islam.

Apa pesan bapak bagi umat Islam di Indonesia khususnya dalam membangun hubungan yang harmonis antara Sunni dan Syiah?

Saya hanya mau menekankan kepada komunitas Syiah di Indonesia. Belajarlah yang baik tentang Syiah dari Iran. Syiah yang produktif dan memberikan sumbangsih besar dalam membangun negaranya. Bukan Syiah yang sibuk memanas-manasi umat Sunni dengan isu-isu perbedaan dan melukai hati mereka.

Terimakasih atas waktu bapak.

Sama-sama.


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Quds cartoon 2018
We are All Zakzaky