Mengenang Kepribadian Sayyidah Fatimah az Zahra

Peran al-Quran di Kehidupan Sayidah Fatimah as

  • News Code : 311108
  • Source : IRIB Indonesia
Keutamaan Fatimah as bukan karena ia putri Rasulullah Saw saja. Keutamaan putri Nabi ini karena derajat keimanan tinggi dan akhlak mulianya. Ajaran suci al-Qur'an dan bimbingan Rasulullah berperan besar dalam proses pembentukan karakter dan jiwa Fatimah.
Tiga Jumadil Tsani tahun 11 Hijriah, lebih dari 90 hari pasca wafatnya Rasulullah Saw adalah hari-hari yang penuh kesedihan dan kepahitan bagi Fatimah, putri Nabi. Kesedihan akibat ditinggal pergi ayahnya dari satu sisi dan kesengsaraan akibat ulah sekelompok orang saat itu membuat putri Nabi ini sangat menderita hingga jatuh sakit. Detik-detik akhir usia Fatimah as kian dekat, hanya satu hal yang menghiburnya dan itu adalah pesan Rasulullah Saw ketika mendekati kematian beliau kepada Fatimah. Rasul kepada putrinya bersabda,"Putriku setelah kepergianku, kamu adalah orang pertama dari keluargaku yang menyusulku." Detik-detik menjelang kepergian Fatimah merupakan saat yang paling menyedihkan dan berat bagi Imam Ali as serta anak-anaknya. Kesedihan memenuhi rongga tenggorokan Ali as. Sebentar lagi ia akan kehilangan istri tercinta, seorang wanita yang hidupnya dipenuhi oleh keimanan, kesabaran dan ilmu. Ali akan segera berpisah dengan istrinya, seorang istri yang mampu menghibur penderitaannya selama mereka menjalani kehidupan suami-istri. Ketika Ali sedih maka kesedihan ini akan segera sirna dengan memandang wajah Fatimah as. Kini dengan teliti, Ali mengikuti setiap pandangan Fatimah yang akan segera berpisah darinya. Ali memahami bahwa selanjutnya ia tidak akan pernah lagi dapat memandang wajah putri Rasulullah ini untuk mengobati hatinya. Tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh suara Fatimah as. Putri Rasulullah Saw ini berkata,"Wahai Ali ! Ketahuilah sebentar lagi aku akan meninggalkan kalian. Saat bepisah sebental lagi tiba. Dengarkan perkataanku ini ! Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Swt dan Muhamad adalah utusanNya. Surga dan neraka adalah suatu kebenaran. Hari Kiamat pasti tiba. Aku berwasiat kepadamu, setelah aku meninggal, mandikan aku dan kuburkanlah diriku di waktu malam serta jangan beritahu kepada orang lain. Kemudian duduklah di dekap kepalaku dan menghadaplah ke wajahku sambil membaca al-Qur'an serta berdoalah bagi diriku. Aku serahkan dirimu kepada Allah Swt dan kepada anak-anakku aku mendoakan mereka hingga hari kiamat." Keutamaan Fatimah as bukan karena ia putri Rasulullah Saw saja. Keutamaan putri Nabi ini karena derajat keimanan tinggi dan akhlak mulianya. Ajaran suci al-Qur'an dan bimbingan Rasulullah berperan besar dalam proses pembentukan karakter dan jiwa Fatimah. Sebelum kami membahas peran signifikan ini, terlebih dahulu kami ingatkan bahwa sejumlah ayat al-Qur'an diturunkan berkenaan dengan wanita suci ini dan keluarganya. Di antaranya adalah Surat al-Kautsar yang diturunkan kepada Rasulullah ketika kelahiran Fatimah as. Allah Swt menyebut kelahiran wanita suci ini sebagai kebaikan besar bagi Rasulullah. Allah Swt di ayat 33 surat al-Ahzab mengingatkan kesucian keluarga Nabi ini dan berfirman, "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." Diriwayatkan bahwa setelah Rasul menerima ayat ini, setiap beliau hendak menunaikan shalat dan pergi ke masjid, beliau senantisa mampir ke rumah Ali dan Fatimah serta mengetuk pintunya seraya berkata,"Wahai Ahlul Bait sudah saatnya shalat." Kemudian beliau membaca ayat ke 33 surat al-Ahzab tersebut. Kedekatan dengan al-Qur'an merupakan salah satu keistimewaan Sayidah Fatimah as. Fatimah mendapat limpahan anugerah ilmu dan pengetahuan al-Qur'an yang tak terbatas. Jiwa dan ruhnya manifestasi dari ilmu-ilmu al-Qur'an. Saat menyampaikan pidato pertamanya di masjid pasca wafatnya Rasulullah, Fatimah mengingatkan poin ini bahwa al-Qur'an adalah peninggalan Nabi serta janji antara manusia dan Allah Swt. Ia berkata,"Allah Swt telah mengikat janji di antara kalian sejak lama dan merupakan peninggalan berharga untuk kalian." Sayidah Fatimah dengan ungkapan lain kepada umat Islam saat ini meningatkam bahwa al-Qur'an tidak mengandung kebatilan dan menyalahi hakikat. Cahaya al-Qur'an meliputi segala sesuatu serta memberikan cahaya kepada yang lain. Hujah dan argumentasi kitab suci ini dapat dimanfaatkan oleh semua orang dan setiap manusia meraih pengetahuan serta hidayah dari al-Qur'an sesuai dengan kapasitas mereka. Terkait keagungan al-Qur'an, Sayidah Fatimah berkata,"Kitab suci al-Qur'an sangat agung, jika seseorang benar-benar mengikuti kitab suci ini dan mengamalkan setiap ajarannya maka ia akan sampai pada derajat tinggi kesempurnaan sehingga orang lain akan merasa iri." Di perkataan lainnya, Sayidah Fatimah menyebut al-Qur'an sebagai sumber dari ilmu dan hukum Ilahi. Dalam pandangan beliau, membaca al-Qur'an ditujukan untuk memahami ajarannya dan mengamalkannya. Beliau berkata,"Jika seorang muslim benar-benar mengikuti al-Qur'an maka ia akan sangat berbahagia serta dituntun menuju jalan keselamatan." Oleh karena itulah, Sayidah Fatimah pasca wafatnya Rasulullah mengingatkan umat Islam soal peran utama al-Qur'an untuk menghindari perselisihan di antara mereka. Sayidah Fatimah berkata," Mengapa kalian menuju kesesatan, sedangkan di antara kalian terdapat al-Qur'an ? Ajaran al-Qur'an sangat jelas dan hukum-hukumnya pun kokoh. Tanda-tanda hidayah al-Qur'an trasnparan dan peringatannya pun jelas. Apakah kalian condong kepada al-Qur'an, atau apakah kalian mencari penengah selain kitab suci ini ? Sayidah Fatimah selain mengagungkan al-Qur'an dalam setiap ucapannya, juga beliau merupakan manifestasi dari ajaran tinggi kitab suci ini. Sejak masih kanak-kanak, Sayidah Fatimah sudah terbiasa dengan al-Qur'an karena beliau tumbuh besar di rumah wahyu. Kedekatan beliau dengan al-Qur'an terlihat jelas dari wasiat yang ditinggalkannya kepada Imam Ali as yang memintanya untuk membaca al-Qur'an bagi dirinya menjelang kematian hingga setelahnya. Tak hanya untuk dirinya, Sayidah Fatimah juga membesarkan anak-anaknya dalam lindungan al-Qur'an. Salman al-Farisi meriwayatkan, suatu hari Rasulullah Saw mengirimku ke rumah Fatimah untuk suatu keperluan. Ketika sampai di rumah Fatimah, aku meminta izin untuk masuk. Saat itu aku saksikan Fatimah tengah menggiling gandum sambil melantunkan ayat-ayat suci al-Qur'an. Di riwayat lain disebutkan, suatu hari Imam Ali as tiba di rumah dan mendengar Fatimah tengah melantunkan ayat yang baru saja diturunkan kepada Rasulullah. Ali dengan heran bertanya, bagaimana kamu mengetahui ayat ini ? Fatimah menjawab, anakku Hasan yang membacakan bagiku ayat yang baru turun kepada ayahku ini. Sayidah Fatimah selain kepada keluarganya, juga mengajarkan pembantu beliau, Fidhah untuk senantiasa dekat dengan al-Qur'an. Kedekatan ini dapat disaksikan dengan sikap Fidhah yang kemudian tidak berkata-kata kecuali dengan menggunakan ayat al-Qur'an. Ucapan yang mudah dan berpengaruh Sayidah Fatimah dalam menjelaskan akidah dan akhlak mulia merupakan harta karun yang dihiasi dengan ayat-ayat al-Qur'an. Sayidah Fatimah bukan saja menjelaskan keutamaan al-Qur'an dengan lisan dan ucapan, namun berdasarkan praktek di tengah masyarakat terhadap hakikat al-Qur'an. Pandangan Fatimah soal isu sosial dan politik saat itu bersumber dari ajaran suci al-Qur'an yang menyeru untuk memerangi kezaliman dan kefasadan serta diskriminasi. Sayidah Fatimah dengan baik menunjukkan nilai-nilai akhlak dan spiritual di setiap nasehat, perkataan dan sikapnya. Beliau memahami bahwa kebahagian kehidupan akan kekal jika bersumber dari ajaran yang kekal pula serta menghindari untuk bersandar pada hal-hal yang fana. Ini adalah hakikat yang diajarkan ayat suci al-Qur'an. Di surat al-A'la disebutkan, berbahagialah bagi mereka yang mensucikan dirinya. Ideologi al-Qur'an ini membuat Sayidah Fatimah memahami bahwa kebahaian sejati hanya akan diperoleh dengan mengamalkan ajaran Ilahi dan mengimani penuh ajaran ini. Oleh karena itu, kita saksikan bahwa Sayidah Fatimah tidak pernah keagungan beliau digantungkan pada hal-hal yang fana. Putri Rasulullah ini menggapai hal yang terbaik dari sisi Allah swt. Pandangan beliau ini bersumber dari al-Qur'an. Di surat al-Kahfi ayat 46 Allah Swt berfirman," Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." Hal inilah yang mendorong beliau menghabiskan usinya dengan penghambaan penuh kepada Allah Swt. Dari penghambaan ini belaiu mengecap kelezatan spiritual.

Download FILES


8th Conference of Imamia Medics Intrnational
کنگره جریان‏های تکفیری