Wawancara:

Mendidik Anak untuk Menjadi Hamba Allah, bukan Budak Orangtua

  • News Code : 868364
  • Source : ABNA
Brief

Kelalaian orang tua baik ayah atau ibu dalam mendidik anak yang tanpa disertai upaya maksimal dalam memperkenalkan Allah swt, kelak akan dipertanggungjawabkan.

Ketika memperhatikan sebuah wujud keberadaan di muka bumi, termasuk diri sendiri, maka kita sampai pada kesimpulan bahwa kita semua adalah makhluk dan hamba Allah swt. Dengan keyakinan diri sebagai hamba maka paradigma dan pandangan dunia kita akan berubah, termasuk tindakan dan perbuatan kita. Maka apapun yang dilakukan selama di dunia, kelak harus dipertanggungjawabkan dihadapan Sang Pengadil yang memiliki Mahkamah Agung di akhirat, yang memberikan keputusan seadil-adilnya. Pengenalan pada Allah swt dan nilai-nilai tauhid akan memberikan dampak yang luar biasa pada kehidupan seseorang. Karena itu dalam mendidik anak, yang juga merupakan makhluk Allah swt, perlu memiliki kandungan tauhid dan upaya pengenalan kepada Allah swt sejak dini. 

Kelalaian orang tua baik ayah atau ibu dalam mendidik anak yang tanpa disertai upaya maksimal dalam memperkenalkan Allah swt, kelak akan dipertanggungjawabkan. 

Demikian pentingnya pengenalan tauhid pada anak, redaksi ABNA melakukan wawancara dengan Sa'id Amani, seorang pakar dalam bidang pendidikan anak dan juga salah seorang pengajar di Hauzah Ilmiah Qom Iran.

Berikut petikan wawancaranya:

Dalam pandangan takwini, bagaimana hubungan antara orangtua dan anak, bagaimana anda menjelaskannya?

Dalam berhadapan dengan anak yang ibarat bunga yang diberikan Allah yang Maha Penyayang kepada kita, yang pertama perlu kita pahami, bahwa anak itu bukan hamba kita, melainkan hamba Allah yang kedudukannya sama dengan kita sebagai orangtuanya. Dengan memahami kedudukan anak itu sama dengan orangtuanya sebagai sama-sama makhluk dan hamba Allah maka, kita akan menyadari bahwa anak punya hak yang harus dihargai dan dipenuhi. 

Apa pentingnya menghargai dan memenuhi hak-hak anak khususnya menyangkut masalah pendidikan?

Karena kita mengetahui bahwa anak adalah hambanya Allah maka dengan demikian, kita tidak akan demikian mudah memukul, memarahi, menghardik, mencela, menyakiti ataupun membuat hatinya terluka. Mayoritas orangtua berpendapat anak adalah miliknya, sehingga merasa berhak memperlakukan anak sesukanya, sebagaimana benda-benda miliknya ia perlakukan. Kita harus membuang jauh-jauh paradigma tersebut. Anak adalah amanah dari Allah swt, yang diserahkan kepada kita untuk dijaga dan dididik. Sebagai amanah, maka anak harus dididik untuk menjadi hamba Allah, dididik untuk taat sepenuhnya kepada Allah, bukan mendidiknya untuk dijadikan orang yang menuruti apapun keinginan orangtua meskipun itu bertentangan dengan keinginan dan titah Ilahi. 

Misalnya, ketika Allah swt mengatakan "Anakmu itu membutuhkan pasangan, maka nikahkanlah dan mudahkan urusan pernikahannya." Sebagai orangtua kita harus menaati perintah itu, bukan memaksakan kehendak pada anak dengan menentukan jodohnya harus dengan apa yang kita ingini sebagai orangtua meskipun anak tidak menyukainya. 

Imam Ali as berkata, "Kalian diciptakan untuk yang abadi bukan untuk yang sementara" (Ghurar al-Hukm, hlm. 133). Alam ini adalah alam yang fana, alam yang sementara. Dalam mendidik anak, anak harus dipersiapkan untuk hidup dialam yang kekal dan abadi. Bukan dididik hanya untuk hidup di dunia yang sementara ini. Disini kita hanya hanya hidup 40 atau 50 tahun dan sangat terbatas, sebab bukan alam kita yang sebenarnya. Dalam dunia parenting yang pertama kali diperkenalkan kepada anak adalah Tuhan dan nilai-nilai ketauhidan. Agar membekas dan mempengaruhi kehidupannya di masa depan. 

Apa bedanya malik (pemilik) dengan walid orangtua?

Walid dan malik sangat berbeda. Walid adalah pihak yang melahirkan, sementara malik adalah yang memilikinya. Bagaimana harus bertindak pada anak, apa yang harus dilakukan, bagaimana berinteraksi, bagaimana mendidiknya, sepenuhnya menjadi hak si pemilik. Kebanyakan yang terjadi, orangtua dalam mendidik anaknya, sesuai dengan keinginan orangtua tersebut, tanpa dibarengi penanaman nilai-nilai ketauhidan ataupun dalam jumlah yang sangat minimal. Orangtua lebih memilih untuk membentuk anak untuk menjadi apa yang dia inginkan, termasuk dalam hal pilihan-pilihan masa depannya, seperti cita-cita dan pernikahan.  

Apakah itu yang menjadi penyebab kebayakan anak-anak mendapatkan masalah dikemudian hari ketika sudah beranjak dewasa?

Penyebabnya adalah kekurangmampuan untuk berkomunikasi dengan baik. Komunikasi bukan masalah yang sederhana. Imam Ali as pernah menyampaikan, berbicaralah sampai engkau mengenalnya. Jika engkau menghendaki anakmu menyampaikan rahasia yang disembunyikannya, yang pertama harus kau lakukan adalah memberikan rasa aman pada anak. Sehingga anak dengan mudah dan nyaman menyampaikan yang disembunyikannya. Yang terjadi dalam kebanyakan keluarga, anak lebih mudah mencurahkan isi hatinya pada temannya dibanding pada orangtuanya, padahal semestinya, orangtua seharusnya menjadi pihak yang paling dekat dan paling memahami anak. 

Orangtua harus membentuk suasana dan kondisi yang nyaman untuk anak agar mudah berkomunikasi kepada orangtuanya. Baik mengenai hal-hal yang disukai maupun yang tidak disukai. Demikian pula, orangtua dalam menyampaikan apa yang diingininya dari sang anak, harus disampaikan dengan bijak dan mengetahui kondisi sang anak. Tidak memaksakan sesuatu, yang anak belum bisa menangkap dan memahaminya secara sempurna. Misalnya, ketika memerintahkan untuk salat. Anak lebih dulu harus dipahamkan mengapa harus salat dan apa tujuannya. Sehingga anak ketika salat bukan karena takut pada orangtua namun menyadari sepenuhnya itu telah menjadi bagian dari kewajibannya. 


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Pesan Haji 2017 Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei
پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram