Wawancara:

Iran di Mata Kepala Duta Besar Indonesia untuk Iran

 Iran di Mata Kepala Duta Besar Indonesia untuk Iran

Iran dan Indonesia sebagai dua negara berpenduduk Muslim memiliki banyak kesamaan budaya, dan selama ini menjalin kerja sama yang sangat erat. Selain terjadi peningkatan hubungan politik yang signifikan, masalah ekonomi dan budaya menjadi isu bersama yang terus didorong untuk ditingkatkan oleh Tehran dan Jakarta.

Iran dan Indonesia sebagai dua negara berpenduduk Muslim memiliki banyak kesamaan budaya, dan selama ini menjalin kerja sama yang sangat erat. Selain terjadi peningkatan hubungan politik yang signifikan, masalah ekonomi dan budaya menjadi isu bersama yang terus didorong untuk ditingkatkan oleh Tehran dan Jakarta.

Masalah ekonomi menjadi sorotan penting kedua negara terutama pasca tercapainya kesepakatan nuklir antara Iran dan kelompok 5+1. Bagaimana masalah ini dilihat oleh Duta Besar Republik Indonesia di Tehran, Octavino Alimudin.

Selain masalah ekonomi, berbagai isu budaya dan pendidikan juga turut menjadi sorotan beliau yang sangat optimis dengan peningkatan hubungan kedua negara.

Selengkapnya simak wawancara eksklusif antara jurnalis IRIB Indonesia, Purkon Hidayat dengan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia di Tehran, Republik Islam Iran Merangkap Republik Turkmenistan, Oktavino Alimudin, bertepatan dengan peringatan Ulang Tahun Kemenangan Revolusi Islam Iran ke-39, yang jatuh tanggal 22 Bahman (11/2/2018), tentang Republik Islam dan dinamika hubungan Iran dengan Indonesia sebagai berikut:

P: Pertama yang ingin saya tanyakan mengenai pandangan bapak tentang perjalanan Revolusi Islam Iran memasuki 39 tahun ini. Silahkan pak.

D: Sebelumnya saya ucapkan terima kasih telah memberikan kesempatan wawancara untuk KBRI di Tehran. Pertama, saya atas nama masyarakat Indonesia di Iran mengucapkan selamat atas kemenangan Revolusi Islam di Iran yang sudah mencapai hampir 40 tahun.

Pada kesempatan ini, berbicara mengenai hubungan kedua negara, khususnya sejak negara Islam Iran ini berdiri, banyak sekali dinamika yang terjadi. Kita lihat begitu pesatnya hubungan ekonomi, politik dan sosial maupun budaya.

Kalau kita lihat selama hampir empat puluh tahun terakhir, kita sangat amati hubungan ekonomi dan perdagangan di mana dari segi nilai perdagangan terjadi peningkatan signifikan, walaupun juga pernah mengalami penurunan. Tapi saat ini trennya mengalami peningkatan.

Peningkatan ini justru yang kita lihat murni dari upaya kedua pemerintah dan pengusaha maupun kalangan pebisnis dari kedua negara untuk mendorong kerja sama di berbagai sektor.

Kita lihat untuk periode yang sama di bulan November 2016 dan November 2017 itu ada peningkatan volume perdagangan kedua negara sampai 106 persen.

P : Menarik pak, Ini bisa tinggi hingga 106 persen, lebih dari dua kali lipatnya.

D: Ya. Ini data yang kita peroleh dari kementerian Republik Indonesia untuk periode November 2106 hingga 2017.

Dari jumlah ini masih perlu kita tingkatkan lagi. Kalau kita lihat pada Januari hingga November 2016 hanya mencatat sekitar US$290 juta. Tapi di tahun 2017 mencapai US$599 juta. Saya yakin untuk periode hingga Desember 2017 akan melebih US$600 juta.

P: Kalau selama ini faktor apa yang menghambat peningkatan volume perdagangan tersebut?

D: Tampaknya yang paling utama ketika Republik Islam Iran masih berada di bawah sanksi internasional. Kita melihat sangat sulit bagi Indonesia untuk mengimpor minyak dan gas dari Iran. Jadi, kita terpaksa menghentikan impor minyak dan juga elpiji (gas) dari Iran.

Tapi segera setelah sanksi tersebut berakhir, tepatnya sejak tahun 2016, kita memulihkan kembali impor dari Iran. Jadi saat itu kita memulai dengan mengimpor elpiji dari Iran, dan kini jumlahnya terus meningkat beberapa kali lipat. Kalau kita lihat tahun 2016 kita hanya mengimpor elpiji 88 ribu metrik ton. Maka saat ini kita sudah mengimpor  lebih dari 500 ribu metrik ton.

Harapannya, tidak hanya dari elpiji kita impor, tapi kita juga bisa melihat beberapa komoditas lain. Khususnya juga dari Indonesia, komoditas kita yang utama yang sangat laku di Iran di antaranya adalah produk pertanian, misalnya kelapa sawit yang sangat digemari. Tidak mungkin Iran melepaskan produk kelapa sawit dari Indonesia, karena Indonesia termasuk negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia.

Kita juga melihat di pasar Iran banyak kopi yang berasal dari Indonesia. Belum lagi kalau kita melihat produk industri seperti: kertas, tisu, ataupun tekstil dan beberapa produk otomotif seperti ban mobil.

Kita harapkan ke depannya tidak hanya dari Indonesia yang meningkatkan ekspornya, tapi juga dari Iran bisa meningkatkan ekspornya ke Indonesia. Beberapa hal yang kita lihat dari produk Iran di Indonesia misalnya kurma atau juga karpet dari Iran yang sangat dikagumi dan digemari di Indonesia.

P: ya pak. Mengenai kelapa sawit tampaknya ada kebijakan Uni Eropa mengenai kelapa sawit, termasuk dari Indonesia, apakah ini juga berpengaruh terhadap Iran pak?

D: Secara bilateral kita mencoba bernegosiasi dengan pihak Iran mengenai masalah tarif untuk menurunkan bea masuk bagi produk kelapa sawit. Masalah ini tidak hanya dari Indonesia, tapi juga dari negara-negara lain.

Nah, ini yang coba kita sepakati dalam perundingan Preferential Trade agreement (PTA). Mudah-mudahan kedua negara menyepakati penurunan tarif bea masuk, termasuk produk kelapa sawit.

Apa yang dilakukan Uni Eropa yang berkaitan dengan kampanye negatif tentang kelapa sawit kita, sejauh ini tidak berimbas di Iran. Karena produk yang kita ekspor ini langsung ke Iran tidak melalui Uni Eropa.

P: Tadi bapak menyinggung mengenai kesepakatan penurunan tarif ini, apakah sudah tercapai? Bagaimana perkembangannya.

D: Pertemuan mengenai masalah ini sudah dilakukan lima kali. Kita berharap pertemuan terbaru yang berlangsung hari Kamis (8/2) membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan.

Kalau kita bicara mengenai Preferencial Trade Agreement ini, maka kita akan bicara banyak mengenai bea masuk. Jadi kita harapkan ada lebih dari 500 pos dari berbagai produk komoditas kedua negara yang nanti bisa disepakati bersama.

Kita memang masih mencoba semakin intensif bernegosasi dengan pihak Iran. Mudah-mudahan tahun ini bisa disepakati hasil Preferential Trade Agreement tersebut.

P: Pertanyaan selanjutnya mengenai kebudayaan pak. Indonesia dan Iran ini memiliki banyak kesamaan budaya. Bapak selaku pimpinan diplomasi Indonesia di Iran seperti apa melihat kerja sama yang terjalin selama ini di bidang budaya?

D: Untuk kerja sama budaya, yang paling sering dan mudah sekali kita lihat adalah keikutsertaan kedua negara dalam perlombaan membaca al-Quran atau Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Banyak sekali delegasi dari Iran ikut serta dalam MTQ internasional yang digelar di Indonesia. Sebaliknya, peserta dari Indonesia juga aktif berpartisipasi dalam MTQ di Iran.

Selain itu, kita melihat pengaruh budaya Persia di Indonesia yang bisa kita lihat di berbagai daerah. Ini semua membuka peluang bagi kedua negara untuk menggali bagaimana hubungan budaya kedua negara sudah berlangsung sedemikian lama.

Untuk hal-hal yang sifatnya masa kini, yang bisa kita lihat adalah bidang olahraga. Kita melihat Indonesia memiliki keunggulan di antaranya di cabang olah raga bulu tangkis. Ini bisa ditawarkan kepada pihak Iran. Sementara pihak Iran juga bisa memberikan pelatihan kepada Indonesia, khususnya di cabang olahraga bela diri seperti gulat ataupun juga cabang lain.

Memang banyak sekali cabang olahraga yang dipertandingkan yang bisa dikerjasamakan. Namun yang paling penting adalah bagaimana kita tidak hanya berkompetisi pada saat pertandingan itu berlangsung, namun juga sebelum pertandingan masing-masing bisa saling memberikan pelatihan.

Untuk bidang pendidikan saat ini pemerintah Iran banyak memberikan beasiswa kepada mahasiswa Indonesia, dan Indonesia juga menawarkan beasiswa kepada orang Iran, termasuk beasiswa budaya untuk belajar di Indonesia dalam waktu tiga bulan hingga setahun. Di mana dalam jangka waktu tersebut, mereka bisa berdiskusi dan mengambil studi di Indonesia untuk mata kuliah budaya.

Jadi dari hal ini kita berharap tidak hanya dari pemerintah maupun pelaku usaha saja, tapi juga masyarakat dan akademisi kedua negara bisa menjalin kerja sama yang lebih erat di bidang budaya.

P: Terima kasih banyak atas waktunya pak. Sukses untuk bapak dan KBRI Tehran.


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mourining of Imam Hossein
haj 2018
We are All Zakzaky