Menggunakan Pengeras Suara di Masjid, Bagaimana Pandangan Ulama Syiah?

Menggunakan Pengeras Suara di Masjid, Bagaimana Pandangan Ulama Syiah?

Di Iran sendiri, yang merupakan negara yang menetapkan sistem pemerintahan yang berdasarkan syariat Islam, turut memberikan aturan khusus mengenai penggunaan pengeras suara di masjid.

Menurut Kantor Berita ABNA, Meilana seorang warga etnis Tionghoa yang beragama Budha yang tinggal di Medan Sumatera Utara sontak menjadi perhatian di tanah air dalam sepekan ini, bahkan namanyanya menjadi salah satu trending topik di Twitter Indonesia. Pasalnya, pengadilan menjatuhkan vonis penjara 18 bulan kepada ibu 4 anak tersebut karena memprotes suara azan dari masjid dekat rumahnya yang menurutnya sangat mengganggu. Atas protesnya tersebut dia diadukan kepolisi atas tuduhan telah melakukan penistaan agama. Setelah menjalani proses pengadilan, hakim menilai ia terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 156 a KUHP. 

Putusan hakim tersebut, sontak mendapat tanggapan dari warganet. Banyak yang meyayangkan vonis tersebut. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Hukum, HAM, dan Perundang-Undangan Robikin Emhas turut mengkritisi keputusan Pengadilan Negeri Medan tersebut, menurutnya, memprotes suara azan yang terlalu kencang bukan penistaan agama. "Saya tidak melihat ungkapan suara adzan terlalu keras sebagai ekspresi kebencian atau sikap permusuhan terhadap golongan atau agama tertentu," kata Robikin dalam keterangan tertulisnya, Selasa 21 Agustus 2018 yang dinukil dari Tempo. 

Robikin mengatakan sebagai muslim pendapat seperti itu sewajarnya ditempatkan sebagai kritik konstruktif dalam kehidupan masyarakat yang plural. 

Di Iran sendiri, yang merupakan negara yang menetapkan sistem pemerintahan yang berdasarkan syariat Islam, turut memberikan aturan khusus mengenai penggunaan pengeras suara di masjid. Berikut ini sejumlah fatwa ulama marja taklid Syiah yang dihimpun Islam Quest yang melarang pengunaan pengeras suara ekternal di masjid kecuali untuk mengumandangkan azan. 

Ayatullah al-Uzhma Sayid Ali Khamanei

Mengumandangkan azan sebagai pemberitahuan bahwa waktu salat telah masuk (khususnya subuh) tidak masalah, namun jika mengumandangkan suara ayat Alquran, doa dan selain itu dengan menggunakan pengeras suara eksternal di masjid yang dengan itu dapat menyebabkan warga yang menetap di sekitar masjid dapat terganggu, maka itu bermasalah secara syar'i. 

Ayatullah al-Uzhma Nashir Makarim Shirazi

Mengumandangkan azan dengan pengeras suara eksternal dari masjid dengan volume suara yang sewajarnya tidak dilarang, namun untuk selain itu, maka masjid harus menggunakan pengeras suara internal yang hanya terdengar di dalam masjid. 

Ayatullah al-Uzhma Sistani

Jika tidak menyebabkan tetangga masjid terganggu, tidak mengapa, namun jika tetangga merasa terganggu, maka tidak diperbolehkan.

Ayatullah al-Uzhma Nuri Hamadani

Jika dapat menyebabkan terganggunya kaum mukminin, maka tidak diperbolehkan.

Ayatullah al-Uzhma Shafi Ghulpaighani

Mengumandangkan azan diperbolehkan namun selain itu, berhati-hatilah untuk tidak menyebabkan gangguan kepada masyarakat. Khususnya perhatikan hak-hak mereka yang sakit dan mereka yang lanjut usia.

Ayatullah al-Uzhma Hadi Tehrani

  1. Menyebabkan gangguan pada orang lain, tidak diperbolehkan
  2. Menggunakan pengeras suara eksternal tanpa keridhaan tetangga, tidak diperbolehkan
  3. Mengeraskan suara azan dengan batas yang sewajarnya, sunnah hukumnya.


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mourining of Imam Hossein
haj 2018
We are All Zakzaky