Perempuan Teragung, Bunda Maryam atau Sayyidah Fatimah as?

  • News Code : 811053
  • Source : Bagendaali.com
Brief

Dalam kitab-kitab klasik Syiah maupun kontemporer kita menemukan bejibun pernyataan, syair, puisi yang mencoba memuji keutamaan Sayyidah Fatimah as, namun kesemuanya itu tidak mampu mewakili keutuhan pribadi Sayyidah Fatimah as.

(Kajian Literatur berdasarkan Kitab-kitab Ahlus Sunnah)

“Dan (ingatlah) ketika para Malaikat berkata: “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam. Wahai Maryam, taatilah Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.”

[Qs. Ali Imran: 42-43]

Pada firman suci Allah SWT di atas yang menukil kembali perkataan malaikat yang ditujukan kepada Bunda Maryam, menyebutkan, Bunda Maryam adalah perempuan teragung dan termulia di atas segala perempuan seluruh alam yang merupakan ketetapan Allah SWT yang memilih, menyucikan dan melebihkannya. Namun ada hal penting hendak kita bahas, apakah yang dimaksud pada penggalan ayat اصْطَفاكِ عَلى‏ نِساءِ الْعالَمينَ (melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam) bermaksud Bunda Maryam adalah perempuan teragung dari semua perempuan di seluruh alam, baik atas Sayyidah Fatimah sekalipun maupun selain itu?. Namun jika kita melihat pada firman Allah SWT yang berkenaan dengan Bani Israil, maka kita temukan redaksional yang hampir serupa, yang menyebutkan Bani Israel adalah kaum terbaik. Bisa kita simak pada surah al Baqarah ayat 47 yang menandaskan, ” Wahai Bani Isra’il, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwa Aku telah mengutamakan kamu atas segala umat.” Apakah ketika membaca ayat tersebut, kita akan berkesimpulan bahwa Bani Isra’il adalah umat yang keutamaannya lebih besar di atas segala umat termasuk umat Islam sendiri?.

Tentu yang dimaksud Allah SWT pada firmanNya tersebut adalah Bani Israil adalah umat yang lebih utama dari umat-umat selainnya dan menjadi umat pilihan hanya pada masanya. Bukan umat terbaik di atas segala umat di setiap kurun dan masa. Sebab Allah SWT berfirman pada surah Ali Imran ayat 110 yang ditujukan kepada umat Islam, كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ (Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia). Jadi pada ayat terakhir ini, menyebutkan umat Islamlah yang merupakan umat terbaik dan pilihan selanjutnya, bukan Bani Israil. Maka dapat dikatakan demikian juga halnya yang berlaku dengan Bunda Maryam. Bahwa Bunda Maryam adalah perempuan pilihan dan teragung di atas perempuan-perempuan lainnya pada masa kehidupan beliau. Sebab kita punya dalil berupa riwayat yang menunjukkan hal tersebut. Misalnya pada tafsir berkenaan dengan ayat tersebut, Ibnu Abbas, Hasan dan Ibnu Juraij berpendapat, “Maksud dari keutamaan bunda Maryam, hanya berlaku diatas segala perempuan pada masanya.” (Ibnu al Jauzi, Zad al Masir fi ‘ilmi al Tafsir, jilid 1, hal. 315). Demikian pula yang disebutkan Jalaluddin al Suyuti dalam al Dur al Mantsur jilid 2 hal. 194, Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir al-Qur’an al ‘adzim jilid 2 hal. 647 dan mayoritas ulama mufassir Ahlus Sunnah lainnya menyebutkan hal yang sama.

Kemudian pada ayat ke 43 dari surah Ali Imran tersebut disebutkan, ” Wahai Maryam, taatilah Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” Adalah poin penting lainnya yang tidak boleh luput dari perhatian dan kajian kita. Hal yang menarik, ketika kita kembali mengkaitkan mengenai keutamaan Bunda Maryam dengan Bani Israil sebagai umat terbaik, maka kita temukan teks redaksional yang nyaris sama. Pada surah al Baqarah ayat 43 yang merupakan rangkaian ayat yang menceritakan mengenai dilebihkannya Bani Israil atas umat lainnya tertulis, “Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”

Pada dua ayat baik mengenai Bunda Maryam maupun tentang Bani Israil, kita menemukan perintah yang sama yang ditujukan kepada keduanya, “rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” Pertanyaan besar yang akan timbul, siapa yang dimaksud orang-orang yang rukuk itu?. Bayangkan, Allah SWT menyebut Bunda Maryam sebagai perempuan yang dilebihkan kemuliaan dan keutamaannya diatas yang lain, namun diperintahkan rukuk beserta orang-orang yang rukuk. Okelah, kalau berkenaan dengan Bunda Maryam yang dimaksud orang-orang yang rukuk itu adalah jama’ah shalat laki-laki, sebab semulia dan betapapun agungnya seorang perempuan tidak diperkenan syariat mempimpin jama’ah shalat. Namun jika dikaitkan dengan Bani Israil? Siapa orang-orang yang rukuk yang dimaksud? Apakah Bani Israil sendiri?. Atau semata perintah itu menunjukkan shalat harus didirikan secara berjama’ah, sementara pada ayat tersebut telah didahului dengan perintah dirikanlah shalat?. Sesuatu yang sangat menakjubkan, jika kita kemudian menghubungkannya dengan salah satu ayat yang turun khusus berkenaan dengan keutamaan Ahlul Bait as. Ayat tersebut berbunyi, “. Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, sedang mereka dalam kondisi rukuk.” Dan orang rukuk yang dimaksud adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Sebagaimana yang disebutkan oleh Jalaluddin Suyuti dalam kitabnya al Dur al Mantsur, jilid 3 hal. 105 mengenai asbabun nuzul turunnya ayat tersebut. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang berkata, وَ ارْكَعُوْا مَعَ الرَّاكِعِيْنَ turun untuk Rasulullah dan Ali bin Abi Thalib sebab keduanya yang pertama kali shalat dan rukuk bersama-sama.” (Imam al Qurtubi dalam Tafsir Al Jami’ li Ahkam al Qur’an, jilid 1, hal. 338). Sekedar menambah pengetahuan dengan sedikit menukil dalam kitab tafsir ulama Syiah, Ayatullah Jawad Amuli dalam kitabnya Tasnim menyebutkan, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as mengerjakan semua yang diperintahkan kepada Bani Israil tersebut dalam satu waktu, yaitu dalam keadaan rukuk mendirikan shalat sembari menunaikan zakat. (Tasnim Tafsir Qur’an_e Karim ayat 43, jilid 4, hal. 134).

Jika kita mengkaji kitab-kitab tafsir yang ditulis ulama-ulama Ahlus Sunnah, maka kita temukan, bahwa perempuan teragung di atas segala perempuan di setiap kurun dan zaman adalah Sayyidah Fatimah az Zahra, putri kesayangan Rasululullah. Banyak ayat yang turun berkenaan dengan beliau bahkan dua surah khusus diturunkan membicarakan hak dan keutamaan Sayyidah Fatimah as. Yaitu surah al Insan yang berbicara tentang keutamaan Ahlul Bait yang Sayyidah Fatimah as termasuk di dalamnya dan surah al Kautsar yang khusus mengenai Sayyidah Fatimah as. Sementara ayat yang berkenaan dengan beliau as, dapat dijabarkan diantaranya, ayat Tathir (Qs. Al Ahzab: 33) mengenai penegasan Allah SWT akan kesucian dan kemaksuman beliau. Dalam ayat Mawaddah (Qs. Asy-Syura: 23) yang menyebutkan perintah Allah SWT untuk mencintai Ahlul Bait Nabi sebagai imbalan atas seruan dakwah beliau kepada ummat. Pada ayat shalawat (Qs. Al Ahzab: 56), perintah shalawat kepada kaum mukminin yang juga ditujukan kepada Sayyidah Fatimah as sebagaimana termaktub dalam Shahih Bukhari jilid 8 hal. 95 pada pembahasan shalawat. Demikian pula di banyak ayat lainnya yang tersebut di berbagai surah yang tidak semuanya bisa disebutkan satu-satu di kolom yang terbatas ini.

Dalam literatur hadits Ahlus Sunnah kita juga menemukan tidak sedikit sabda Nabi Saw yang diriwayatkan berkenaan dengan keutamaan Sayyidah Fatimah yang bahkan melebihi bunda Maryam.

Dikisahkan dalam sebuah riwayat yang panjang dalam kitab Sahih Bukhari. Pada saat sakit Rasulullah yang terakhir, Fatimah datang kerumah beliau untuk menjenguknya. Fatimah terlihat menangis keras, tetapi sesaat kemudian ia tersenyum. Apa gerangan yang terjadi? Apa yang membuatnya seperti itu? Aisyah bercerita, “berkata Aisyah, ‘Pada waktu itu,aku sedang duduk di samping Rasulullah. Lalu datanglah Fatimah yang berjalan seperti (jalannya) Rasulullah. Melihat putrinya datang, Rasulullah segera menyambutnya seraya berkata, ‘Selamat datang, wahai Putriku.’ Rasulullah kemudian mempersilakan kepadanya untuk duduk di samping kanan atau di samping kirinya. Beliau kemudian membisikkan sesuatu kepadanya sehingga Fatimah terlihat menangis . Rasulullah kemudian membisikkan sesuatu sehingga Fatimah tersenyum. Aisyah bertanya kepadanya, ‘Aku melihatmu menangis. Akan tetapi, aku kemudian melihatmu tersenyum. Apa yang telah dikatakan rasulullah kepadamu? ‘Fatimah menjawab, ‘Aku tidak akan membuka rahasianya.’ Aisyah berkata, ‘Ketika Rasulullah telah meninggal, aku menanyakan hal itu lagi kepadanya.’ Fatimah kemudian menjawab, ‘Rasulullah telah bersabda, ‘Sesungguhnya, malaikat jibril mendatangiku setiap tahun dan membacakan Al-Qur’an sekali. Akan tetapi, pada tahun ini dia membacakan Al-Qur’an dua kali sehingga aku hanya bisa mengira bahwa ajalku sudah dekat. Sebaik-baik pendahulu bagimu adalah aku. ‘ Rasulullah kemudian berkata lagi, ‘kamu adalah keluargaku yang paling cepat menyusulku. ‘Fatimah kemudian berkata, ‘Maka aku pun menangis ketika mendengarnya. ‘Rasulullah kemudian berkata, ‘Apa kamu tidak ridha jika kamu menjadi pemimpin wanita-wanita ummat ini dan wanita-wanita didunia? ‘Fatimah kemudian berkata , ‘Mendengar ucapan Rasulullah tersebut, aku kemudian tersenyum.

Dalam kitab al Mustadraknya, al Hakim Naisyaburi meriwayatkan, “Seorang malaikat datang kepada Rasul seraya berkata, ‘Sesungguhnya, Fatimah adalah pemimpin para wanita penghuni surga.” Sementara dalam sebuah hadits yang panjang, Ibnu Abbas meriwayatkan dari Rasulullah Saw yang bersabda, “Putriku Fatimah, sesungguhnya adalah pemimpin para perempuan di alam semesta dari yang pertama sampai terakhir.” (Ibrahim Jauyani, Faraidul Samtin jilid 2, hal. 35).

Dan sebagaimana diriwayatkan banyak ulama hadits Sunni seperti Imam Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Hibban dan Thabrani yang menyebutkan Rasullah Saw pernah bersabda, “Dan Fatimah adalah pemimpin para wanita penghuni surga setelah Maryam binti Imran.” Kesemua riwayat-riwayat tersebut menunjukan bahwa Sayyidah Fatimahlah sebagai perempuan teragung di atas seluruh perempuan di alam semesta, baik dulu, kini maupun akan datang, baik di dunia maupun di akhirat.

Sayyidah Fatimah as dalam Ucapan Ulama-ulama Ahlus Sunnah

Tidak ada yang dapat memungkiri mengenai keagungan, keutamaan dan kemuliaan Sayyidah Fatimah as. Ali Syariati mengatakan, “Saya tidak dapat mengungkapkan apapun mengenai Fatimah, kecuali satu hal, Fatimah adalah Fatimah.” Dalam kitab-kitab klasik Syiah maupun kontemporer kita menemukan bejibun pernyataan, syair, puisi yang mencoba memuji keutamaan Sayyidah Fatimah as, namun kesemuanya itu tidak mampu mewakili keutuhan pribadi Sayyidah Fatimah as. Nabi Muhammad Saw berkenaan dengan putri tercintanya pernah bersabda, “Jika semua kebaikan dikumpulkan dan diletakkan disebuah tempat, maka az Zahra masih jauh lebih baik dari semua kebaikan tersebut.” Yang bisa kita ketahui dari apa yang dimaksudkan Nabi Saw tersebut, penjelasan dan gambaran apapun yang dikemukakan tidak bisa mewakili kemuliaan dan keagungan hadhrat Fatimah az Zahra as.

Literarur Ahlus Sunnahpun tidak luput dari menceritakan sebagian dari keutamaan Sayyidah Fatimah az Zahra as tersebut. Jalaluddin Suyuti dalam kitab ال‍ث‍غ‍ور ال‍ب‍اس‍م‍ه ف‍ی ف‍ض‍ائ‍ل ال‍س‍ی‍ده ف‍اطم‍ه (kitab yang ditulis khusus berkenaan dengan Sayyidah Fatimah as mengenai fadilah-fadilah beliau baik sebelum hijrah maupun setelah hijrah, serta kumpulan hadits-hadits yang diriwayatkan Sayyidah Fatimah maupun nukilan ucapan-ucapan beliau) menulis: “Kami berkeyakinan, sebaik-baik perempuan seluruh alam adalah Bunda Maryam dan Sayyidah Fatimah.” Syaikh Mahmud Afandi Alusi yang lebih dikenal dengan nama Syaikh Al Alusi dalam kitab tafsirnya Ruh al Ma’ani pada jilid 3 hal. 138 menulis, “Fatimah lebih utama atas semua perempuan baik yang terdahulu maupun yang akan datang. Adalah sabda Rasulullah Saw yang menunjukkan keutamaan Fatimah atas semua perempuan adalah sesuatu yang pasti (tidak ada keraguan didalamnya), karena beliau adalah ruh dan jiwa Rasulullah, bahkan lebih utama dari Aisyah sekalipun.”

Syaikh Fakhr al Din al Razi dalam magnum opusnya ‘Tafsir al Kabir’ menjelaskan mengenai makna al Kautsar (anugerah yang melimpah) dalam surah al Kautsar. Beliau menulis, “Surah al Kautsar turun untuk membantah mereka yang berpandangan bahwa Nabi Muhammad Saw tidak akan memiliki keturunan. Oleh karena itu surah tersebut berkenaan mengenai karunia yang Allah SWT berikan kepada Nabi Muhammad Saw berupa keturunan yang akan terjaga sepanjang zaman. Perhatikan, betapa banyak dari keluarganya yang terbunuh, namun orang-orang berilmu dari kalangan keturunan Rasulullah Saw sangat banyak dan melimpah. Dan tak seorangpun dari keluarga Bani Umayyah yang mampu menyaingi salah satupun dari keluarga Nabi. Dan perhatikan pula, dari keturunan Nabi lahir ulama-ulama besar seperti al Baqir, as Shadiq, al Kadzim dan ar Ridha serta Nafs Zakiah (nama aslinya Muhammad bin Abdullah bin al Hasan, salah seorang keturunan imam al Hasan as yang pada tahun 145 H syahid di masa pemerintahan al Manshur).” (Tafsir al Kabir, jilid 32, hal. 124). Jadi dalam kitab tafsirnya tersebut, ulama mufassir Sunni ini menyebutkan, bahwa anugerah melimpah dari Allah SWT untuk nabi Muhammad Saw yang dimaksud adalah keturunan yang dimulai dari Sayyidah Fatimah az Zahrah yang lahir dari beliau ulama-ulama dan pejuang-pejuang Islam yang menegakkan dan menjaga agama dari berbagai anasir yang hendak merusak dan menodainya. Hal yang sama juga dikemukakan oleh An Naisabury dalam Kitab Gharaib Al Qur’an Wa Raghaib Al Furqan jilid 8, hal. 576.

Salam atasmu duhai putri sebaik baiknya makhluk, salam atasmu wahai putri nabi, salam atasmu wahai istri al-washi, salam bagimu duhai ibu al-Hasan dan al-Husain, salam atasmu wahai wanita suci yang dizhalimi dan diambil haknya, salam bagi ruh dan jasadmu yang suci nan semerbak dari lisan yang penuh dengan dosa ini…

Salam bagimu…..

[Ismail Amin]


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram