Mengenang Hari-Hari Terakhir Usia al-Mustafa saw

Mengenang Hari-Hari Terakhir Usia al-Mustafa saw

Sampai hari ini, Nabi Muhammad saw tetap diakui sebagai manusia teragung yang pernah ada di muka bumi. Semua umat Islam mencintai Rasulullah saw dan meluapkan kecintaan tersebut secara terbuka dan terang-terangan menjadi kebanggaan seorang muslim.

Nabi terakhir yang diutus Allah swt untuk seluruh umat manusia dan makhluk terbaik di dua alam adalah Nabiullah Muhammad bin Abdullah saw. Mendapat pengakuan hatta dari non muslim sekalipun, bahwa beliaulah tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah. Selama 23 tahun mendakwahkan Islam dengan berbagai kesulitan dan tantangan yang harus dihadapi, ia berhasil mengislamkan hampir seluruh jazirah Arab. Pada hari Senin, 28 Safar tahun 11 H, setelah berbaring sakit selama 11 hari, manusia terbaik tersebut menghembuskan nafas terakhir dan dimakamkan di sisi masjid yang dibangunnya. 

Hari-hari terakhir bulan Safar dalam kalender Islam adalah hari-hari yang berat bagi umat Islam, sebab tercatat dalam sejarah sebagai hari kepergian Rasulullah saw. Begitupun menjadi hari terakhir Imam Hasan as, cucu kesayangan sang Nabi. Imam Ali bin Musa al-Ridha as keturunan ketujuh Nabi Muhammad saw juga diyakini wafat dihari-hari terakhir bulan Safar. Hari-hari terakhir bulan Safar diperingati umat Islam sedunia, sebagai hari-hari berduka.

Mengulang Singkat Profil Nabi

Nama lengkap nabi Muhammad saw adalah Muhammad bin Abdullah. Ia memiliki kunyah Abul Qasim dan Abu Ibrahim. Ia memiliki banyak laqab/gelar, diantaranya: Rasulullah, Nabiullah, al-Mustafa, Mahmud, Amin, Ummi, Khatam, Muzammil, Nadzir, Basyir, Mubin, Karim, Nur, Rahmat, Ni'mat, Syahid, Mubassyir, Mundzir, Mudzakkir, Yasin, Thaha dan masih banyak lagi. Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir dari rentetan silsilah kenabian dan rasul yang disebutkan dalam riwayat terdapat 124 ribu nabi. Dalam riwayat versi Syiah, ia dilahirkan pada hari Jumat 17 Rabiul Awal pada tahun Gajah atau bertepatan dengan tahun 570 Miladi. Namun menurut mayoritas Ahlusunnah, Nabi Muhammad saw lahir pada hari Senin 12 Rabiul Awal dengan tahun yang sama yang diyakini Syiah. 

Nasab mulia beliau dimulai dari ayahnya Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luway bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar (Quraisy) bin Kananah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar in Nizar bin Ma'ad bin 'Adnan. Nasab ini diterima oleh Sunni dan Syiah sementara nasab dari Adnan sampai Nabi Ibrahim as dan dari Nabi Ibrahim as sampai Nabi Adam as, terdapat perselisihan dan versi yang berbeda dari keduanya, selain terdapat sejumlah ulama yang mendiamkan karena tidak dapat riwayat yang kuat mengenai urutan silsilah tersebut. 

Ibu Nabi Muhammad saw bernama Aminah, putri dari Wahab bin Abdu Manaf. 

Pada usia 40 tahun, pada tanggal 27 Rajab (610 Miladi) ia mendapatkan perintah dari Allah swt untuk mendakwahkan Islam, dan itu dilakukannya selama 23 tahun dengan mendakwahkan Islam di kota Mekah selama 11 tahun kemudian berhijrah ke Madinah sampai akhirnya menutup mata pada 28 Safar tahun 11 H. 

Peristiwa Penting di Hari-Hari Terakhir Usia Nabi

Mengenai peristiwa-peristiwa penting pada periode-periode kelahiran, remaja, pernikahan, sampai mendapat beban risalah dan mendakwahkannya, telah banyak ditulis dan dibahas oleh para sejarawan. Namun salah satu periode yang juga tidak kalah pentingnya tetapi jarang diungkap dan dibahas adalah scene terakhir dari perjalanan hidup sang Nabi saw. 

Bisa jadi diantara alasan mengapa peristiwa-peristiwa penting menjelang wafatnya Nabi saw tidak diungkap atau jarang dibahas, karena dapat memicu polemik dan menimbulkan perselisihan di tubuh umat Islam. Namun pada hakikatnya, menelusuri kembali sejarah, terlebih lagi jika sejarah itu bagian dari kehidupan Rasulullah terkasih, tidak semestinya menjadi alasan untuk saling berpolemik atau diibaratkan dengan membuka kembali luka lama, sebab penelusuran sejarah sangat penting dilakukan untuk mengetahui dan mendapatkan versi sebenarnya dari lembaran sejarah.  

Hari ini seseorang berislam sesuai dengan versi sejarah yang diyakininya. Mereka yang phobia, atau menghalang-halangi sejarah versi lain untuk diungkap, dikaji dan dibahas, adalah pihak yang justru anti pada kebenaran itu sendiri. Versi sejarah yang paling mendekati kenyataan yang sebenarnya adalah versi yang paling siap untuk dikuliti, dikritik, ditanya, dianalisa dan didebat, bukan yang paling takut dengan pertanyaan-pertanyaan kritis dan analitis. 

Ketika Nabi Muhammad saw mulai diserang rasa sakit, dengan diantar dan dipapah oleh Imam Ali as, ia menuju Pemakaman Baqi. Di depan makam sahabat-sahabatnya, ia berdoa dengan doa yang sangat panjang dan memohonkan istigfar untuk mereka. Kemudian, ia berkata kepada Ali as, "Jibril setiap tahunnya datang sekali kepadaku untuk mengulangi Alquran, namun tahun ini ia datang dua kali. Dan ini menunjukkan bahwa ajalku telah dekat." 

Ia melanjutkan, "Jika aku meninggal dunia, aku ingin engkau yang memandikan jenazahku."

Hari-hari berikutnya, Rasulullah saw menampakkan wajah sedih dan menampakkan adanya beban yang berat. Kesedihan tersebut bukan karena rasa sakit yang dideranya, melainkan karena memikirkan nasib ummat sepeninggalnya. Disebutkan, Nabi Muhammad saw mengetahui ada gerakan-gerakan yang tidak semestinya dilakukan oleh sejumlah sahabatnya, terutama terkait dengan keputusannya mengangkat Usamah bin Ziad yang saat itu masih berusia 17 tahun sebagai panglima pasukan perang yang akan diberangkatkan ke perbatasan. Dalam keadaan sakit, ia mengumpulkan sahabat-sahabatnya dan berkata, "Bukankah aku telah memerintahkan kalian pergi bersama pasukan Usamah, mengapa kalian tidak pergi?"

Sejumlah sahabat menyampaikan alasan, bahwa mereka tidak ingin meninggalkan Nabi dalam kondisi sakit. Meski alasan tersebut tampak menunjukkan kepedulian mereka pada kondisi Nabi, namun karena ketidaktaatan mereka pada perintah Nabi, Nabi menunjukkan kekecewaannya. Orang-orang munafik bahkan mengeluarkan komentar-komentar yang lebih menyakitkan dengan berkata, "Dia mengangkat anak ingusan menjadi komandan di kalangan pembesar Muhajirin dan Anshar". Nabi Muhammad saw segera menuju masjid dan mengumpulkan orang-orang. Dalam kondisi tubuh melemah, ia menyampaikan khutbahnya, "Jika kalian menggugat kepemimpinan Usamah bin Zaid maka (tidaklah aneh karena) sesungguhnya kalian juga pernah menggugat kepemimpinan ayahnya sebelumnya. Demi Allah, sungguh ia pantas dan layak memegang kepemimpinan itu. Demi Allah, ia adalah orang yang sangat aku cintai. Demi Allah, sesungguhnya (pemuda) ini sangat baik dan pantas. Demi Allah, ia adalah orang yang sangat aku cintai, maka aku wasiatkan kepada kalian agar mentaatinya karena sesungguhnya ia termasuk orang-orang shalih di antara kalian."

Kemudian orang-orang pun bersiap-siap. Kaum Muhajirin dan Anshar keluar semuanya bersama Usamah. Usamah membawa pasukannya keluar Madinah lalu berkemah di Al Jurd (satu farsakh dair kota Madinah).

Setelah peristiwa tersebut, sakit Nabi bertambah parah dan berkali-kali tidak sadarkan diri. Pada hari Kamis, disaat sadar ia memerintahkan untuk disediakan kertas dan pena, yang dengan itu akan dituliskan sesuatu yang akan membuat umat Islam tidak akan tersesat sepeninggalnya. Saat pena dan kertas hendak disediakan, salah seorang sahabat berkata (dalam sahih Bukhari disebut adalah Umar bin Khattab), "Sakit Nabi bertambah parah, dan di sisi kalian ada Alquran, cukuplah untuk kita Kitabullah." Dengan pernyataan tersebut, terjadilah perselisihan, dan sahabat-sahabat terbagi atas dua kubu, yang sepakat untuk tetap memberikan Nabi apa yang dimintanya, dan kubu yang lain sepakat untuk tidak merepotkan Nabi karena sakitnya yang bertambah parah dan tidak perlu lagi ada wasiat dari Nabi, sebab Alquran telah cukup untuk menjadi petunjuk. Melihat perselisihan tersebut, Nabipun meminta semuanya untuk keluar.

Wasiat Nabi saw di Akhir Usianya

Di hari terakhir menjelang wafatnya, Nabi meminta muadzinnya Bilal untuk memanggil orang-orang menuju Masjid. Dalam khutbahnya Nabi menyampaikan agar ada diantara sahabatnya yang telah dilanggar haknya oleh Nabi maka ia akan memberikan haknya itu. Sampai tiga kali Nabi menyampaikan hal tersebut namun semua sahabat terdiam. Bisa jadi dalam hati mereka berpikir, bagaimana mungkin Nabi yang sedemikian agung akhlaknya pernah melanggar hak ummatnya. Sampai seorang budak yang bernama 'Ukasyah bangkit dari duduknya dan berkata, bahwa ia pernah terkena cambuk Rasulullah dan saat itu ia meminta qisas, agar Rasulullah juga dicambuk. Sontak sahabat-sahabat kaget dan berdiri meminta agar mereka saja yang menggantikan posisi Nabi untuk diqisas. Namun Nabi tidak bergeming, ia meminta cambuk dan memberikannya ke 'Ukasyah untuk mencambuknya. Pada saat hendak mencambuk Nabi, 'Ukasyah malah membanting cambuk tersebut, dan memeluk tubuh Nabi. Sambil menangis ia berkata, "Bagaimana mungkin aku tega mencambuk tubuhmu yang mulia ini ya Rasulullah, dari dulu aku ingin memelukmu, karena tahu tubuhmu tidak akan tersentuh oleh api neraka." Nabi Muhammad saw berkata, "Dia ('Ukasyah) adalah sahabatku di surga,"

Kemudian Nabi menyuruh Ali as untuk mengambil uang terakhir milik Nabi untuk dibagikan kepada orang-orang miskin. 

Menjelang Wafat Nabi

Didetik-detik terakhir usia Nabi, putrinya dirundung rasa kesedihan yang teramat sangat, sebab tahu akan terpisah dengan ayahnya sebentar lagi. Nabi dalam kondisi sedemikian lemah, ia membisikkan sesuatu ke telinga putri kesayangannya, yang membuat wajah Fatimah berubah menjadi sumringah. Ia tersenyum memandang wajah ayahnya yang pucat menahan sakit. Ketika Sayidah Fatimah sa ditanya, mengenai apa yang disampaikan Nabi, ia menjawab bahwa dialah dari Ahlulbait Nabi yang pertama kali menemuinya. 

Pengurusan Jenasah Nabi

Setelah Nabi Muhammad saw mengembuskan nafasnya yang terakhir, Umar bin Khattab segera keluar dari rumah dan berteriak meyakinkan orang-orang bahwa Nabi tidak meninggal dunia, melainkan hanya pergi menemui Allah swt sebagaimana Nabi Isa as. Abu Bakar kemudian mengingatkannya dengan menyampaikan ayat dari Alquran, و ما محمد الا رسول قد خلت من قبله الارسل أفإن مات أو قتل. .. (Qs. Ali Imran: 144).

Dikarenakan tersebar informasi sejumlah pembesar kaum Anshar sedang berkumpul di Saqifah Bani Sa'idah sedang membicarakan siapa pemimpin kaum Anshar sepeninggal Nabi, Abu Bakar, Umar dan beberapa sahabat lainnya segera ke Saqifah dan meninggalkan jasad Nabi. Pembicaraan yang awalnya hanya untuk pemimpin kaum Anshar beralih ke pembicaraan pengganti kedudukan Nabi sebagai pemimpin umat Islam, dan terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah. 

Pihak Ahlulbait as harus menunda pengurusan jenasah Nabi, sampai sahabat-sahabat datang dari Saqifah. Disebutkan pemandian dan pengafanan dilakukan oleh Imam Ali as sebagaimana yang diwasiatkan Nabi. Salat jenasah Nabi dilakukan berkelompok-kelompok dikarenakan dilakukan di rumah Aisyah dengan kondisi ruangan yang terbatas. 

Dengan dimakamkannya Nabi, ajaran-ajaran dan nama besarnya tidak ikut terkubur. Sampai hari ini, Nabi Muhammad saw tetap diakui sebagai manusia teragung yang pernah ada di muka bumi. Semua umat Islam mencintai Rasulullah saw dan meluapkan kecintaan tersebut secara terbuka dan terang-terangan menjadi kebanggaan seorang muslim.

Daftar Rujukan

Al-Irsyad, Tarikh Ya'qubi, al-Sirah al-Nabawiah (Ibn Hisyam), al-Thabaqat al-Kubra, Sahih Muslim, Tarikh Tabari, Musnad Ahmad, Nahjul Balaghah, Sahih Bukhari. 

[Sumber: hawzah.net dialih bahasakan oleh Ismail Amin]


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

haj 2018
We are All Zakzaky