Demi Pemelihara Ka’bah, Aku Beruntung!

  • News Code : 836689
  • Source : alhassanain
Brief


Sejumlah besar hadis telah diriwayatkan dari jalur ahlulbait maupun sunah mengenai perasaan Imam pada malam sebelum terjadinya peristiwa itu. Ibnu Abi Dunya mengutip Imam Baqir berkata bahwa Imam sangat menyadari syahadah akan menjemputnya. Begitu terluka, Imam langsung berseru, “Demi Tuhan Ka’bah, aku sungguh beruntung.”

Pada tanggal 19 Ramadhan 40 H, di saat fajar menjelang, ketika bersiap-siap untuk memimpin pasukan menuju Shiffin untuk kembali memerangi Muawiyyah, Abdul Rahman bin Muljam Muradi mengunjamkan belati ke dada Ali bin Abi Thalib di mihrab masjid Kufah ketika hendak memimpin shalat subuh. Beliau syahid tiga hari kemudian yaitu pada tanggal 21 Ramadhan 40H. Inna lillah wa inna ilahi rajiun.
Menurut riwayat Ibnu Sa’ad, tiga orang Khawarij bernama Abdul Rahman bin Muljam, Burak bin Abdullah Tamimi dan Amru bin Bukair Tamimi telah bersumpah di Makkah untuk membunuh Imam Ali as, Muawiyyah dan Amru bin Ash. Untuk mengunjungi sahabat Khawarijnya, Abdul Rahman pergi ke Kufah. Ketika dia dalam perjalanan untuk menemui sekelompok bani Taim ar-Rabab, dia melihat seorang gadis bernama Qutsam binti Syajannah bin Adi yang ayah dan saudara-saudaranya telah terbunuh dalam perang Nahrawan. Ketika Ibnu Muljam melamarnya, dia meminta mahar sebesar 3000 (Dinar!) ditambah pembunuhan atas Imam Ali. Dia pernah bercerita karena alasan inilah dia tanpa rencana sebelumnya datang ke Kufah. Dia membubuhi pedangnya dengan racun lalu menyerang kepala Imam Ali. Akibat dalamnya luka yang diderita beliau ditambah dengan racun yang dibubuhkan di pedang itu menyebabkan syahidnya beliau. Berdasarkan riwayat, pada malam pembunuhan itu, Ibnu Muljam ada di rumah Asy’ats bin Qais.
Berbagai riwayat menunjukkan bahwa Imam diserang Ibnu Muljam saat berada di dalam Masjid. Menurut riwayat lainnya, beliau diserang saat membangunkan orang-orang untuk shalat subuh. Banyak sumber sejarah mendukung pernyataan pertama begitupun riwayat yang menyebutkan bahwa beliau di serang ketika sedang melakukan shalat. Maitsam bin Tammar meriwayatkan bahwa Imam baru saja memulai shalat subuh. Tidak lama kemudian, saat beliau sedang membaca sebelas ayat dari Surah Nabi, Ibnu Muljam menyerang dan melukai kepala beliau. Menurut riwayat dari keturunan Ju’dah bin Hubairah, Imam terluka saat sedang melakukan shalat. Orang yang disebutkan tadi, yaitu Ju’dah, adalah putera dari Ummu Hani (saudari Imam) yang sering mengimami shalat menggantikan Imam dan diriwayatkan bahwa dia yang melanjutkan shalat ketika Imam as terluka akibat serangan Ibnu Muljam. Syekh Thusi juga menguatkan riwayat di atas. Namun, Muttaqi Hindi melaporkan bahwa Ibnu Muljam menyerang Imam saat Imam kembali sujud. Ibnu Hanbal maupun Ibnu Asakir menguatkan riwayat ini. Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa tidak ada kesepakatan tentang apakah Imam diserang ketika sedang melaksanakan shalat atau sebelumnya dan apakah ada yang menggantikan Imam meminpin shalat atau Imam sendiri yang mengimami shalat sampai selesai. Banyak pendapat menyatakan bahwa Imam meminta Ju’dah menjadi imam untuk melanjutkan shalat yang belum selesai.
Sejumlah besar hadis telah diriwayatkan dari jalur ahlulbait maupun sunah mengenai perasaan Imam pada malam sebelum terjadinya peristiwa itu. Ibnu Abi Dunya mengutip Imam Baqir berkata bahwa Imam sangat menyadari syahadah akan menjemputnya. Begitu terluka, Imam langsung berseru, “Demi Tuhan Ka’bah, aku sungguh beruntung.”
Ibnu Abi Dunya juga telah meriwayatkan wasiat Imam dari beberapa jalur sanad termasuk wasiat tentang keuangan dan pesan-pesan agama. Pesan paling penting yang diwanti-wanti oleh Imam adalah sebagai berikut:
“Peliharalah hubungan kekerabatan, perhatikanlah fakir miskin dan tetangga, ikutilah tuntunan al-Quran, dirikanlah shalat sebagai tiang agama, Haji, puasa, Jihad, zakat menurut ajaran ahlulbait nabi yang maksum, layanilah hamba-hamba Allah, laksanakanlah yang makruf dan cegahlah kemungkaran. Diriwayatkan, pada tanggal 21 Ramadhan menjelang wafatnya, beliau menggumamkan zikir  (Tidak ada tuhan selain Allah) lalu beliau membaca ayat,
 
Barangsiapa membuat kebajikan seberat zarrah dia akan melihat buah kebajikannya, dan barangsiapa melakukan kejahatan seberat zarrah dia akan melihat buah kejahatannya. (QS. al-Zalzalah:7-8) dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Menurut riwayat lain, setelah syahadah Imam, Imam Hasan as, Imam Husain as, Muhammad bin Hanafiyyah, Abdullah bin Ja’far dan beberapa orang anggota keluarga ahlulbait membawa jenazah Imam keluar dari kota Kufah di malam hari dan menguburkan beliau secara rahasia. Ini dilakukan mengingat kaum Khawarij dan pengikut Umayyah dikhawatirkan akan menggali kuburan Imam.

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Pesan Haji 2017 Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei
پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram