Peristiwa Isra Mikraj, Fiksi yang Diyakini?

Peristiwa Isra Mikraj, Fiksi yang Diyakini?

Isra Mikraj menguji iman setiap muslim, itu fantasi Muhammadkah, sehingga bisa dilabeli cerita fiksi, atau itu benar-benar terjadi dan nyata sehingga dengan sendirinya akan geram jika tetap saja ada yang getol menyebut yang tercantum di kitab suci itu fiksi?

“(Alquran) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan."

[Qs. Saba': 43]

Sejak awal, ketika Nabi Muhammad saw mendakwahkan Islam secara terang-terangan dan terbuka dengan mengawali dakwahnya dengan memperkenalkan diri sebagai utusan Tuhan, ia telah mendapatkan penentangan keras. Orang-orang kafir Quraisy dari kalangan bangsawan dan kaum kaya menolak mentah-mentah pengakuan tersebut. Mereka tidak siap, kekuasaan atas bangsa Arab di kota Mekah yang berada di tangan, harus diserahkan kepada Muhammad yang jika mereka turut mengimani sebagai Nabi dan Rasulullah akan memiliki kedudukan terhormat di atas mereka. 

Diantara cara, agar Muhammad tidak mendapatkan banyak pengikut, adalah dengan memberikan gambaran buruk mengenai Muhammad. Dimulailah black campaigne secara massif. Muhammad disebut tukang sihir, pembual, pendusta dan kitab suci yang dibawahnya hanyalah kumpulan fiksi, dongeng dan khayalan-khayalan kosong. Meski berat, terlebih lagi juga mendapat permusuhan keras dari sebagian kerabat sendiri, Nabi Muhammad saw tidak menghentikan dakwahnya. Ketika yang berhasil direkrut menjadi pengikut kebanyakan hanya dari kalangan jelata, budak dan orang-orang lemah, Muhammad makin mendapat cemohan. 

10 tahun setelah diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad saw berada dipuncak kesulitannya dalam mendakwahkan Islam. Pembelanya Abu Thalib dan pendampingnya Sayidah Khadijah meninggal dunia. Agar tidak terlalu larut dalam kedukaan, Nabi Muhammad saw diajak Allah swt untuk 'bertamasya'. Tidak tanggung-tanggung, dibawanya ke Sidratu Muntaha setelah sebelumnya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Palestina. Dalam tamasya tersebut, Nabi Muhammad saw dipertemukan dengan roh-roh suci para Nabi, melihat surga-neraka dan dipuncak ketakjuban tersebut, adalah menerima perintah salat lima waktu. 

Muncul kesulitan baru. Perjalanan yang hanya menghabiskan waktu semalam tersebut, harus diceritakan ke umat, yang masih  banyak belum matang keimanannya. Tentu saja peristiwa supranatural tersebut dimata orang-orang kafir, adalah kebohongan, bualan, dan rekayasa Muhammad agar bisa lebih meyakinkan posisinya. Tanpa saksi dan bukti, hanya murni lewat penuturan, Muhammad di bully, dan tidak sedikit kemudian yang berpaling karena terguncang keimanannya. Melakukan perjalanan ke Masjidil Aqsa hanya semalam, belum lagi, bahkan sampai ke langit adalah cerita yang sangat sulit dicerna akal. 

Isra Mikraj adalah peristiwa pertama yang 'sengaja' dijadikan ujian bagi mereka yang telah menyematkan keimanannya kepada Nabi Muhammad saw. Memilih mempercayainya, tanpa perlu minta bukti dan keterangan saksi, adalah hal yang membutuhkan keimanan dan kepasrahan tingkat tinggi. Apa yang membuat sejumlah sahabat tetap setia pada imannya?. Jawabnya, adalah Alquranul Karim dan akhlak Rasulullah saw. Keduanya bagi mereka, terlalu mengagumkan, terlalu menakjubkan untuk tidak dipercaya, sebab sebelumnya akal mereka telah tunduk dan takluk sepenuhnya. 

Mereka mengenal Nabi Muhammad saw sebagai pribadi yang tidak pernah berdusta dan tidak pernah sekalipun menyampaikan cerita kosong sebelumnya. Alquran telah terlanjur dipercaya sebagai firman Allah swt, yang menakjubkan dari semua sisinya. Tiba-tiba, hanya karena satu cerita perjalanan satu malam, susunan keimanan yang telah ditata dengan susah payah dan penuh pengorbanan tersebut, harus runtuh. Tentu tidak akan semudah itu. Namun sebaliknya, bagi orang-orang yang sejak awal meragukan Alquran dan meyakini akhlak Muhammad terlalu melampaui akhlak orang-orang dimasanya sehingga malah terkesan aneh dan asing, cerita Isra Mikraj malah membuat ketidakpercayaan mereka menjadi-jadi. Keyakinan mereka menebal, bahwa Alquran memang hanya kitab fiksi dan dongeng, dan Muhammad itu pembual dan pengkhayal kelas berat. 

Ketidakpercayaan dan keraguan pada Alquran dan Nabi Muhammad saw, tidak hanya terhenti di kaum kafir Quraisy tapi berlanjut bahkan sampai hari ini. Ratusan tahun, kaum orientalis, mengerahkan semua usahanya untuk membuktikan Alquran itu murni karya Muhammad, bukan firman Tuhan. Bahkan dari kalangan pemikir muslim sendiri, semisal Nasr Hamid Abu Zayd dalam bukunya "Mafhum An-nas", menyebut Alquran adalah produk budaya. Dengan menggunakan analisis hermeneutika terhadap teks-teks Alquran, ia mencetuskan konsep desakralisasi Alquran. Dengan konsep tersebut, implikasi negatif yang terjadi malah dekonstruksi Alquran. Akibatnya, Alquran bukan lagi dianggap sebagai teks Tuhan yang sakral, tetapi telah bergeser menjadi teks manusiawi, yang karena itu sangat terbuka mendapat kritikan, pembaruan, adaptasi-adaptasi bahkan perombakan.

Para ahli Alquran, telah memberikan bantahan atas semua tuduhan dan pengklaiman itu. Alquran semakin diragukan dan dicari celahnya, malah semakin mampu menunjukkan kemukjizatannya. Peristiwa Isra Mikraj yang dimasa Nabi Muhammad saw tidak logis, mustahil dan diluar akal manusia, hari ini dibenarkan oleh sains terutama dalam ilmu fisika kuantum yang dipelopori Albert Einsten.

Dalam film-film science fiction seperti Star Trex atau di film kartun anak-anak seperti Doraemon, digunakan alat yang bisa mengantarkan suatu benda atau manusia ketempat lain yang jauh dalam waktu singkat. Memang film itu hanya fiksi, bersumber dari imajinasi pengarangnya, namun tidak berlebihan jika dikatakan, itu bisa saja terilhami dari peristiwa Isra Mikraj. Meski terkesan layaknya yang hanya terjadi di film-film fiksi sains atau cerita-cerita fiksi, namun cerita Nabi Muhammad saw mengenai Isra Mikraj yang dilakukannya, bukanlah fiksi. Cerita itu bukan lahir dari imajinasi Muhammad, atau daya khayalinya yang kemudian dengan lancar secara verbal diceritakannya pada orang-orang, tapi memang dengan keyakinan muslim, itu benar-benar terjadi, sebagaimana kitab suci menceritakannya.

Isra Mikraj menguji iman setiap muslim, itu fantasi Muhammadkah, sehingga bisa dilabeli cerita fiksi, atau itu benar-benar terjadi dan nyata sehingga dengan sendirinya akan geram jika tetap saja ada yang getol menyebut yang tercantum di kitab suci itu fiksi?

Selamat memperingati hari Isra Mikraj 27 Rajab, selamat merayakan keimanan. 

Ismail Amin

Kepala Departemen Kajian Strategis dan Intelektual IPI Iran 2018-2019


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Quds cartoon 2018
We are All Zakzaky