Muharram, antara Cinta dan Kebencian

Muharram, antara Cinta dan Kebencian

Akhirnya, jika Anda belum bisa mencintai kesyahidan Imam Husain sebagaimana kecintaan Kaum Syiah terhadapnya, setidaknya jangan meluapkan kebencian dengan fitnah yang membabi buta.

Apakah cinta dan benci seperti Yin dan Yang yang saling melengkapi? Atau ia hanyalah warna-warni kehidupan saja, sebagaimana pelangi?. Ataukah cinta dan benci seperti energi Quantum yang darinya segala hal menjadi potensial untuk terjadi. Sebagaimana 'energi Cinta' bisa merubah banyak hal bahkan segalanya, kebencian berpeluang melahirkan hal serupa. 

Memasuki Bulan Muharram, mulai bermunculan kembali pengajian-pengajian yang berisikan seruan untuk membenci dan memusuhi Syiah. Salah satunya dari pamflet yang beredar di media sosial, diadakan Tabligh Akbar 1 Muharram 1440 H di kota Makassar dengan tema, "Kaum Syiah Menentang Allah". Saya teringat ritual-ritual di Kampus UNM Parang Tambung Makassar sekitar tahun 2000-an, perang Panflet dan tulisan-tulisan antara mahasiswa yang meninggikan kecintaan pada Keluarga Nabi dengan jalan merawat ingatan atas kejadian Asyura di Karbala, dan mereka yang secara tersirat hendak memadamkan cahaya ingatan tersebut, dengan melabeli, bid'ah dan sesat, bahkan dengan cara menghalalkan segala upaya. Dari merobek panflet, melarang membaca buku, termasuk mengkaji sejarah kenabian, yang tidak sejalan dengan versi yang mereka yakini. 

Kelompok pertama (yang hendak meninggikan kecintaan pada Ahlulbait, tentu dengan caranya masing-masing)  biasanya rutin mengikuti kajian-kajian Filsafat, Sejarah, Pemikiran-pemikiran Kontemporer, hingga kajian-kajian Kosmologi, sosial budaya dan lain-lain. Kelompok ini hendak mengamalkan pepatah arab "tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina", atau tuntulah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat. 

Kelompok kedua yang sering muncul dengan wajah dan watak hitam putih. Mereka lebih akrab dengan kajian-kajian tekstual, seperti hafalan hadist, fiqh, dan umumnya mereka tidak menyukai (bahkan mengharamkan) Logika Filsafat dan pemikiran kontemporer.  Kelompok kedua ini, paling mudah menyesatkan, membidahkan, dan me"neraka"kan orang lain. Mereka umumnya aktif di kelompok-kelompok studi 'islam' di kampus. Pilihannya ini patut diapresiasi, karena ketakutannya tergelincir pada pemikiran yang menjauhkannya dari jamaahnya. Mereka lebih suka main aman, kata pengamat politik dan pengamat bola.

Kegenitan Beragama

Saya menyebut mereka yang melakukan acara memperingati Asyura dengan cara-cara 'memfitnah' dan 'persekusi' kelompok agama lain adalah sejenis 'Kegenitan Beragama'. Mereka sangat antusias melakukan pengajian, tabligh akbar, mobilisasi massa mencegah perayaan Asyura oleh Kelompok yang 'tidak disukainya", sebut saja Syiah. Sebagaimana yang kita bisa lihat pada flyer yang mereka sebar. Dan tunggu saja, medsos akan banjir publikasi horor, tentang kesesatan, ahli bidah, dan mungkin sejenis mashokisme.

Kegenitan mereka yang berlebihan itulah yang sebenarnya merupakan kampanye gratis bagi kaum Syiah, meskipun dengan cara-cara bejat 'Black Campaign" atau lebih tepatnya "character assasination", publik yang awalnya tidak tahu menahu mengenai Syiah sama sekali, akhirnya menjadi penasaran dan mencari tahu dari orang-orang Syiah sendiri, mengenai apa yang mereka yakini dan amalkan.  

Padahal akan lebih indah dan berpahala barangkali mereka mengadakan Tabligh Akbar sembari menebar hikmah-hikmah di Bulan Karbala, atau pelajaran-pelajaran penting dari kasus Asyura di Karbala. Dan akan lebih baik jika berlomba-lomba menebar hikmah dan kebijaksanaan, daripada menebar teror "Syiah Melawan Allah". Bagaimana bisa  Syiah melawan Allah, sementara melawan massa yang mempersekusinya saja, kaum Syiah lebih memilih mengalah. 

Masih segar dalam ingatan kita, tahun lalu, Koran Amanah (koran lokal yang terbit di Sulawesi Selatan) mengatasnamakan sebanyak-banyaknya ormas untuk mencegah majelis Asyura. Sebuah majelis yang hanya disajikan melalui pagelaran seni budaya dan doa bersama seraya mengenang dan mengambil hikmah dari peristiwa Karbala ribuan tahun silam, namun dibubarkan dengan alasan sebagai kedok menyebarkan ajaran sesat. Panitia kemudian memilih menghentikan acara demi menjaga rasa aman warga kota Makassar. Bahkan pihak Hotel dan Kepolisian pun, tak mampu menjaga marwah Kebebasan Beragama di Republik ini. Panitia dan mereka yang sempat hadir hanya bisa berkata, "Sabar". "Sabar itu lebih pahit daripada racun". kata Imam Ali kw.

Kini, setelah funding koran Amanah (Abu Tours Corp) gulung tikar karena tidak amanah menjaga uang jamaah, kira-kira koran dan saluran apalagi yang akan mereka manfaatkan. Akankah mereka ke DPRD lagi, KAPOLDA lagi, atau ke Tuhannya (versi mereka) mengadu agar perayaan doa Asyura dibatalkan di Makassar dan seantero nusantara. Entahlah, wait and see sajalah.

Muharram: Merawat Ingatan

1 Muharram, diawali dengan tabligh akbar yang horor, "Syiah Melawan Allah".  Muharram, sebagai salah satu dari bulan-bulan suci dalam Islam, yang didalamnya diharamkan untuk berperang, malah mereka awali dengan kebencian dan fitnah. Di laman-laman website mereka dipenuhi dengan muatan hatespeech kepada Syiah, mulai dari fitnah Syiah berhaji ke Karbala, Syiah menuhankan Ali, Syiah Alqurannya beda dan lain-lain. Dan sayangnya, tidak sedikit yang hendak mengenal Syiah malah menjadikan situs dan tulisan-tulisan mereka yang membenci dan memusuhi Syiah sebagai referensi. Mengapa tidak mempelajarinya dari orang Syiah sendiri mengenai apa yang mereka yakini?. 

Peristiwa Asyura di Karbala terjadi sekitar 60 Hijriah ribuan tahun lalu, siapa yang paling pantas menyandang predikat paling berkualifikasi menafsir atas kejadian yang menimpa cucu Rasulullah yang dicintainya tersebut? penjelasan dari lingkaran keluarga Nabi atau sahabat? Siapa yang bisa membaca semua riwayat yang membentang dalam puluhan dan ratusan tahun yang tersebar dalam ribuan kitab? Sangat tidak elegan jika serta merta hanya karena belum pernah didengar sebelumnya, lantas dikatakan tidak ada hadistnya, tidak ada riwayatnya. Apakah semua semua riwayat berkenaan dengan tragedi Asyura telah dibaca sebelumnya?. 

Bagi penganut Syiah mengenang kesedihan peristiwa Asyura di Karbala adalah salah satu upaya merawat ingatan dan kecintaan kepada Keluarga Nabi. Ia hanyalah sebatas media, sebagaimana para pembenci acara Asyura memanfaatkan TV dan TOA untuk menyampaikan ceramah. Bukankah Imam Husain adalah cucunda Rasulullah yang paling beliau cintai, dalam banyak riwayat diceritakan, Rasulullah saw sering menciumi cucunya, menggendongnya bahkan saat shalat, dan banyak lagi keutamaan-keutamaan Al Husain.

Akhirnya, jika Anda belum bisa mencintai kesyahidan Imam Husain sebagaimana kecintaan Kaum Syiah terhadapnya, setidaknya jangan meluapkan kebencian dengan fitnah yang membabi buta. Pelangi sejatinya adalah warna putih, tapi yang nampak pada padangan kita adalah warna-warni, sudikah kita belajar pada pelangi yang indah itu.

Allahumma Shalli ala Muhammad wa Aali Muhammad.

Selamat datang Muharram, selamat datang Bulan Duka Cita dan Cinta.

[Syamsu Alam, Pecinta Ahlulbait di Makassar]


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mourining of Imam Hossein
haj 2018
We are All Zakzaky