Mengenal Peringatan Pekan Kesucian dan Hijab Perempuan di Iran, Sejarah dan Latar Belakangnya

  • News Code : 842173
  • Source : ABNA
Berikut ini catatan singkat dari redaksi ABNA mengenai latar belakang ditetapkannya 21 Tir sebagai hari yang mengawali peringatan pekan Kesucian dan Hijab di Iran.

Setiap tanggal 21 Tir setiap tahunnya, rakyat Iran memperingati Pekan Kesucian dan Hijab (هفته عفاف و حجاب) yang diperingati dengan melakukan pawai dijalan-jalan sembari mengkampanyekan penggunaan hijab bagi kaum perempuan. Berikut ini catatan singkat dari redaksi ABNA mengenai latar belakang ditetapkannya 21 Tir sebagai hari yang mengawali peringatan pekan Kesucian dan Hijab di Iran. 

Sewaktu Reza Khan memegang puncak kekuasaan di Iran, ia menunjukkan sikap permusuhan dan kebenciannya kepada Islam secara terang-terangan. Dalam setiap pidato-pidatonya ia kerap kali melontarkan ketidak sukaannya pada ulama dan penerapan aturan Islam seperti penggunaan hijab dan upacara-upacara keagamaan. Sampai pada puncaknya ia mengeluarkan kebijakan pelarangan penggunaan jilbab dan cadur (pakaian hijab tradisional Iran) dan menyerukan untuk berpakaian gaya pakaian barat yang dipercayanya sebagai simbol kemajuan dan modernitas. Lewat media-media pemerintah, Reza Khan menunjukkan pakaian  jilbab dan ruhaniawan adalah mode pakaian ketinggalan zaman dan sudah semestinya ditinggalkan. Ia bahkan mewajibkan kepada semua laki-laki dewasa untuk mengenakan topi ala Barat. 

Ingin memajukan Iran, Reza Khan tetapkan aturan pelarangan hijab dan wajib mengenakan pakaian ala Barat

Untuk mencegah timbulnya protes dari kalangan ulama dan santri, penetapan penggunaan topi ala Barat  (chapeau)  dikecualikan untuk ulama dan santri, dan mereka diperbolehkan mengenakan amamah (surban khas ulama dan pelajar agama Iran). Hanya saja, mereka yang mengenakan amamah kerap kali mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari aparat rezim Reza Khan, termasuk jika yang mengenakan amamah berada di ruang-ruang publik. 

Pada awal bulan Khurdad 1314 HS (tahun 1935) secara resmi dikeluarkan aturan wajib menggunakan chapeau bagi laki-laki dan tidak diperkenankan menggunakan topi tradisional Iran, termasuk pelarangan penggunakan cadur bagi kaum perempuan.

Mahasiswi Iran di Universitas Tehran sebelum Revolusi Iran 1979

Dengan diterapkannya pelarangan hijab, maka berjamuranlah toko-tokoh pakaian yang menyediakan pakaian-pakaian terbuka ala barat, alat-alat dan bahan kosmetika termasuk menjamurnya penerbitan majalah-majalah yang mengekspos secara terbuka anggota tubuh kaum perempuan. Merebaknya bisnis fashion, alat kosmetika dan berbagai pernik perhiasan yang merupakan produk-produk impor menjadikan terjadinya goncangan besar dalam perekonomian dalam negeri Iran. Sebelumnya, ketika belum ditetapkan peraturan penggunaan pakaian ala barat, rakyat Iran mengenakan pakaian tradisional mereka yang diproduksi sendiri, namun dengan adanya aturan laki-laki dan perempuan harus berstyle gaya barat, maka masuklah produk-produk pakaian asing ke dalam Iran. Hal tersebut mematikan industri-industri kain lokal yang tidak mampu bersaing dengan produk-produk mode dari Paris, London dan Newyork. 

Yang pertama kali menentang secara terbuka aturan tersebut adalah warga kota Shiraz dibawah komando Sayid Hasam al-Din Fali yang mengumpulkan warga di Masjid Wakil di kota Shiraz. Lewat ceramahnya yang berapi-api ia menegaskan menolak peraturan tersebut yang dinilainya sebagai bentuk penghinaan pada Islam dan bangsa Iran. Akikbat ceramahnya tersebut, Sayid Hasam al-Din ditangkap dan dijebloskan ke penjara. 

Berita tertangkapnya ulama Shiraz tersebut sampai ke telinga ulama-ulama di Qom, Masyhad dan Tabriz. Dua ulama marja taklid di Tabriz yaitu Ayatullah Sayid Abu al-Hasan Anggaji dan Ayatullah Agha Mirza Shadiq mengeluarkan kecaman keras dan menolak aturan pengenaan chapeau dan pelarangan hijab. Dari Tehran, keluar perintah penangkapan dan mengasingkan kedua ulama tersebut keluar negeri. Sementara di Masyhad ulama-ulama mengadakan pertemuan, dan berkesimpulan menolak aturan rezim yang memerintahkan pakaian tradisional Iran untuk ditinggalkan. Mereka menyebut, aturan tersebut sebagai penjajahan barat atas bangsa Iran. Pakaian tradisional diyakini sebagai simbol negara dan bangsa, yang jika itu ditinggalkan dan dihinakan sama saja memposisikan bangsa dibawah derajat bangsa lain. 

Ulama-ulama Masyhad yang menentang pelarangan hijab oleh rezim Syah

Ribuan warga Masyhad di bawah komando ulama-ulama setempat mengadakan aksi unjuk rasa di Masjid Goharshad, bagian selatan Haram Imam Ridha as. Komunitas ulama Masyhad mengirimkan telegraf ke Syah Reza Khan berisi penolakan untuk taat pada aturan penggunaan pakaian ala Barat yang ditanda tangani diantaranya oleh Syaikh Mahdi Wa'idzh Khurasani dan Syaikh Abbas Ali Muhaqqiq. 

Penyerangan ke Masjid Goharshad

Pada pagi hari 20 Tir 1314 HS (11 Juli 1935), Reza Khan mengeluarkan perintah langsung agar membubarkan massa yang berkumpul di Masjid Goharshad. Massa yang berkumpul di masjid menolak untuk membubarkan diri, sampai kemudian aparat keamanan memborbardir jamaah yang berada di masjid dengan senjata api yang menyebabkan, ratusan warga bersimbah darah dan meninggal dunia. Kebrutalan aparat tersebut dibalas oleh jamaah dengan menggunakan lontaran batu, kayu dan besi. Aparat keamanan tidak mampu membubarkan aksi tersebut pada hari pertama. Keesokan harinya sabtu 21 Tir 1314 HS dibawah komando ulama, massa berkumpul jauh lebih banyak dan tidak hanya melontarkan perlawanan atas kebijakan anti Hijab Syah namun menuntut kemunduran Syah. Menanggapi situasi yang bertambah kritis, Syah Reza Khan mengeluarkan perintah penyerangan total dan menangkapi ulama-ulama yang menjadi dalang aksi protes tersebut hidup atau mati.

Pada pertengahan malam, masjid yang masih tetap dipadati jamaah, diserang dari empat arah oleh ratusan aparat dengan tembakan bertubi-tubi. Serangan tersebut merenggut nyawa seribuan lebih jamaah. Dari serangan tersebut ditangkap 30 ulama dan santri yang dipaksa menandatangani pernyataan tunduk pada kekuasaan Syah Reza Khan. 

Pembantaian umat Islam di dalam masjid Goharshad dan tidak jauh dari Haram Imam Ridha as memicu gelombang aksi rakyat Iran yang sangat menghormati masjid dan Haram Imam Ridha as. Menumpahkan darah di dalam kompleks suci tersebut dinilai sebagai peghinaan pada Islam yang tidak bisa ditolerir. Imam Khomeini mengeluarkan pernyataan keras mengutuk terjadinya insiden berdarah tersebut. Insiden berdarah di Masjid Goharshad mengawali aksi-aksi protes rakyat Iran selanjutnya, yang akhirnya pada tahun 1979 kekuasan tirani Dinasti Pahlevi berhasil ambruk. Imam Khomeini rahimahullah, pasca terbentuknya Republik Islam Iran menetapkan hari insiden Masjid Goharshad (21 Tir) sebagai hari Kesucian dan Hijab Nasional. Pada perkembangan selanjutnya 21 Tir ditetapkan sebagai hari pertama Pekan Kesucian dan Hijab  yang diperingati secara nasional melalui  kampanye mengenakan hijab dan mengenang tragedi berdarah di masjid Goharshad yang dipicu oleh aksi protes atas pelarangan penggunaan hijab oleh rezim Syah Reza Khan. 


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram