Mengapa Mereka Membenci Patung?

  • News Code : 847648
  • Source : FB Dina Sulaeman
Brief

Pertanyaan, mengapa para teroris itu benci sekali pada segala sesuatu yang kuno? Mungkin jawabannya sangat terkait dengan kata-kata Milan Kundera ini, “Langkah pertama memusnahkan suatu bangsa adalah dengan menghapus memorinya.”

Kasus ‘penolakan’ terhadap patung-patung yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia, menurut saya, adalah sebuah alarm tentang menguatnya sebuah ideologi yang mengerikan, di tengah masyarakat kita. Mungkin baru alarm, baru gejala.

Orang bisa saja mengabaikan dan berkata, “Ah itu sih segelintir orang ekstrim saja!” Tapi kalau dibiarkan, dan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas masalah ini (misalnya Dirjen Kebudayaan) tidak mengambil tindakan yang signifikan, dampaknya bisa mengerikan. Hal ini dapat kita pelajari dari fenomena di Timur Tengah.

Pada Desember 2013, Robert Fisk, jurnalis dari The Guardian melaporkan bahwa Al Qaida Suriah (Jabhah Al Nusra) telah menghancurkan situs-situs bersejarah. Patung penyair Abu Tammam Habib ibn Aws di Daraa diledakkan, patung penyair al-Ma’arri, dipenggal kepalanya. Patung Harun Al Rasyid di Raqqa pun tak luput dari ‘pembantaian’ mereka. Makam Hujr ibn Adi (salah satu sahabat Rasulullah SAW) di pinggiran Damaskus dibongkar. Sebatang pohon tua berusia 150 tahun di kota Atmeh pun menjadi korban: ditebang habis. Seorang "jihadis" mengatakan kepada wartawan Perancis bahwa pohon itu ditebang karena sudah jadi sesembahan warga. Jadi, inilah “jihad” mereka: menggorok leher orang-orang ‘kafir’ Suriah, membasmi patung, makam, dan pohon.

Lalu Fisk menulis, “Tetapi, bukankah ini cerita lama? Bukankah dulu Taliban juga menghancurkan patung Buddha di Bamiyan, sebagaimana rezim Saud membongkar bangunan-bangunan kuno di Mekah; seperti juga para ‘Islamis’ yang menghancurkan makam-makam di Pakistan? Belum lagi bila kita sebut penghancuran di Timbuktu.”

Yang dimaksud ‘penghancuran di Timbuktu’ adalah penghancuran naskah-naskah kuno. Kota Timbuktu terletak di Mali, Afrika utara, dan memiliki sejarah peradaban yang sangat panjang. Dulu, Kerajaan Mali sangat kaya, berlimpah emas, dan berperadaban.

Jonathan Jones dari The Guardian menulis bahwa orang Timbuktu menulis sendiri kitab-kitab sejarah dan hukum, serta menyimpan dengan baik naskah-naskah puisi dan prosa karya orang-orang Afrika Utara. Tapi, ketika Eropa menjajah Afrika, termasuk Timbuktu, pada abad ke-19, mereka berusaha menggambarkan bahwa Afrika sebagai benua terbelakang dan tak mengenal aksara. Koleksi manuskrip di Timbuktu membuktikan kisah sebaliknya. Di kota ini, selain perpustakaan-perpustakaan yang resmi dikelola pemerintah (dan dibantu oleh UNICEF), juga ada sekitar 80 perpustakaan pribadi yang menyimpan naskah-naskah kuno.

Pada awal tahun 2013, Al Qaida membakar perpustakaan-perpustakaan di Timbuktu menghancurkan jutaan naskah kuno Islam yang tak ternilai harganya. Mereka juga menghancurkan 300 makam para sufi di kota itu. Sebelumnya, Masjid Sidi Yahya yang dibangun pada abad ke-14, salah satu tujuan wisata paling terkenal di Timbuktu, pun tak luput dari kebengisan mereka. Milisi Al Qaida datang ke masjid itu membawa kapak, lalu membobol masjid sambil berteriak-teriak Allahu Akbar. Beberapa orang yang menyaksikan kejadian ini pun menangis.

Januari 2014, teroris juga menghancurkan sebuah perpustakaan kuno di Lebanon. Perpustakaan itu dimiliki oleh sebuah gereja ortodoks dan 2/3 dari 80.000 buku dan manuskrip kuno di dalamnya hangus dibakar. Februari 2015, ISIS membakar 8000 manuskrip kuno di perpustakaan Mosul.

Pertanyaan, mengapa para teroris itu benci sekali pada segala sesuatu yang kuno? Mungkin jawabannya sangat terkait dengan kata-kata Milan Kundera ini, “Langkah pertama memusnahkan suatu bangsa adalah dengan menghapus memorinya.”

Jangan lupa, praktik perampokan naskah kuno juga dilakukan oleh Israel terhadap bangsa Palestina. Bedanya, Israel menyimpannya, bukan dibakar. Belanda dulu saat menjajah Nusantara juga mengangkuti naskah-naskah kuno kita ke Belanda sehingga kini ilmuwan kita kalau mau meneliti sejarah Indonesia perlu jauh-jauh ke perpustakaan Leiden. Naskah-naskah kuno itu membuktikan bahwa sebenarnya bangsa Indonesia dulu berperadaban tinggi, bukan “bangsa primitif yang diberadabkan oleh Eropa”. Bahkan korespondensi raja-raja Nusantara dengan Inggris dulu menggunakan bahasa Melayu (orang Inggrisnya yang musti repot belajar bahasa Melayu). Sekarang? Kalau kita tak mampu bahasa Inggris, woy, betapa kita akan diolok-olok, bahkan oleh sesama orang Indonesia.

Kesesuaian perilaku Al Qaida (dan ISIS, Al Nusra, dan sejenisnya) dengan perilaku para penjajah (Eropa dan Israel), tentu menarik untuk jadi bahan kajian selanjutnya.

Semoga tulisan singkat ini bisa memicu kewaspadaan kita bersama. Awalnya mereka mungkin ‘sekedar’ merecoki patung. Tapi bila dibiarkan, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.

[Dina Sulaeman]


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram