Masjid al-Aqsa, Target Konspirasi Israel dan Pengkhianatan Al Saud

  • News Code : 842590
  • Source : ABNA
Brief

Ketika konspirasi rezim Zionis Israel memiliki dimensi luas dalam beberapa hari terakhir ini, muncul berita tentang adanya pihak-pihak yang menciptakan kondisi bagi dominasi penuh Israel terhadap Masjid al-Aqsa dengan cara mencegah rakyat Palestina dari segala bentuk perlawanan terhadap hegemoni ini.

Ahmad bin Said al-Qarni, seorang Mufti Arab Saudi kepada warga Palestina dan umat Islam mengatakan, "Biarkan  Masjid al-Aqsa untuk Yahudi!" Ia juga mengakui bahwa negara-negara Arab tidak akan mengirim pasukan untuk membebaskan al-Quds. Menurutnya, kematian dalam membela Masjid al-Aqsa juga bukan mati Syahid dan pembelaan seperti itu hanya sia-sia saja.

Apa yang disebut sebagai fatwa para pemuka agama Al Saud untuk menciptakan frustasi di kalangan rakyat Palestina dan umat Islam dunia dalam mendukung Masjid al-Aqsa dilontarkan ketika penutupan pintu-pintu gerbang Masjid al-Aqsa oleh rezim Zionis Israel baru-baru ini menuai protes dan kecaman luas dari opini publik dunia Islam.

Penutupan pintu-pintu Masjid al-Aqsa bagi para jamaah Palestina, perusakan tempat suci ini dan pembangunan simbol-simbol Yahudi di dalam Masjid al-Aqsa merupakan upaya rezim Zionis untuk Yahudisasi Kiblat Pertama Umat Islam ini.

Khalil al-Tafakji, pakar Palestina untuk uusan al-Quds mengatakan, para pejabat Zionis sedang berusaha untuk mewujudkan tujuan-tujuan strategis dan jangka panjangnya untuk membentuk pemerintahan Yahudi yang ber-ibukota al-Quds.

Menurutnya, Tel Aviv memiliki tujuan politis atas penutupan pintu-pintu Masjid al-Aqsa. Ia mengatakan, mereka sedang membangun sinagog di Bab al-Rahmah di Masjid al-Aqsa.

Khalil al-Tafakji lebih lanjut menyingung posisi negara-negara Arab terhadap penutupan Masjid al-Aqsa. Ia menuturkan, Israel memanfaatkan konflik di antara negara-negara Arab dan berusaha mengubah kondisi al-Quds dengan cara memanfaatkan penegasan negara-negara Arab untuk membentuk aliansi secara terbuka dan rahasia dengan Tel Aviv guna melindungi kekuasaan mereka. Meski demikian, lanjutnya, Israel akan mengubah kondisi al-Quds ketika semua pemimpin Arab dari timur hingga barat terguling.

Sementara itu, Ahmida al-Nayfar, seorang cendekiawan Muslim Tunisia mengatakan, "Kita sedang menghadapi perubahan berbahaya di Masjid al-Aqsa. Israel ingin mendominasi Masjid al-Aqsa dengan memanfaatkan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Upaya ini dilakukan meski mereka mengetahui tentang nilai dan posisi penting budaya, sejarah dan spiritual tempat suci ini di antara umat Islam."

Al-Nayfar menambahkan, sayangnya, tindakan berbahaya yang dilakukan oleh para penjajah di Masjid al-Aqsa dibarengi dengan sikap lunak yang ditunjukkan oleh negara-negara Arab koalisi anti-tuntutan-tuntutan rakyat Arab.

Langkah Arab Saudi yang mengabaikan hak-hak rakyat Palestina dan ketidakpeduliannya atas nasib al-Quds –sebagai Kiblat Pertama Umat Islam yang memiliki posisi yang sangat penting bagi mereka– diambil ketika Al Saud mengklaim dirinya sebagai "pelayan dan pelindung bagi kepentingan umat Islam."

Arab Saudi dalam kebijakannya justru membarengi konspirasi Barat dan rezim Zionis untuk memperkuat posisi penjajahan rezim ini di Palestina termasuk al-Quds dan melanggar hak-hak rakyat Palestina melalui Inisiatif Perdamaian Arab.

Dalam kerangka inisiatif tersebut, para pejabat Al Saud tidak pernah melontarkan suara protes apapun terhadap rezim Zionis yang berusaha menguasai al-Quds. Rakyat Arab Saudi yang berpartisipasi dalam Hari Quds Sedunia tahun ini justru ditumpas oleh Al Saud, di mana tindakan ini menunjukkan langkah rezim ini yang selaras dengan kepentingan Israel.

Kapasitas Arab Saudi sebagai negara Muslim, alih-alih memberikan pelayanan, pembelaan dan perkembangan bagi umat Islam, namun kebijakannya justru selaras dengan musuh utama umat Islam; yaitu rezim Zionis. Tindakan ini merupakan bentuk pengkhianatan nyata terhadap Kaum Muslimin.

Kelanjutan perjuangan rakyat Palestina dan operasi mati Syahid mereka baru-baru ini menunjukkan bahwa Zionisme dan Wahhabisme dengan berbagai triknya tidak mampu mencegah bangsa Palestina dan umat Islam untuk mengejar cita-cita luhur mereka dan untuk menindaklanjuti isu-isu penting dunia Islam.

Muhammed Mustafa Shahin, seorang analis Mesir menulis, operasi mati Syahid warga Palestina di Baitul Maqdis menegaskan pentingnya kemenangan kebenaran dan menunjukkan bahwa perlawanan dan jihad merupakan cara terbaik untuk memperoleh kembali hak-hak yang dirampas oleh Israel.

Ia menambahkan, operasi mati syahid di Baitul Maqdis pada Jumat, 14 Juli 2017 membuktikan bahwa meskipun ada kekerasan rezim Zionis dan para pendukungnya, namun Intifada al-Quds tetap berlanjut, dan api perlawanan rakyat Palestina tidak akan pernah padam di dada mereka, dan bangsa Palestina akan melanjutkan Intifada hingga terbebasnya jengkal terakhir dari tanah Palestina.

Sumber: http://parstoday.com/


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mourining of Imam Hossein
Pesan Haji 2017 Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei
پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram