Filosofi Bershalawat

  • News Code : 830314
  • Source : muhsinlabib.com
Brief

Shalawat kepada insan sempurna dan insan-insan sempurna yang dibawahnya bukan sekadar suara menguap tapi deklarasi konektivitas eksistensial.

Shalawat semula adalah bentuk plural dari shalat. Dalam bahasa Indonesia shalat dimaknai berbeda shalawat. Ia adalah salah 1 zikir. Secara populer ia didefinisikan sebagai doa untuk Nabi Muhammad. Ia wajib diucapkan dalam shalat dan dianjurkan diucapkan di luar shalat. Shalat dapat dibagi 3; ritual, verbal dan eksistensial. Shalat sebagai ritus adalah ibadah yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Shalat sebagai zikir adalah ucapan shalawat. Sedangkan shalat secara eksistensial adalah yang akan dijelaskan dalam uraian twit-twit, sbb:

Shalat memuat 2 huruf dasar ص dan ل yang bermakna sambungan seperti silaturahmi (صلة الرحم). Itu berarti shalat adalah koneksi. Hukum kesenyawaan menetapkan, sesuatu yang suci tak bersenyawa dengan tak suci. Tidak ada koneksi langsung kita yang maha dekil dengan Dia yang Mahasuci.

Hubungan langsung antara 2 entitas yang berbeda diametrikal meniscayakan paradoks. Hukum avinitas ini juga berlaku dalam fisika. Filosof-filosof dari Socrates, Plato dan Aristoteles lalu Kindi, Farabi dan Ibn Sina sampai Suhrawardi dan Sadaria berusaha menyelesaikan isu koneksi ini. Mistikus-mistikus seperti Ibn Arabi, Hallaj, Bustami, Rumi hingga Khomeini mengkonfirmasi gradasi tajalli untuk menyelesaikan isu koneksi ini.

Hukum relativitas juga menetapkan keniscayaan jarak dan relasi antar entitas-entitas Karena jarak-jarak itulah media diperlukan. Media berposisi sebagai konektor itu harus memuat dua sisi yang memungkinkannya berhubungan secara bersamaan dengan entitas yang berbeda itu.

Ia haruslah sesuatu yang brbeda dengan 2 entitas yang dihubungkannya. Andai sama, ia bukan konektor. Karena bukan konektor, ia memerlukan konektor juga. Konektor pasti bukan Tuhan. Andai dia Tuhan, ia yang Mutlak dan suci tak berkoneksi dengan lainNya dengan yang tak suci dan relatif.

Konektor haruslah entitas yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan yang mutlak dan yang nisbi. Ia punya sisi kemutlakan dan kenisbian. Bila tak menghimpun 2 arus kemutlakan dan kenisbian, ia pastilah nisbi semata. Bila nisbi semata, ia memerlukan konektor lagi dan seterusnya.

Konektor itu adalah manusia karena manusia adalah akibat paling sempurna dan menghimpun semua elemen makhluk. Ia adalah proptotipe manusia. Andai bukan manusia, ia tidak jadi konektor karena konektor haruslah lebih sempurna secara eksistensial dari yang memerlukannya, yaitu manusia.

Konektor itu haruslah manusia sempurna. Bila bukan manusia sempurna, ia tidak jadi konektor bagi manusia sederajat dengannya yang juga tak sempurna. Karena insan sempurna, ia punya sesuatu yang tak dimiliki insan-insan tak sempurna. Andai mmiliki sesuatu yang juga dimiliki insan-insan tak sempurna, ia tak sempurna.

Karena dialah insan paling sempurna, maka dialah mkhluk paling sempurna. Karena makhluk plg sempurna, dialah satu-satunya jadi konektor Yang mahasempurna. Karena dialah konektor yang mahasempurna mengkoneksikan wujudNya dengannya. Karena berkoneksi dengan mahasmpurna, ia senyawa secara eksistensial denganNya.

Karena yang mahasuci dan makhluk abstrak berkoneksi (يصلون) dengan konektor, manusia-manusia tak sempurna lainnya berkoneksi denganNya melalui dia. Manusia-manusia umum berbeda level eksistensi. Makin tinggi level eksistensimya, makin besar pula arus koneksinya dalam rute gerak transenden.

Insan-insan sempurna yang dekat dengannya adalah konektor bagi yang di bawahnya dan begitulah. Iman adalah eksistensi gradual yang terus melambung. Insan sempurna itu adalah manifestasi dan penampakan sifat dan asmaNya seperti aziz, ra’uf, rahim dan lainnya. Dia bersanding denganNya selalu. Karena suci, ia hanya berkoneksi dengan yang suci di bawahnya dan seterusnya secara gradual. Hanya manusia beriman yang diizinkan berkoneksi dengannya.

Iman adalah citra kesempurnaan eksistensial yang bertingkat-tingkat. Setiap insan berpeluang mengalami perfeksi gradual dan relatif. Shalawat kepada insan sempurna dan insan-insan sempurna yang dibawahnya bukan sekadar suara menguap tapi deklarasi konektivitas eksistensial.

[Muhsin Labib]


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram