Erdogan, antara Realitas dan Halusinasi para Pengagum

Erdogan, antara Realitas dan Halusinasi para Pengagum

Saat menjabat sebagai perdana menteri Turki, Erdogan mengumumkan bahwa wanita yang bekerja di lembaga-lembaga negara, tidak lagi dilarang mengenakan jilbab, istrinya yang berjilbabpun akhirnya bebas memasuki istana negara sejak larangan itu dicabut. Meski banyak kebijakannya mengarah pada Islamisasi Turki yang membuat kubu oposisi dari barisan nasionalis-sekuler khawatir, Erdogan tetap tidak sepakat Turki menjadi negara Islam.

oleh: Ismail Amin 

Di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan, Turki memasuki era baru. Meski tetap memiliki konstitusi sekuler warisan Mustafa Kemal Attaturk, namun oleh Erdogan, Turki saat ini  membuka ruang sebesar-besarnya pada warganya yang 99 persen muslim untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Islam dalam masyarakat, termasuk secara terbuka dan terang-terangan menampakkan simbol-simbol Islam yang sebelumnya sangat dibatasi untuk mengimbangi budaya sekuler yang terlanjur berkembang. 

Saat menjabat sebagai perdana menteri Turki, Erdogan mengumumkan bahwa wanita yang bekerja di lembaga-lembaga negara, tidak lagi dilarang mengenakan jilbab, istrinya yang berjilbabpun akhirnya bebas memasuki istana negara sejak larangan itu dicabut. Meski banyak kebijakannya mengarah pada Islamisasi Turki yang membuat kubu oposisi dari barisan nasionalis-sekuler khawatir, Erdogan tetap tidak sepakat Turki menjadi negara Islam. 

Erdogan malah menekankan bahwa sekularisme adalah gagasan yang harus dipertahankan dan perdebatan tentang masalah ini hanya mengganggu agenda negara. Dalam kunjungannya ke Kroasia tahun 2016 sebagaimana dilansir dari Tempo, Erdogan mengatakan bahwa telah sejak lama dia berusaha untuk menegakan Sekularisme di mana-mana, terutama di wilayah Timur Tengah. 

Pada kunjungan September 2011 ke Mesir, dia berbicara di hadapan pengikut Ikhwanul Muslimin di Kairo bahwa Sekularisme akan membuat negara menjadi jauh lebih aman. "Saya berharap Mesir akan mengadopsi konstitusi sekuler karena sekularisme tidak anti-agama. Jangan takut itu," katanya.

Selain di Mesir, beberapa negara mayoritas Islam lainnya sang presiden juga sempat menyinggung hal yang sama. Dikatakannya bahwa hal yang paling penting adalah untuk memastikan negara memiliki konstitusi sipil. Ia menegaskan negara sekuler bukan berarti anti agama, melainkan penerapan agama bukan menjadi urusan negara, namun negara tetap melindungi kebebasan warganya untuk menjalankan agamanya. Karenanya  menurutnya, pelarangan muslimah mengenakan jilbab justru bertentangan dengan prinsip sekularisme itu sendiri. Erdogan memastikan, meski warganya berjilbab dan secara bebas menunjukkan simbol-simbol keislaman, budaya sekuler Turki tidak akan tereduksi. 

Penerapan sekularisme di Turki versi Erdogan juga membawa 'berkah' bagi komunitas Syiah di Turki yang berjumlah 20% dari keseluruhan jumlah muslim di Turki. Untuk pertama kalinya dibawah rezim Erdogan, peringatan Asyura diperingati secara nasional, bahkan Erdogan yang saat itu menjabat Perdana Menteri turut menghadirinya. Pada momen peringatan Asyura, warga Syiah Turki mendapat kelonggaran seluas-luasnya untuk melakukan pawai di jalan-jalan utama kota-kota di Turki, terutama di kota-kota yang mayoritas berpenduduk Syiah. Di Istanbul, ada 70 masjid yang dikelola muslim Syiah, dan menjadi kota yang paling ramai memperingati Asyura.

Kepada wartawan di dalam pesawat dalam perjalanan pulang ke Turki dari safarinya ke Afrika, Jumat (29/12/2017) sebagaimana dilansir dari Liputan Islam, Erdogan menyatakan penolakannya ketika wartawan Barat menyebutnya sebagai pemimpin muslim Sunni. Sang Presiden berkata, “Persoalan harus dilihat di luar lingkup Sunni dan kepemimpinan, kami bukan orang yang membedakan Sunni dan Syiah. Agama kami bukan Sunni maupun Syiah. Agama kami satu, yaitu Islam."

“Kami mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Islam. Mereka (dunia Barat) membagi kami menjadi Syiah dan Sunnah, harus ekstra waspada agar kami tidak terjerumus ke dalam jebakan ini,” tegasnya. Menurutnya Sunni dan Syiah sama-sama Islam, dan tidak semestinya dipertentangkan.

Adanya fakta-fakta berikut: pertama, prinsip sekularisme dalam bernegara yang tetap dipegang kokoh oleh Erdogan, ia memang mencabut larangan berjilbab, namun juga tidak menyetujui negara mewajibkan wanita Turki untuk berjilbab. Kedua, ia menolak agama menguasai pemerintahan dan kekuatan politik, dibuktikan dengan bergabungnya Turki dengan Rusia dan Iran untuk  memborbardir ISIS di Suriah, di negara Erdoganpun Hizbut Tahrir dilarang dan dikategorikan sebagai organisasi teroris. Ketiga, ia memberi kebebasan dan ruang ekspresi seluas-luasanya kepada semua mazhab Islam yang ada di Turki untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Islam yang diyakini. Keempat, Erdogan keras mengupayakan persatuan Sunni-Syiah dan menyebutnya memisahkan Sunni-Syiah sebagai propaganda Barat untuk memecah belah umat Islam. Kelima, kenyataan Erdogan dekat dengan pemimpin-pemimpin Iran. 

Fakta-fakta tersebut menunjukkan, seharusnya Erdogan bukanlah tokoh yang tepat untuk menjadi panutan mereka yang berambisi menguasai pemerintahan dengan mengatasnamakan kekuatan agama dan mendirikan negara Islam. Terlebih lagi tidak tepat pula untuk mengidolakan Erdogan sebagai pemimpin muslim ideal, sambil sibuk mengumbar permusuhan dan kebencian kepada Syiah yang jelas-jelas oleh Erdogan diyakini sebagai upaya memecah belah umat Islam.

Lantas, pantaskah mengaku mengagumi dan mengidolakan Erdogan, tapi malah menginjak-injak apa yang sedang diperjuangkan sang idola?

Sebagai bonus, berikut ini foto-foto peringatan Asyura dan Arbain pada Muharram dan Safar 1440 H/2018 oleh komunitas muslim Syiah diberbagai kota besar di Turki:

Peringatan Asyura di kota Istanbul:

گزارش تصویری/ مراسم عزاداری و سینه‌زنی شیعیان استانبول در روز عاشورا

گزارش تصویری/ مراسم عزاداری و سینه‌زنی شیعیان استانبول در روز عاشورا

گزارش تصویری/ مراسم عزاداری و سینه‌زنی شیعیان استانبول در روز عاشورا

گزارش تصویری/ مراسم عزاداری و سینه‌زنی شیعیان استانبول در روز عاشورا

Peringatan Asyura di Kota Kars Turki

عکس خبری/ مراسم عزاداری روز عاشورا در شهر \

عکس خبری/ مراسم عزاداری روز عاشورا در شهر \

عکس خبری/ مراسم عزاداری روز عاشورا در شهر \

Peringatan Asyura di kota Igdir

گزارش تصویری/ همایش شیرخوارگان حسینی و عزاداری عاشورا در ایغدیر

گزارش تصویری/ همایش شیرخوارگان حسینی و عزاداری عاشورا در ایغدیر
گزارش تصویری/ همایش شیرخوارگان حسینی و عزاداری عاشورا در ایغدیر
Peringatan Arbain di kota Halkali Istanbul
گزارش تصویری/ مراسم سوگواری اربعین حسینی در هالکالی استانبول
گزارش تصویری/ مراسم سوگواری اربعین حسینی در هالکالی استانبول
گزارش تصویری/ مراسم سوگواری اربعین حسینی در هالکالی استانبولآیین های محرم و عاشورا در ترکیه(2)
Tenda Turki di rute Najaf-Karbala pada peringatan Arbain
گزارش تصویری/ موکب شیعیان ترکیه در مسیر پیاده‌روی اربعین
گزارش تصویری/ موکب شیعیان ترکیه در مسیر پیاده‌روی اربعین

گزارش تصویری/ موکب شیعیان ترکیه در مسیر پیاده‌روی اربعین

گزارش تصویری/ موکب شیعیان ترکیه در مسیر پیاده‌روی اربعین

Peringatan Asyura di kota Antalya

عکس خبری/ برگزاری دومین کنفرانس اربعین و برادری در شهر آنتالیا

عکس خبری/ برگزاری دومین کنفرانس اربعین و برادری در شهر آنتالیا
عکس خبری/ برگزاری دومین کنفرانس اربعین و برادری در شهر آنتالیا

Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

haj 2018
We are All Zakzaky