Renungan Jum'at:

Derajat Tawakal Seorang Hamba

  • News Code : 818212
  • Source : alhassanain
Brief

“Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu; aku mencari perlindungan kepada-Mu; dan aku serahkan segala urusanku kepada-Mu.”

Dan orang yang bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah akan mencukupkan keperluannya. (QS.ath-Thalaq:3)

Imam Ali berkata, “Ada beberapa derajat tawakal kepada Allah. Salah satunya adalah kau menyerahkan segala urusanmu kepada Allah, dan kau ridha dengan apapun yang dilakukan-Nya kepadamu, kau mengetahui dengan pasti bahwa ia tidak berhenti memberikan kebaikan dan nikmat-Nya kepadamu, dan kau mengetahui bahwa segala hukum atau perintah di dalamnya adalah milik-Nya. Maka bertawakallah, letakkanlah kepercayaanmu kepada Allah, serahkan kepada-Nya, dan bersandarlah kepada-Nya dalam hal itu, dan hal-hal lain.”

Tawakal secara harfiah berarti pengakuan ketakmampuan seseorang dan penyandaran pada seseorang selain dirinya. Dalam kajian tasawuf, tawakal memiliki beberapa derajat sesuai dengan maqam hamba Allah Swt. Khwajah ‘Abdullah al-Anshari dalam Manazil al-Sairin, mendefinisikan tawakal sebagai mempercayakan atau menyerahkan seluruh masalah kepada Sang Penguasa dan bersandar kepada kemampuan-Nya dalam menangani masalah-masalah itu.

Beberapa arif berkata, “Tawakal berarti menundukkan badan (seperti dalam sujud) dalam ibadah dan mengikatkan hati kepada Rububiyyah-Nya (Allah sebagai Rabb, penguasa).” Ini berarti menggunakan kekuatan-kekuatan tubuh seseorang untuk mengabdi kepada Allah Swt dan tidak turut campur dalam urusan-urusan (hati), dan menyerahkannya kepada Allah Swt.” Beberapa arif lain berkata, “Tawakal kepada Allah berarti seseorang hamba memutuskan segala pengharapan dari makhluk (dan mengikatkan hanya kepada Allah).”

Makna-makna di atas berkaitan. Namun yang perlu dikatakan di sini adalah bahwa tawakal memiliki beragam derajat sesuai dengan maqam sang hamba.


Tawakal Lisan

Pengetahuan manusia tentang Rububiyyah Allah Swt amat beragam. Sebagian orang memandang Allah Swt sebagai Pencipta esensi segala sesuatu tetapi mereka tidak mempercayai bahwa ia memiliki kekuatan yang menentukan atas segala sesuatu. Keimanan dan tauhid kelompok manusia ini, yang di dalamnya kita juga termasuk, tidak sempurna.

Kelompok manusia dengan keimanan seperti ini, dalam menyelesaikan seluruh urusan dunianya, mereka tidak bersandar kepada apapun dan hanya memperhitungkan sebab-sebab lahiriah dan faktor-faktor material saja. Jika sesekali mereka mengarahkan perhatiannya kepada Allah dan memohon sesuatu dari-Nya maka itu adalah karena taqlid saja. Atau mengharapkan sesuatu dari-Nya, karena mereka bukan saja melihat tidak adanya keburukan dalam hal itu, tetapi juga melihat kemungkinan memperoleh keuntungan darinya. Dengan demikian, ada sedikit kesan tawakal di sini, meskipun ketika mereka memandang faktor-faktor dan sebab, sebab lahiriah lebih tepat untuk suatu masalah, mereka lalu melupakan Allah Swt sepenuhnya.

Ketidakmampuan melihat Rububiyyah Allah dan Allah sebagai sebab efektif (tasharruf) dari segalanya, dan melihat sebab-sebab material sebagai independen adalah bertentangan dengan tawakal. Mereka berharap dapat mencapai derajat tawakal hanya dengan sekedar berucap “Allah Mahatinggi” atau “Aku bertawakal kepada Allah.” Namun, dalam persoalan duniawi, mereka menyatakan, “Kerja dan usaha tidak bertentangan dengan tawakal kepada Allah dan berserah diri kepada kemurahan-Nya.” Jelas ini menyembunyikan nafsu dirinya dan setan. Pengakuannya hanyalah ucapan-ucapan kosong dan gerakan-gerakan mulut tanpa makna saja.

Ini bukanlah tawakal kepada Allah Swt, baik dalam urusan dunia maupun ukhrawi. Tetapi karena mereka memandang urusan-urusan duniawi sebagai lebih penting, mereka menyandarkan dirinya pada sebab-sebab material, dan bukan kepada Allah Swt.


Tawakal Akal

Kelompok ini adalah mereka yang, setelah diyakinkan oleh akal ataupun wahyu, membenarkan pandangan bahwa Allah adalah satu-satunya pemutus perkara, sebab dari seluruh sebab, memiliki kekuasaan yang menentukan dalam keseluruhan alam wujud. Mereka mampu memberikan bukti-bukti rasional untuk membenarkan tawakal. Mereka juga meneguhkan keyakinan rasional bahwa Ia dalam Zat-nya tidaklah kikir, Cinta dan Kasih-Nya bagi hamba-hamba-Nya, Ia tidak membiarkan seorang hamba tanpa memperoleh apa yang baik bagi mereka, bahkan jika mereka sendiri tak mampu membedakan atau menentukan apa yang baik dan buruk bagi mereka.

Meskipun masuk kelompok mutawakkil (kelompok yang bertawakal) pada tingkat pengetahuan rasional, mereka belum mencapai tingkat iman. Kepercayaan mereka masih terguncang jika berhadapan dengan urusan-urusan kehidupan. Ada konflik antara akal dengan hati mereka. Akal dikuasai oleh hati yang masih mempercayai sebab-sebab material dan bukan kekuasaan dan tasharruf Allah Swt.


Tawakal Hati

Selain kedua kelompok itu, ada kelompok ketiga. Kelompok ini meyakini kekuasaan Allah Swt sampai ke relung hati mereka. Mereka inilah yang telah mencapai maqam tawakal. Tetapi orang-orang yang termasuk kelompok ini pun berbeda satu dari yang lainnya dalam hal tingkat keimanan. Tingkat tertinggi adalah rasa puas atau berkecukupan. Hati mereka tidak terpengaruh oleh segala sebab, dan terikat kepada rububiyyah Allah. Kepada-Nya mereka bersandar dan dengan-Nya mereka merasa cukup. Inilah tawakal yang dalam kata-kata para arif didefinisikan sebagai ‘melepaskan tubuh dalam ibadah kepada Allah dan mengikatkan hati kepada rububiyyah-Nya.”

Maqam tawakal, ridha, taslim, dan maqam-maqam lainnya dicapai secara bertahap. Pada mulanya, pejalan ruhani (salik) mungkin melakukan tawakal dalam beberapa urusannya dan dalam hubungannya dengan sebab-sebab yang tersembunyi dan tidak teramati. Lalu secara bertahap, tawakalnya makin meluas, dari sebab-sebab batiniah yang tersembunyi kepada sebab-sebab lahiriah yang tampak, dan dari urusan-urusan orang yang dekat dengannya. Sesuai dengan itu, disebutkan dalam hadis, “Salah satu derajat tawakal adalah berserah diri kepada Allah dalam segala urusanmu.”

Sesungguhnya, maqam ridha lebih tinggi dan bercahaya. Mutawakil mencari kebaikan dan keuntungan bagi dirinya sendiri, dan mempercayai seluruh urusannya kepada Allah Swt yang dipandangnya sebagai pemberi kebaikan. Sedangkan radhi (yang mencapai maqam ridha) adalah orang yang telah meleburkan kehendaknya dalam Kehendak Allah, dan tidak memiliki lagi kehendak dirinya sendiri. Ketika seorang salik ditanya, “Apakah kehendakmu?” Ia menjawab, “Kehendakku adalah tidak memiliki kehendak.” Yang dimaksudkannya adalah maqam ridha.

Lebih jauh, tawakal tidak tercapai kecuali setelah hadirnya salah satu penyebabnya, yaitu urusan yang untuk penyelesaiannya seorang hamba berserah diri kepada Allah Swt. Salah satu contohnya adalah tawakal Rasulullah saw dan para sahabatnya dalam menghadapi ancaman kaum musyrik ketika mereka diberitahu; Kepada mereka dikatakan,

Sesungguhnya orang-orang yang telah berkumpul untuk melawan kalian, karena itu takutlah kepada mereka. Tetapi hal ini justru meningkatkan iman mereka, dan mereka berkata, ‘Cukuplah Allah bagi kami, dan sungguh Ia adalah sebaik-baik pengatur segala urusan.’ (QS. al-Imrân:173)

Namun, seringkali tawakal adalah pendahulu dari sebab yang dirujuknya, sebagaimana tampak pada doa Rasulullah saw, “Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu; aku mencari perlindungan kepada-Mu; dan aku serahkan segala urusanku kepada-Mu.”


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram