Andai Rojali Tidak Meninggalkan Zoya...

  • News Code : 847455
  • Source : ABNA
Brief

Menurut pengakuannya di media, Rojali meminta massa bubar karena menurutnya kasus tersebut menjadi urusan polisi. Namun disinilah petaka itu terjadi, Rojali meninggalkan Zoya ditengah-tengah massa yang sedang beringas, yang banyak dari mereka tidak tahu menahu kasus sebenarnya.

Meski sudah berlalu sepekan lebih, peristiwa tragis yang menimpa Muhammad Al-Zahra alias Zoya (30) 1 Agustus lalu masih tetap menjadi perbincangan panas netizen di dunia maya. Meski pihak kepolisian menetapkan terduga kasus pencurian ampli milik Musalah al-Hidayah kecamatan Babelan kabupaten Bekasi Muhammad al-Zahra terbukti melakukan pencurian, warga netizen tetap tidak menerima. Terlebih lagi fakta-fakta yang terkuak mengenai kepribadian Zoya menambah rasa simpatik dari para netizen. 

Melalui kesaksian keluarga dan tetangga Zoya, Zoya adalah pribadi yang baik, taat ibadah dengan tidak pernah meninggalkan shalat, disela-sela pekerjaannya sebagai tukang servis ampli bekas ia juga menyempatkan diri mengajari anak-anak mengaji. Belum lagi, ternyata Zoya gemar bersedekah, termasuk menyumbang mic untuk digunakan di masjid di lingkungannya. Fakta-fakta tersebut membuat keluarga, tetangga dan netizen sulit menerima vonis, Zoya benar telah melakukan pencurian, yang dituduh dilakukannya justru setelah shalat berjamaah. 

Fakta lainnya, adanya kesaksian warga yang berada dilokasi saat Zoya diamuk massa, bahwa Zoya berkali-kali berteriak mengaku bahwa dia bukan maling. Namun bogem mentah dan tendangan meredam suara Zoya yang tidak berdaya menghadapi puluhan warga yang mengamuk. Sampai akhirnya bensin yang disiramkan ke tubuh yang penuh luka, dan nyala api yang dikobarkan, membuat pembelaan Zoya itu menjadi misteri yang sulit diungkap.

Rojali, marbot Musalah al-Hidayah yang menjadi saksi kunci dan yang pertama kali melakukan pengejaran terhadap Zoya yang diyakininya membawa ampli masjid, memberikan kesaksian, ia bersumpah tidak pernah berteriak maling, bahkan meminta baik-baik ampli masjid tersebut yang dijawab oleh Zoya dengan segera menancap gas motor dan kabur. Namun karena motornya terjatuh, Zoya akhirnya berlari dikejar oleh Rojali diikuti ratusan warga. Nasib malang menimpa Zoya, ia tertangkap dan dihakimi massa ditempat. 

Rojali mengatakan, Zoya sempat bersujud di kaki Rojali meminta maaf dan memohon ampun. Menurut pengakuannya di media, Rojali meminta massa bubar karena menurutnya kasus tersebut menjadi urusan polisi. Namun disinilah petaka itu terjadi, Rojali meninggalkan Zoya ditengah-tengah massa yang sedang beringas, yang banyak dari mereka tidak tahu menahu kasus sebenarnya, terlebih lagi jarak musallah dengan lokasi ditangkapnya Zoya terbentang sejauh 7 km. Tidak sedikit dari massa yang malah menganggap Zoya adalah begal motor yang tertangkap, sehingga amukan tidak terbendung. Puncaknya, Zoya dibakar hidup-hidup. 

Kontras dengan yang dilakukan Rojali, untuk kasus yang nyaris sama pada 29 Desember 2016, Bripka Supriadi justru melindungi pelaku pencurian dari amukan massa. Nama Bripka Supriadi sempat menjadi buah bibir di media sosial, lewat aksi heroiknya melindungi seorang pemuda yang diamuk massa karena kedapatan mencuri ayam. 

Sambil menghubungi Mapolsek Montong Gading Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk mengevakuasi korban dari amuk massa, Bripka Supriadi memeluk SH untuk melindunginya dari amarah massa. Ia merelakan dirinya mendapat hujatan dan cacian dari warga yang menyebutnya membela maling, bahkan ia sempat mendapat pukulan warga yang emosi. Sampai kemudian aparat kepolisian dari mapolsek datang untuk mengevakuasi tersangka dan membubarkan massa. 

Keluarga tersangka yang mengetahui perbuatan SH dan menyambangi Mapolsek Montong Gading bersyukur karena SH dalam kondisi sehat dan baik tanpa luka yang fatal. Mereka langsung mencari Bripka Supriadi dan mengucapkan banyak terima kasih. Jika tidak ditolong Bripka Supriadi, mereka tidak yakin nyawa SH bisa terselamatkan dari amuk massa. Puncaknya, Bripka Supriadi mendapatkan penghargaan, dan SH dibina di lembaga pemasyarakatan. 

Nasi sudah jadi bubur. Tragedi terbakarnya Zoya tidak hanya meninggalkan pilu dan kesedihan yang tidak habis bagi Zubaidah istrinya yang sedang mengandung 7 bulan dan anak laki-lakinya yang masih berusia 4 tahun. Jika kita masih bisa mengandai-andai, andai Rojali melakukan sebagaimana yang dilakukan Bripka Supriadi dengan tetap menjaga Zoya dari amuk massa sampai polisi datang, Zoya masih hidup sampai hari ini dan bisa memberikan kesaksian atas kasus yang menimpanya. Jenasah Zoya yang hangus terbakar di selokan, tidak hanya meninggalkan genangan darah namun juga kenangan yang menyakitkan, plus misteri yang sulit terpecahkan: Benarkah Zoya yang mendapat simpatik banyak orang termasuk dari pejabat, adalah pelaku kriminal?.

Semoga insiden yang menimpa almarhum Zoya adalah yang terakhir di bumi pertiwi. Islam menuntut pemeluknya, tidak hanya saleh secara ritual, namun juga saleh secara sosial.

Ismail Amin, Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan

Aksi heroik Bripka Supriadi yang menyelamatkan maling ayam dari amuk massa bisa dilihat dilink berikut: https://www.youtube.com/watch?v=bITiKxokYf0

Bripka Supriadi lindungi maling ayam dari amukan massa


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mourining of Imam Hossein
Pesan Haji 2017 Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei
پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram