Ayatullah Mujtahidi:

Pasrahkan Segalanya pada Ketetapan Ilahi

  • News Code : 847565
  • Source : ABNA
Brief

Kita tidak mengetahui hikmah dibalik pemberian Tuhan itu. Kita seharusnya paham, sebagaimana para pasien pahami, sehingga mereka tidak protes pada arahan dokter. Kitapun tidak selayaknya protes terhadap apa yang Allah putuskan. Lakukan apa yang sudah menjadi kewajiban kita, hasilnya pasrahkan pada keputusan Allah SWT. 

Menurut Kantor Berita ABNA, Almarhum Ayatullah Mujtahidi ulama besar Iran yang telah wafat, dimasa hidupnya dikenal sebagai ulama yang zuhud dan bersahaja. Majelis-majelis ilmunya dipadati banyak jama’ah. Diantara nasehatnya mengenai kesabaran dan kesyukuran, beliau pernah menyampaikan, “Analogi mengenai pembagian rezeki oleh Tuhan, sebagaimana cerita berikut. Pukul 10 pagi, dokter memasuki ruang pasien yang didalamnya terdapat 10 ranjang yang diatasnya terbaring 10 pasien dengan penyakit yang berbeda-beda. Bersama perawat, dokter mendatangi pasien satu-satu.

Dokter tersebut berkata, untuk pasien A untuk makan siangnya berikan dia nasi dan daging. Untuk pasien di sampingnya, berikan dia bubur. Untuk pasien ketiga berikan dia buah dan obat suplemen. Yang disampingnya jangan berikan makanan apa-apa, cukup beri suntikan sesuai dengan resep yang telah saya tulis. Satunya cukup diberi segelas susu saja dan begitu seterusnya sampai pasien kesepuluh. Perawat mencatat perintah dokter dengan baik untuk diserahkan kebagian konsumsi untuk menyediakan makanan pasien sesuai petunjuk dokter.

Mendengar perintah dokter tersebut, meskipun memberikan arahan yang berbeda satu sama lain, tidak ada satupun pasien yang protes. Sebab mereka percaya, dokter lebih mengetahui kondisi kesehatan mereka dan tahu jenis makanan yang layak mereka konsumsi untuk membantu proses penyembuhan mereka. Dan jika saja, saat itu ada diantara pasien yang protes, “Mengapa untuk saya hanya disediakan bubur sementara yang lain ada yang dikasih nasi lengkap dengan lauknya?” maka dokter akan paham, pasien tersebut bukan hanya sakit secara fisik namun juga secara mental.

Demikian pula semestinya kita bersikap, ketika Allah menurunkan dan membagikan rezekinya. Kalau kita protes, “Mengapa untuk dia Kau beri rumah yang besar dan mewah, sementara untuk saya, rumah yang sekedar memenuhi syarat kelayakan saja tidak Kau beri.” Posisi kita, sama dengan pasien yang bukan hanya bermasalah secara fisik namun juga kejiwaan.

Kita tidak mengetahui hikmah dibalik pemberian Tuhan itu. Kita seharusnya paham, sebagaimana para pasien pahami, sehingga mereka tidak protes pada arahan dokter. Kitapun tidak selayaknya protes terhadap apa yang Allah putuskan. Lakukan apa yang sudah menjadi kewajiban kita, hasilnya pasrahkan pada keputusan Allah SWT.” 


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Pesan Haji 2017 Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei
پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram